Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Kepergian Opa


__ADS_3

Setelah beberapa hari dinyatakan sembuh, opa sudah bisa kembali pulang kerumah. menikmati hari-hari bersama Ravela yang begitu setia merawat nya dan memberikan obat tepat waktu.


"Pagi Opa!" sapa Ravela cerita duduk di sofa sebelah opa.


"Pagi nak, mana suami mu?"


"Masih dikamar, opa."


"Kebiasaan Alex, tapi biarlah yang penting kamu selalu setia menemani opa disini."


"Tentu opa."


Ravela memijit pelan bahu opa, setelah itu membantu menyuapi sarapan dan meminumkan obatnya.


"Terimakasih nak, kamu begitu tulus dan perhatian sama opa."


"Iya, karena aku juga sangat menyayangi opa."


Melinda yang melihat keakraban Ravela dan ayahnya, ikut tersenyum senang. karena Alex sudah menemukan pendamping yang tepat.


"Ravela, temani opa bersantai sambil memancing ikan di kolam belakang." tawar Opa.


"Siap opa."


Ravela segera meminta pelayan menyiapkan peralatan pancing, untuk dibawa menuju taman belakang.


Ravela berjalan pelan sambil mendorong kursi roda opa, yang sudah terlihat lemah, dan sangat mudah sekali capek. tapi tidak mungkin bagi Vella menolak permintaan nya.


"Opa, terus sehat ya. jangan tinggalkan kami yang sangat menyayangi opa." kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Ravela.


"Harapan terbesar opa, hanya ingin melihat Alex bahagia dengan pasangannya, menjadi laki-laki yang bertanggung-jawab. sekarang opa lega karena Alex sudah mendapatkan semua itu." ucap opa menatap lurus kedepan.


"Ya, suamiku sudah menunjukkan perubahan nya opa, bahkan aku sangat bahagia menjadi istri nya." jawab Vella.


"Apa kamu juga mencintai Alex?" tanya opa tiba-tiba, yang membuat Ravela tergagap dan tersipu malu, dia mengganggukkan kepalanya pelan. sangat sulit bagi Vella untuk mengakui perasaannya, begitu juga sebaliknya dengan Alex.


Terpancar kebahagiaan dari wajah keriput sang opa, bisa menghabiskan waktu bersama Vella, dan melepaskan hobi memancing nya.


"Cepat tarik Vella." ucap opa, saat melihat tali pancingan Vella dan umpan nya terlihat dimakan ikan.


"Wah berhasil."


Mereka berdua tertawa senang, pelayan dengan sigap membantu melepaskan ikan dari pengait pancingan, dan melemparkannya kembali ke kolam.

__ADS_1


"Lari yang kencang ikan, sebelum kami menangkap mu kembali." teriak Ravela, satu jam berlalu mereka menghabiskan waktu bersama.


"Opa, sebaiknya kita kembali kerumah ya. disini udara nya sangat dingin." bujuk Ravela.


"Ya."


Kakek menjawab lemah, tiba-tiba kepala opa tertunduk, dan sudah tidak sadar kan diri. membuat semua kelimpungan dan panik.


"Alex, aku tidak tahu. tiba-tiba opa pingsan. sebelumnya baik-baik saja." adu Vella begitu Alex datang dengan wajah paniknya.


"Kamu tenang Vela, opa sudah sering seperti ini. dia seolah-olah terlihat biasa dan sangat sehat. untuk menyembunyikan sakitnya." jawab Alex yang di iyakan mami Melinda.


Setelah opa mendapatkan perawatan, Alex segera menemui ruangan dokter. untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyakit opa.


"Kondisi Tuan Jean menurun drastis, dan salah satu ginjal nya juga bermasalah. mungkin faktor usia juga merupakan salah satu penyebab nya." dokter menjelaskan pada Alex.


"Lalu bagaimana sebaiknya dokter?"


"Salah satu ginjal nya harus dioperasi." ucap dokter memberikan solusi.


"Apa tidak ada cara lain?"


