
Sampai di rumah sakit tempat opa dirawat, Vella langsung mencium punggung tangan Opa, diikuti oleh Alex. lalu beralih ke mami Melinda yang duduk disebelah ranjang tempat opa dirawat.
"Ravela, apa Alex memperlakukan mu dengan baik?" tanya Opa, dengan kondisi yang sudah kembali stabil.
"Iya, opa." jawab Vella tersenyum lembut.
"Syukurlah, opa senang mendengar nya."
"Opa tidak perlu memikirkan itu, karena Ravela adalah jodoh terbaik yang sudah opa siap kan untuk Alex." jawab Alex, yang tidak ingin mengecewakan sang Opa. bahkan dia merangkul Ravela menunjukkan kemesraan.
"Semoga kalian berdua bisa saling menyayangi, mencintai dan saling melengkapi." ucap opa dengan suara lirih.
Tidak lama Tim dokter masuk keruangan opa untuk memeriksa, semua bernafas lega setelah mendengar keterangan dokter. jika kondisi opa menunjukkan perkembangan yang luar biasa. setelah kepergian tim dokter, Vella duduk dikursi di sebelah opa. dia ingin membantu menyuapi opa makanan sebelum meminum obatnya.
"Terimakasih Vella, berkat kedatangan kamu. papa menghabiskan makanan nya." ucap mami Melinda tersenyum senang, mengingat kedatangan Ravela yang sudah membawa perubahan besar.
"Iya mi, aku juga sangat menyayangi opa. semoga cepat sembuh ya opa, sehingga kita bisa segera berkumpul lagi." Jawab Vella.
"Tentu Vella, cucuku yang baik hati." puji opa tersenyum menatap Vella lalu beralih pada Alex.
"Alex, kamu beruntung mendapatkan Vella. sama opa saja dia begitu perhatian. apalagi sana kamu suaminya sendiri." ucap opa.
"Iya opa."
Setelah meminum obatnya, opa tertidur. Alex mengajak Vella untuk pulang ke rumah mewah yang ditempati mama Melinda selama di Amerika, untuk segera istrahat setelah perjalanan jauh yang melelahkan.
"Apa kamu ingin makan dulu?"
"Tidak suamiku, aku belum lapar. pengen langsung tiduran."
"Oke, kita langsung ke kamar saja." ajak Alex.
__ADS_1
Mereka sama-sama merebahkan tubuh diranjang empuk, tidak lama Vella langsung tertidur pulas. Alex membantu menyelimuti Vella hingga batas dada. seraya memandangi gadis cantik dihadapannya, lalu merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya.
"Sangat cantik, tidak manja. opa benar aku beruntung mendapatkan kamu, istri ku." bisik Alex tersenyum dengan pikirannya sendiri. lalu memeluk erat Vella dari belakang seraya memejamkan matanya yang berat.
Bayangan menyedihkan dimasa silam membuat Ravela terbawa mimpi, seorang gadis kecil menangis di jalanan sepi, sambil menggigil kedinginan dengan rasa takut yang menghantui nya karena tanpa ada pencahayaan sedikit pun, hanya kilatan petir yang membantu nya berjalan mencari tempat untuk berteduh.
"Papa...aku takut ...hu....hu....." Tangis gadis kecil itu memecah kesunyian malam yang semakin larut.
"Mama...jangan tinggal kan Vella sendirian ditempat ini. takut...tidak jangan .... Vella takut Hick... Hick....."
Akex terbangun saat mendengar suara tangis sang istri, dengan mata terpejam gadis itu terus menerus menangis, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kasihan sekali kamu Ravela, perlakuan ibu angkat mu Arini ternyata memberikan trauma yang mendalam padamu." Gumam Alex sambil menguncang tubuh Ravela.
Vella masih memejamkan mata seraya terus mengigau tidak jelas.
"Astaghfirullah, badan Ravela sangat panas." timbul rasa kasihan dan panik, melihat keadaan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. refleks Alex bangkit dan langsung menghubungi dokter pribadi kerumah. untuk memeriksa kondisi fisik Ravela yang masih mengigau.
Tidak perlu waktu lama, dokter datang pemeriksa kondisi Ravela, dan memberikan suntikan dan obat minum.
"Kondisi nya sebentar lagi akan stabil, Nona ini seperti pernah mengalami trauma besar. Sehingga jika dia mendengar suara petir dan hujan yang lebat dia akan seperti ini." Terang dokter.
__ADS_1
"Apa trauma masa lalu istri ku, masih bisa untuk disembuhkan?" Alex tampak kawatir.
"Sulit, kemungkinan kecil pasien bisa melewati trauma seperti ini." Terang dokter.
Setelah dokter pergi, Alex kembali ikut berbaring disebelah Ravela yang sudah tertidur karena efek obat yang diberikan dokter barusan.
Sebelah tangan Alex mengelus-elus anak rambut istri nya.
"Istri ku, aku berjanji akan terus melindungi dan menjaga mu."
Alex tersenyum manis menatap wajah Ravela yang polos tertidur dengan damainya. tanpa sadar dia kembali ikut tertidur kembali, dengan posisi tangan masih di atas kepala Ravela mengelus-elus pelan.
Paginya Ravela terbangun, diliriknya Alex masih tertidur pulas. sebelah tangan berada di pinggangnya, layaknya dia tengah memeluk guling yang empuk dan hangat. Vella memindahkan posisi tangan Alex secara hati-hati takut dia terbangun. setelah itu, Vella bangkit mengayunkan langkah kakinya secara perlahan menuju kamar mandi. meskipun kepalanya masih berat dan sedikit pusing.
__ADS_1