
Pukulan keras yang dilayangkan Sena pada wanita hamil itu, membuat sudut bibir Ravela mengeluarkan darah segar. kedua bola matanya tidak berhenti menangis memohon belas kasih demi bayi dalam kandungannya. melihat mangsanya yang tidak berdaya, Sena tersenyum puas sambil tertawa menyeringai.
Ravela tidak kehabisan akal, dengan gerakan menyerong meskipun kedua kakinya terikat. dia menendang keras kursi yang diduduki Sena, hingga gadis itu oleng dan jatuh kelantai.
"Dasar wanita sialan, berani-beraninya kamu melawanku."
Sena langsung bangkit, menjambak rambut Ravela lalu mendorong dengan kasar, sebisa mungkin Vella berusaha melindungi perut nya saat jatuh di tanah, Ravela mundur ketika matanya melihat beling yang tajam, berusaha bergerak cepat untuk melepaskan ikatannya dengan benda tersebut.
Saat Sena maju ingin menjambak nya lagi, kaki Vella yang sudah terlepas ikatannya langsung menendang keras perut Sena, hingga terjungkal. lalu dengan cepat Vella melepas ikatan pada tangannya sendiri sebelum Sena kembali bangkit.
"Mati kamu ditangan ku, Vella."
__ADS_1
Sena semakin menggila, maju mengadang Vella dengan sebilah pisau yang tajam, tatapan matanya penuh amarah dan kebencian.
"Jangan kak, ini berbahaya."
Vella mulai ketakutan, dia mengambil apapun yang bisa dia lemparkan pada tubuh Sena yang semakin mendekati nya. tangan Vella berhasil menggapai sebuah balok lalu mengibas kan pada tubuh Sena.
Pisau yang dipegang Sena berhasil terlepas, kedua wanita ini saling memperebutkan pisau. aksi saling dorong mendorong membuat pisau yang berhasil didapatkan Vella. tanpa sengaja pisau tersebut mendarat sempurna ditubuh bagian perut Sena. wajahnya melotot menahan sakit yang teramat sangat. darah segar bercucuran, melihat hal itu Vella berteriak ketakutan.
"Vella, ma... maafkan kakak dek. pergilah dan ikuti jalan setapak di belakang gubuk ini, kamu akan menemukan jalan keluarnya, jangan pedulikan aku lagi, aku pantas mendapatkan ini semua." ucap Sena berusaha menggapai tangan Vella.
"Tidak! aku tidak bisa meninggalkanmu kak, apalagi dalam keadaan seperti ini Hick... hick."
__ADS_1
"Pergilah Vella, ini hukuman yang pantas kakak dapatkan. jika tidak kebencian ini akan terus membuat hidup kakak tersiksa selama nya, lalu kembali mencari-cari mu. kakak sudah lama mengalami gangguan mental yang kadang suka bertindak diluar akal sehat dan kendali kakak sendiri." ucap Sena menyadari kekurangan dan penyakit nya.
Vella menagis memeluk tubuh Sena yang sudah tidak bernafas lagi, tubuh Vella yang lemah tidak memungkinkan baginya untuk membawa serta tubuh sang kakak yang sudah tidak bernafas lagi. hari sudah semakin sore suara lolongan binatang hutan membuat Vella ketakutan, sehingga dia mempercepat langkah keluar dari gubuk untuk mencari rumah penduduk sekitar. berharap bisa memberikan nya pertolongan untuk menguburkan jenazah Sena.
Banyaknya persimpangan jalan setapak, membuat Vella kebingungan. rasa lelah dan haus membuatnya oleng dan tidak bisa menjaga keseimbangan nya lagi, meskipun begitu Vella tetap memaksakan diri untuk melanjutkan langkah kakinya.
"Bruuggh!!!"
Tubuh wanita cantik itu jatuh beberapa meter ke dasar jurang, hingga kepalanya terbentur pada sebuah batu besar dan mengeluarkan banyak darah, Vella terkapar pingsan seketika.
Suara jatuh mengagetkan sepasang suami-istri, yang tengah menikmati hari tua mereka dengan memancing ikan, dengan mengunakan speed boat.
__ADS_1