Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Apakah dia cemburu?


__ADS_3

"Nona, perwakilan dari perusahaan tuan Kenzo sudah datang!" lapor asisten Sarah.


"Suruh dia masuk." ucap Anabella yang masih sibuk dengan laptop dihadapannya.


"Assalamualaikum Ana."


"Waalaikumsalam, Mas Kyano?"


"Ya, ini aku Mas Kyano mu yang dulu." tersenyum manis kearah Anabella, sekian tahun tidak bertemu, sekarang mereka kembali dipertemukan dalam kerjasama bisnis.


Begitu juga dengan Anabella, dia masih tidak menyangka kembali bertemu dengan Kyano. sahabat kecilnya sama seperti Revan. dulu mereka sering menghabiskan waktu jika orang tua mereka bertemu dan berkumpul dirumah besar Oma Melinda.


"Mas Kyano, apa kabar?"


"Aku baik-baik saja, kalau kamu sendiri bagaimana. aku dengar kamu menikah dengan adik sepupuku Revan, coba saja saat itu kalian batal nikah."


"Kenapa Mas, berbicara seperti itu?"


"Ana, saat itu aku juga sudah mempersiapkan diri untuk melamarmu. tapi sudah keduluan Revan."


"Mas, bukankah kita sudah seperti saudara?" ucap Anabella merasa risih dengan ucapan Kyano barusan.


"Ha...ha...aku cuma bercanda Ana, oya apa kamu mencintai Revan?"


Anabella terdiam, bibirnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Kyano. pria tampan yang selalu memanggilnya dengan sebutan Ana.

__ADS_1


"Aku istrinya, tentu aku mencintai suamiku." jawab Ana menundukkan kepalanya tidak mau bersitatap dengan Kyano, ingin menjaga kehormatannya sebagai seorang istri, apalagi dia sudah mengetahui bagaimana perasaan Kyano padanya, meskipun ditutupi dengan candaan.


"Maafkan aku Ana, karena telah lancang berterus terang padamu. aku harap hal ini tidak mempengaruhi kerjasama bisnis kita."


"Tentu saja tidak, profesionalisme pekerjaan tetap harus dijaga. bukankah begitu mas."


"Iya Ana, mas senang sekali kamu tidak marah ataupun membenci mas. setelah tahu bagaimana perasaan mas padamu selama ini."


"Mas Kyano, mulai sekarang anggaplah aku sebagai adik perempuan mas. mungkin dengan begini hubungan bisnis kita akan terasa lebih indah dan nyaman satu sama lain."


"Tentu Ana, kelak jika ada apa-apa ceritalah padaku, sebisaku akan membantumu dek." ucap Kyano dengan tatapan sendu.


"Deal ya..!!! kita adalah saudara." ulang Anabella mengangkat minumannya untuk bersulang.


"Deal!!!"


"Revan...? untuk apa dia mengunjungiku kekantor, dia terlihat sangat marah, apa dia cemburu dan salah paham? aahhh..!! bukankah dia tidak mencintaiku." batin Anabel berkecamuk.


Revan langsung masuk tanpa mengucapkan salam, bahkan dia juga tidak membalas sapaan dari Kyano sang kakak sepupunya.


"Kak Revan, ada apa datang kesini?"


"Aku diminta mommy, mengantarkan kotak ini untukmu." Revan meletakan dimeja kerja Anabella dan berlalu pergi begitu saja.


"Revan tunggu, aku harap kamu tidak salah paham pada kami!" cegat Kyano, Revan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Aku mengerti, mana mungkin aku salah paham padamu kak. hanya saja aku sedang terburu-buru." bohong Revan berusaha menyembunyikan kegundahannya.


"Sayang sekali, padahal aku ingin kita bertiga berkumpul dan ngobrol-ngobrol seperti dulu lagi. lagian ini pertemuan pertama kita setelah sekian tahun berpisah."


"Lain kali saja, Vivian lagi menungguku." jawab Revan santai.


"Kalian masih berhubungan, bukankah kamu sudah menikahi Ana?" tanya Kyano tidak suka.


"Bukan urusanmu." jawab Revan beranjak pergi tanpa menoleh lagi kebelakang.


"Ana, saya tidak menyangka jika Revan akan memperlakukanmu seperti ini!"


"Sudahlah mas, aku ikhlas menjalani ini semua. paling tidak, sebagai seorang anak. aku sudah menjalani apa yang pernah menjadi keinginan terbesar kedua orang tua kami."


"Aku salut padamu Ana, jika seandainya kamu telah lelah dan menyerah dengan semua ini, datanglah padaku!" ucap Kyano.


"Aku tidak akan pernah menyerah mas." ucap Anabel tersenyum, berusaha keras agar tidak terlihat lemah apalagi harus mengeluarkan air mata.


Kesibukan membuat Anabella hampir lupa waktu, biasanya dia yang lebih duluan sampai dirumah, namun kali ini Revan yang sampai duluan, bahkan Pria itu terlihat sudah rapi duduk di sofa, seolah-olah menunggu kedatangan Anabella.


"Assalamualaikum kak, tumben pulang cepat."


"Waalaikumsalam."


"Kak, aku kekamar dulu ya."

__ADS_1


"Tunggu!! aku ingin bicara padamu."


Anabel menghentikan langkahnya, duduk di sofa saling berhadapan dengan Revan. dengan perasaan was-was, penasaran dengan apa yang akan dibicarakan suaminya, terlihat sekali jika suasana hatinya tengah memburuk.


__ADS_2