
Matahari bersinar dengan terangnya, mengenai wajah cantik seorang wanita yang masih meringkuk dalam pelukan sang suami. mata Elisa sangat berat untuk dibuka, tapi hasrat untuk segera buang air kecil membuatnya memaksakan langkah menuju kekamar mandi.
Elisa hanya punya satu keinginan, hidup lebih baik lagi kedepannya, dengan mengubur semua kenangan buruk masa lalunya. dengan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.
***
Ditempat berbeda, Ravela terlihat resah dan gelisah dua masih memikirkan keberdaan dan kondisi Elisa. bahkan Alexander belum juga berhasil menemukan keberadaan sahabat baiknya itu.
"Elisa kamu menghilang kemana sih, haruskah aku lapor polisi sekarang." bathin Ravela, dan kembali mencoba untuk menghubungi no ponsel Elisa namun nihil hanya suara operator yang selalu terdengar.
Ravela kembali berjalan mondar-mandir, sambil menggigit jarinya, kebiasaan yang selalu dilakukan jika tengah panik ataupun sedang dilanda kecemasan. bahkan dia mengabaikan panggilan masuk diponsel nya.
Tok!tok!tok!
"Masuk!" perintah Vella.
"Nona muda, dibawah ada tamu untuk anda." ucap pelayan.
"Tamu, siapa yang berkunjung pagi-pagi begini?" bathin Vella penasaran, seiring langkah kakinya menuju ruang tamu.
"Elisa?"
"Ravela!"
__ADS_1
Mata Ravela membulat tidak percaya, melihat Elisa yang berdiri dihadapannya, dengan kondisi sehat dan segar bugar. mereka langsung berpelukan penuh kerinduan.
"Kamu menghilang kemana sih beberapa hari ini, aku sangat mengkhawatirkan mu." ucap Ravela.
"Ravela, banyak hal yang sudah terjadi beberapa hari ini..hick... hick." Elisa menagis dalam pelukan Ravela.
"Kamu menagis lah dulu, jika sudah tenang baru ceritakan padaku." Ravela menuntun langkah Elisa menuju sofa.
"Minumlah."
Elisa mengambil segelas air putih yang disodorkan Ravela, meneguknya hingga setengah gelas. menarik nafas dalam menghembuskan perlahan-lahan, hingga dia merasa tenang dan nyaman kembali.
"Apa kamu sudah merasa tenang?"
"Sekarang ceritakan padaku, kemana kamu beberapa hari ini. aku panik banget begitu mendapati rumah mu kosong dan ponsel mu juga tidak bisa dihubungi lagi."
"Ravela, aku sudah menikah."
"Apa, kamu serius?"
"Ya, aku terpaksa menikah dengan Pria yang sudah memperkosa diriku. karena ditahimku sudah tumbuh benih nya. yang sudah berusia enam Minggu." ucap Elisa menundukkan kepalanya, ekspresi yang ditujukan Elisa tidak seperti pasangan yang berbahagia saat baru menikah.
"Syukurlah Elisa, aku ikut senang mendengarnya. dia bersedia bertanggungjawab sehingga anakmu akan terlahir dengan status orang tua yang jelas. mulai sekarang belajarlah ikhlas menerima apa yang sudah menjadi garis kehidupan kita. dengan begitu kamu akan menemukan kebahagiaan sejati." ucap Ravela menarik tubuh Elisa kedalam pelukan hangatnya. dia ingin memberikan dukungan dan kekuatan pada sahabat nya itu.
__ADS_1
"Tapi aku masih belum bisa menerima sikap egois dan pemaksaannya."
"Semua butuh proses dan waktu, kita tidak tahu dengan siapa kita akan berjodoh karena semua sudah rahasia yang diatas. kamu yang sabar ya menjalani semua ini." bujuk Vella berharap Elisa bisa menemukan kebahagiaan nya setelah menikah meskipun diawali dengan kesalahan.
"Setelah bertemu dengan mu, aku lebih merasa tenang. terimakasih ya Vella sudah memberikan aku motivasi sehingga bersemangat kembali menata kehidupan ku kedepannya."
"Elisa, aku penasaran dengan sosok suamimu. sepertinya dia memiliki kesamaan sifat dan watak yang keras dengan Alexander."
"Ya Vella, mereka memang memiliki kemiripan. bahkan mereka juga bersabat."
"Apa maksudmu, tolong jelaskan padaku siapa sesungguhnya suamimu itu, Elisa." Ravela semakin penasaran.
"Dia....dia adalah Jeremi."
DEGH!!
"Jadi pria yang telah memperkosa mu itu adalah Jeremi?"
Ravela benar-benar syok karena diberi kejutan berkali-kali pagi ini, sebisa mungkin dia mengendalikan diri dan emosi nya agar tidak kembali pingsan.
"Ya Ravela, saat itu kondisinya tengah mabuk berat."
"Oh my God, aku tidak menyangka Jeremi akan serendah itu. namun aku senang karena dia pada akirnya mencari-cari dirimu dan bersedia mempertanggungjawabkan perbuatannya." ucap Vella pada akhirnya.
__ADS_1