
Suara Alex meninggi seakan tidak percaya, jika wanita yang sudah dianggap sebagai saudara kandung oleh istrinya itu begitu tega ingin membunuhnya.
"Sekarang cari dan tangkap perempuan itu, bawa dia hidup-hidup kehadapan ku." ucap Alex geram.
"Terlambat tuan, kami telah mengejar sampai ke rumahnya. tapi Sena sudah berhasil kabur. bahkan orang tuanya tidak tahu kemana Sena pergi. dengan membawa beberapa perhiasan dan uang tunai milik mama nya sendiri."
"Benar-benar keterlaluan, cepat kerahkan semua orang-orang kita untuk melacak keberadaan gadis itu, sebagian lagi tetap berjaga-jaga dirumahnya, aku yakin sewaktu-waktu Sena pasti akan kembali pulang jika dia sudah kehabisan uang." perintah Alex, yang hilang rasa kantuk dan lelahnya seketika.
***
Sepulang dari rumah sakit, Jeremi langsung mengajak istri untuk istrahat dikamar.
"Aku ingin mandi, tubuh ku masih gerah." Ucay Elisa menuju kamar mandi, mendengar kata mandi seketika pikiran Jeremi mulai berkelana entah kemana. dia mengikuti langkah Elisa, begitu melihat tubuh polos sang istri, Jeremi segera memeluk nya dari belakang.
"Sayang, sudah sangat lama aku berpuasa menahan hasrat kelelakian ku. bolehkan aku meminta hak ku sekarang?" bisik Jeremi dengan tangan yang sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Elisa tersenyum tipis, dia masih malu untuk mengiyakan permintaan mesum Jeremi barusan.
"Sayang kamu barusan tersenyum, apakah ini berarti kamu sudah mengizinkan aku untuk bercinta kembali dengan mu."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Jeremi langsung membungkam bibir Elisa dengan ciumannya, semakin lama semakin dalam dan menjalar kebagian leher Elisa.
__ADS_1
"Je... Jeremi!!!"
Bahasa tubuh Elisa tidak bisa dua kendalikan, bibirnya mendesah dan mulai menikmati sentuhan Jeremi yang lebih kelembutan dan gairah.
Suasana kamar mandi yang biasanya hening, mulai berisik dengan suara ******* dan percintaan mereka yang tiada habisnya. Jeremi memanfaatkan kesempatan yang sempat berpuasa lama.
Alex terbangun dari tidurnya, pria tampan itu langsung menuju kamar sang istri. tapi sudah ada Kenzo yang berdiri didepan pintu ruangan.
"Kakak!"
"Aku tidak bisa berdiam diri dirumah, sehingga aku memutuskan untuk kerumah sakit berharap adikku cepat siuman." ucap Kenzo.
"Apa kakak sudah masuk kedalam?"
"Kalau begitu, kita ngobrol-ngobrol saja, sambil menunggu perkembangan Vella." ucap Alex.
"Ya, itu lebih baik."
Kakak dan adik ipar itupun memilih ngobrol di kursi ruang tunggu, Rani yang melihat tidak berpangku tangan. gadis itu membawakan dua cup kopi hitam panas untuk mengusir dingin dan kue.
__ADS_1
"Tuan, silahkan."
"Terimakasih Rani."
"Alex, apakah kamu sudah menemukan titik terang pelakunya?"
"Sudah kak, dia adalah Sena. kakak angkat dari Ravela. wanita ular yang berkedok sebagai wanita baik-baik dan sok peduli padanya selama ini." ucap Alex.
"Astaga! padahal aku tidak menyangka Sena akan berbuat seperti ini." ucap Kenzo.
"Laku bagaimana dengan ibunya, Arini?"
"Mama Arini tidak mengetahui jika Sena dalang di balik semua ini, dia sempat syok begitu polisi mengeledah rumahnya. bahkan Sena membawa kabur sejumlah uang dan perhiasan milik ibunya." terang Alex.
"Kita harus menemukan nya, kalau tidak Sena pasti akan kembali lagi, wanita itu tidak akan pernah menyerah sebelum menghancurkan dan melihat Ravela menderita, karena hati dan pikirannya sudah dipenuhi dendam dan rasa iri dengki." jawab Kenzo.
"Aku sudah menyebarkan beberapa anak buah ku, termasuk menyelidiki orang-orang terdekatnya. aku yakin Sena tidak bekerja sendiri, pasti ada seseorang yang lebih kuat dibelakangnya. memanfaatkan Sena sebagai kaki tangannya." terang Alex.
"Ya, tapi siapa orang nya?"
__ADS_1
"Yang jelas orang-orang yang tidak menyukai kebahagiaan kalian berdua, atau bisa jadi seseorang yang membenci ku, Alex. karena aku punya masa lalu yang kelam." jawab Kenzo.
"Tapi kenapa mereka harus menyakiti Vella, dia hanya wanita hamil yang tidak berdaya." ucap Alex.