
Setelah kondisi Elisa membaik dan diperbolehkan untuk pulang, dia harus pasrah saat Jeremi menarik tangannya memasuki mobil. Elisa tidak ingin meronta ataupun bertanya lagi kemana dia akan dibawa pria yang menurutnya sangat egois dan pemaksa.
Setelah sekian lama menempuh perjalanan, akirnya mobil memasuki sebuah gerbang utama sebuah villa yang dikelilingi puncak dengan pemandangan yang sejuk dan udara yang sangat segar, sesungguhnya Elysa sangat menyukai suasana tenang dan nyaman seperti ini, namun dia tidak ingin menunjukkan nya dihadapan Jeremi, bisa-bisa pria itu tambah besar kepala.
"Kita sudah sampai di Villa, aku harap kamu betah dan menyukai tempat ini." ucap Jeremi tersenyum lalu membuka pintu mobil untuk Elisa, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Elisa yang sengaja dia kunci rapat.
"Elisa, aku harap kamu bisa mempertimbangkan kembali tawaran ku kemaren, termasuk untuk menikah dengan ku." ulang Jeremi. Elisa masih tetap bungkam, membiarkan Jeremi berbicara sendiri. beberapa kali pria itu mengusap dada berusaha sabar menghadapi sikap dingin yang ditujukan Elisa padanya.
***
"Elisa, kenapa kamu masih belum bisa dihubungi?"
Dikamar nya, Ravela terlihat resah sambil memegangi ponsel. membuat Alex yang tengah sibuk dengan laptop dihadapannya menjadi terganggu dan pemasaran dengan apa yang tengah dipikirkan sang istri.
"Sayang, kamu kenapa kayak setrikaan bolak-balik gitu. ingat kondisi mu tengah hamil?" ucap Alex.
"Maaf, tapi aku sangat panik dan khawatir terhadap sahabat ku Elisa, dia tidak bisa dihubungi dari kemaren." ucap Vella.
__ADS_1
"Mungkin dia lagi sibuk-sibuknya, jadi ngak sempat meladeni mu." ucap Alex kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Tidak biasanya Elisa seperti ini, suamiku tolong antar kan aku kerumah Elysa sekarang, please." rengek Ravela menghiba.
"Aku lagi sibuk, sayang."
"Kalau gitu, aku pergi bareng sopir pribadimu saja ya."
"Ravela, kamu itu keras kepala ya, baiklah aku antar." Alex mengalah menutup laptopnya dan menyambar salah satu kunci mobilnya.
"Suamiku, kamu baiiik sekali.. muuuacch... muuuacch." ciuman mendarat dikedua pipi Alex sehingga dia kembali tersenyum senang. sepanjang perjalanan menuju rumah Elisa, Ravela lebih banyak melamun, memikirkan nasibnya yang menimpa sahabatnya.
"Apa Elisa diculik?"
Perkataan itu terlontar begitu saja dari bibir Ravela, saat mendapati rumah Elisa tertutup rapat. sedangkan ponselnya tidak bisa dihubungi.
"Awas kamu pemerkosa, aku akan membalas mu atas nama Elisa." umpat Ravela.
__ADS_1
"Apa maksudmu sayang."
"Suamiku, sebenarnya sahabat ku Elisa telah dilecehkan oleh bosnya. aku takut jika sekarang dia juga telah menculik Elisa untuk dijadikan budak nafsu nya, suamiku tolong temukan dan bantu sahabat ku hiks...hiks..." ucap Ravela yang tidak mampu menyembunyikan kegundahannya lagi.
"Baiklah sayang, kamu tenang dulu. nanti aku akan memerintahkan Rey dan orang-orang kepercayaan ku untuk menyelidiki semua ini, yang penting kamu fokus pada kehamilan dan jangan sampai stres." bujuk Alex menenangkan sang istri, Ravela menganggukan kepalanya namun tidak dengan pikirannya yang masih resah mengkawathir kondisi Elisa.
Sore hari yang sangat indah, matahari sudah mulai beranjak memperlihatkan warna kuning keemasannya. di villa mewah diatas perbukitan itu Elisa berdiri sambil memperhatikan riak air danau dari kejauhan, dan kesibukan para pelayan yang bekerja, termasuk menyiapkan menu makan malam untuk calon nyonya mereka yang tengah hamil muda.
"Siapa kamu, kenapa terus mengikuti ku."
"Perkenalkan aku Sarah, aku diperintahkan oleh tuan Jeremi. untuk menjadi asisten pribadi nyonya muda." jawab Grace menundukkan kepalanya.
"Aku tidak suka diikuti apalagi diperlakukan khusus, biarkan aku menikmati pemandangan sore ini seorang diri."
"Baiklah nyonya, jika perlu apa-apa panggil saja saya." ucap Sarah menjaga jarak dari Elisa, namun sesekali sudut matanya masih mengawasi pergerakan Elisa.
"Mmmmhh."
__ADS_1