"Tidak!"


***


"Alex....,, Alex cucuku...."


Jean mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari sosok cucu kesayangannya.


"Syukurlah, papa telah kembali sadar." ucap Melinda mendekat.


"Mana cucuku Alex?" Jean berucap lirih dan sangat pelan sekali.


"Alex sedang menemui dokter, sebentar aku panggil kan dulu ya, pa."


Melinda dengan langkah panjang berjalan dari ruangan itu, menemui anaknya Alex yang habis mengangkat telpon.


"Alex, opa telah sadar, sekarang dia menanyakan kamu terus, nak." adu mami tergesa-gesa, dia merasa ada pesan terakhir yang ingin disampaikan opa, meskipun dia berusaha menyingkirkan firasat buruk yang membuat nya takut kehilangan.


"Syukurlah lah mi, jika opa telah sadar."


Tanpa pikir panjang lagi Alex langsung berlari menuju kamar perawatan opa, saat hendak membuka pintu, terbersit keraguan dan kecemasan jika seandainya opa ingin menyampaikan pesan terakhir. tiba-tiba firasat buruk juga ikut menghantui perasaan Alex.

__ADS_1


"Opa!"


Alex mendekap tubuh opa yang masih terbaring lemah, rasa takut kehilangan membuat bahunya berguncang.


"Alex cucuku, jika seandainya umur opa tidak panjang lagi. maukah kamu merubah sikap dan meneruskan perusahaan kita, mencintai istri dan menjaga mami mu. memperlakukan mereka dengan baik."


"Tentu opa!" Alex tidak sanggup melihat kondisi Kakek yang bertambah lemah.


"Alex, sekarang opa bisa bernafas dengan lega dan pergi dengan tenang. setelah melihat mu bahagia dengan pasangan mu, melanjutkan hidup dengan baik. meskipun tanpa ada aku lagi diantara kalian." ucap Jean sambil menggenggam tangan cucunya.


"Jangan berbicara seperti ini, opa."


"Dimana Ravela sekarang, Opa ingin bertemu?"


"Ravela ada bersama kita opa."


Ravela dan mami Melinda yang sama-sama menagis berjalan mendekati opa.


"Opa! hick...hick.." ucap Ravela memegangi tangan sang Opa.


"Ravela cucuku."


"Melinda, Anakku."


"Ya papa, kami selalu bersamamu."


Jean menarik tangan Melinda dan Alex, dan Ravela. meletakkan di atas dadanya seraya tersenyum ikhlas, terpancar raut kebahagiaan disana.


"Sekarang, aku sudah bisa pergi dengan tenang."


Opa berkata pelan dan semangkin pelan, memejamkan matanya. hingga terdiam dengan deru nafas yang sudah terhenti. opa pergi ke alam keabadian dengan senyum keikhlasan.


Tangis semua orang-orang yang mencintai opa kembali pecah, menyaksikan sang opa kesayangan sudah diam tidak bergeming.


Papa bangun pa.....bangun..." Melinda terus menangis berharap papa kembali membuka matanya.


"Sudahlah mi, kita harus ikhlas seperti pesan opa." bujuk Alex .


Sedangkan Vella terdiam sambil menahan isakan tangis, dia sudah pernah kehilangan sosok papa yang dicintainya. sehingga membuat Vella lebih kuat dan tegar.


Tim dokter yang menangani tuan Jean sudah angkat tangan, karena tidak bisa berbuat banyak lagi. mengingat selama ini mereka mengetahui bahwa penyakit yang diderita opa cukup parah dan komplikasi dengan jantungnya.


"Maaf tuan muda Alex, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. namun yang diatas berkehendak lain, dia lebih menyayangi tuan Jean. tuan yang sabar dan ikhlas menerima." ucap salah seorang tim dokter.

__ADS_1


Melinda menarik tubuh Ravela kepelukanya, dia kembali histeris saat seorang perawat wanita menutupi seluruh tubuh opa dengan kain putih.


__ADS_2