
"Natali, aku tidak peduli dengan perasaan ku. yang jelas-jelas itu salah. mencintai milik orang lain, terutama istri sahabat ku sendiri. biarkan cinta itu mengalir secara diam-diam tanpa kita harus saling menyakiti." tolak Jeremi. seketika membuat raut wajah Natali berubah pias, namun dia masih berusaha untuk menghasut pria dihadapannya.
"Jeremy kamu tidak salah, karena aku tahu jika Ravela tidak pernah mencintai Alex. mereka dijodohkan." ucap Natali.
"Itu urusan mereka, aku tidak mau peduli lagi." balas Jeremi.
"Jeremy, kamu tahu siapa pria yang sebenarnya disukai oleh Ravela?"
"Aku tidak tahu."
"Kamu sendiri Jeremi, bukankah dia pernah mengajukan pertanyaan gila dengan beraninya. itu sudah menjadi bukti jika Vella ingin berpisah dari Alex, setelah itu kalian berdua bisa menikah." Natali seakan mendapatkan angin segar untuk membangkitkan kembali semangat Jeremi.
"Itu pertanyaan spontan, yang sudah lumrah di ajukan oleh seorang penggemar pada fansnya, aku sudah terbiasa dengan pertanyaan semacam itu." jawab Jeremi enteng.
"Ayolah Jeremi, pikirkan kembali ucapan ku ini. jika kamu menyukai Ravela. berjuanglah. aku mohon Jeremi demi cintamu dan persahabatan kita." Vella menatap Jeremi dengan tatapan memelas. Jeremi mengganggukkan kepalanya pelan, meskipun dia ragu dengan ucapan Natali.
Sampai di rumah, Jeremi masih memikirkan perkataan Natali barusan. dia tidak bisa melanjutkan tidurnya sehingga memilih untuk menghabiskan waktu duduk di teras dibalkon sambil menghisap rokok yang sudah lama tidak dilakukan nya, malam ini begitu indah banyak bintang bertaburan di tambah cahaya bulan yang bersinar terang.
Tapi tidak dengan suasana hati Jeremi yang galau, setelah mendengar perkataan Natali.
"Benarkah Ravela juga mencintai ku?"
Pertanyaan itu kembali terngiang-ngiang, bayangan Ravela seakan begitu nyata bermain dikepalanya.
"Aagghhh....."
Jeremy meremas kepalanya gusar, dia masuk kedalam kamar mandi berendam lama di bactub untuk meringankan beban pikirannya. tidak puas Jeremi berdiri melangkah menuju shower sambil menikmati titik air yang mengalir lembut seperti hujan, aktor tampan itu memejamkan matanya namun malah yang muncul bayangan wajah Ravela lagi dengan senyum lembutnya, Jeremy membuka matanya perlahan.
__ADS_1
"Kenapa, bayangan Ravela terus muncul?" bathin Jeremi berusaha menepis pikiran nya dan menyudahi mandi.
***
Meskipun tidak terungkap, kehadiran Ravela merupakan obat yang paling mujarab bagi Alex. setelah mereka resmi menikah, saat suasana hatinya tengah memburuk ataupun ketika jiwanya terasa gundah gulana, setelah bertemu dan bercinta dengan Ravela, maka semua akan sirna seketika.
Alex tidak memperdulikan apakah itu pagi, siang, sore ataupun malam harinya. dia bebaskan kapanpun ingin bercinta dengan Ravela. yang mengakui jika tenaga Alex luar biasa yang tidak ada habis-habisnya siang dan malam untuk menggempur milik nya.
"Sudah suamiku, hentikan ini sudah pagi. apa kamu tidak ingin pergi bekerja. aku lelah." tolak Ravela ketika Alex kembali mengajak nya bercinta.
"Entah kenapa, tubuhmu sudah menjadi candu bagiku. sehingga membuatku selalu ingin bercinta lagi dan lagi." bisik Alex mengeratkan pelukannya.
"Aku ingin kekamar mandi."
Vella melepaskan paksa pagutan Alex, berjalan cepat menuju kamar mandi lalu menguncinya dari dalam.
"Dasar predator ***, aku merasa seperti budak nafsumu saja..huuuffp."
Vella keluar dari kamar mandi, nampak Alex sudah berdiri didepan pintu dengan tampang jutek dan kusut, layaknya pakaian yang belum di setrika.
"Kenapa kamu mengabaikan teriakan ku, Hah?"
"Maaf suamiku, aku kebelet banget. setelah itu langsung saja mandi karena sudah kepalang tanggung." balas Vella nyengir kuda menuju lemari pakaian, sedangkan Alex mandi mengingat dia ada pertemuan penting pagi ini sehingga dia memaafkan penolakan Vella kali ini.
Alex menuruni anak tangga, diikuti Vella dibelakang nya. dimeja makan sudah menunggu Sena dan Arini yang tengah tersenyum menyambut kedatangan mereka berdua.
"Mama, kak Sena. kapan datang?"
__ADS_1
"Barusan, maaf menantu tidak memberitahu kedatangan kami sebelum nya. mama sengaja berkunjung kerumah kalian. karena kangen pada Vella." ucap mama Arini berbasa-basi pada Alex.
"Silahkan, ayo kita sarapan bersama." ajak Alex seraya membimbing tangan Vella duduk disebelahnya.
Mereka menikmati sarapan, tidak ada yang bersuara. selesai sarapan Vella mengantar Alex menuju mobil. setelah mobil menghilang dari pandangan mata, Vella kembali masuk kedalam menemui Sena dan mama yang tengah bersantai duduk diruangan keluarga.
Sena menatap jengah Vella yang berjalan kearahnya, rasa iri dihati nya semakin menjadi-jadi, melihat pakaian yang melilit ditubuh Vella sangat indah dan mahal.
"Vella, pakaian mu bagus dan sangat mahal. Kakak bangga punya adik secantik dan seberuntung kamu." puji Sena mengakrabkan diri, sambil tersenyum memikirkan cara agar bisa masuk dan memeriksa barang-barang yang ada dikamar Vella, tanpa tahu jika setiap ruangan sudah terpasang cctv.
"Lihatlah Ravela, aku akan menggantikan posismu. tunggu saja waktunya." bathin Sena penuh penekanan.
"Vela, boleh ngak aku dan mama masuk kedalam kamar kalian?" tanya Sena penuh harap.
"Maaf kak, tapi Alex tidak pernah mengizinkan sembarangan orang masuk keruangan pribadinya." tolak Vella.
"Tapi kami berdua bukan orang lain, kalau sekedar berjalan-jalan di sekeliling rumah besar dan mewah ini bolehkan? berhubungan opa dan ibu mertuamu ngak ada dirumah." bujuk mama ikut menimpali.
"Tentu boleh ma."
"Vella, kamu kok pelit banget sekarang. kakak cuma pengen lihat lemari pakaian mu saja, tidak lebih." Sena masih ngotot ingin masuk ke kamar Ravela.
"Baiklah kak, tapi sebentar saja ya. aku takut Alex marah."
"Oke adikku sayang."
__ADS_1
"Sesama saudara, sudah semestinya kamu seperti ini, Vella. dan Alex juga harus lebih terbuka terhadap keluarga mu dan tidak menganggap kami sebagai orang asing lagi." ucap Arini.