Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Harus segera diakhiri


__ADS_3

Rasa penasaran, membuat Vivian mau tidak mau akhirnya berselancar kedunia maya, mencari tahu tentang sosok Jeremi yang merupakan ayah Anabella. tidak butuh lama mesin pencarian memunculkan sosok seorang pengusaha sukses, Jeremi dan istrinya telah meninggal karena kecelakaan beberapa tahun silam. namun mereka meninggalkan seorang anak perempuan yang sangat cantik bernama Anabella, yang akan menjadi pewaris tunggal harta kekayaan mereka yang melimpah dan tidak akan habis tujuh turunan.


"Tidak mungkin???"


Mulut Vivian ternganga, dia begitu syok mengetahui kenyataan yang ada. Anabella seorang pewaris tunggal, lalu bagaimana dengan wajahnya? mengingat kedua orang tuanya yang cantik dan juga tampan, bahkan sosok Jeremi merupakan pria blasteran Indonesia-Amerika. memikirkan semua itu membuat Vivian seakan ingin mati berdiri saat itu juga, malu bagaimana dia menghina Anabella ditoko perhiasan mewah barusan, ucapan dan perbuatannya yang seakan memberikan tamparan ke wajahnya sendiri.


Bruuuaaak!!!


"Viv, kamu kenapa?" Revan terlonjak kaget begitu Vivian tiba-tiba pingsan.


"Viv, kamu selalu saja merepotkanku." terpaksa Revan menghentikan pekerjaannya, mengangkat tubuh Vivian menuju sofa agar bisa beristirahat dengan benar.


"Cepat panggil petugas medis, suruh keruanganku segera!" perintah Revan pada asistennya.


"Baik tuan."


Revan mengusap kasar wajahnya, dia mulai merasakan bosan pada Vivian, kadar cintanya mulai menurun. apalagi sikap manja dan kekanak-kanakan yang ditunjukkan Vivian, berbanding terbalik dengan Anabella yang jauh lebih cantik dan lemah lembut. namun dia juga tidak bisa meninggalkan Vivian begitu saja, gadis itu juga pernah melakukan apapun demi dirinya, termasuk nekad masuk diam-diam keruang dosen, menyabotase data-data, demi menyelamatkan nama Revan dari fitnah seseorang yang ingin menghancurkan nama baiknya. dan masih banyak pengorbanan Vivian lainya, entah itu rekayasa oleh Vivian sendiri atau memang murni kecelakaan yang menimpa Revan waktu itu.


"Viv, diantara kita memang harus segera diakhiri."


***


Revan pulang agak telat, malam ini dia terpaksa lembur karena harus mengurus Vivian dulu. begitu sampai dirumah dia melihat Anabella yang membukakan pintu untuk dirinya.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam kak."


"Kamu belum tidur?"


"Belum ngantuk kak, Oya kak Revan sudah makan malam. biar aku siapin."


"Belum, saat ini aku sangat lapar dan ingin sekali memakanmu malam ini." bohong Revan yang sebenarnya ingin mencicipi masakan Anabella, lalu dilayani layaknya seorang suami sungguhan.


"Apa?" Anabella terkejut dengan ucapan Revan barusan.


"Eh salah, maksudnya makan masakanmu malam ini." ralat Revan serba salah lalu mengusap bibirnya.


"Indah dan mewah, selera Anabella memang pantas diacungi jempol, wajar-wajar saja Vivian ngambek dan iri melihatnya." batin Revan.


"Silahkan kak."


"Kamu nggak ikutan makan sekalian."


"Udah tadi kak."


"Please, Ana temani aku makan ya." ucap Revan sok Revan dan mulai ikutan memanggil dengan sebutan Ana.

__ADS_1


"Baiklah kak."


Anabella mengambil piring, mengusirnya dengan sedikit makanan saja. mereka mulai makan dalam diam namun rasanya begitu indah, Revan merasa ribuan bunga berterbangan mengelilingi dirinya.


"Perasaan apa ini, kenapa dadaku kembali berdebar-debar seakan ingin menyanyikan lagu cinta. perasaan yang belum pernah ada bahkan untuk Vivian sekalipun." Revan mengusap dadanya.


"Kak Revan kenapa?"


"Dadaku Ana, aku kesulitan untuk bernafas." ucapan Revan, membuat Ana panik, dia berdiri disampingnya lalu membantu Revan untuk minum segelas air putih.


"Bagaimana kak?"


"Masih sesak Ana, tolong bantu aku kekamar untuk istirahat."


Ana memapah tubuh Revan, karena kesulitan untuk menaiki tangga menuju lantai dua, Revan kembali membujuk ana agar membawanya ke kamar gadis itu saja.


"Baiklah, kak Revan istrahat dikamar ku saja." jawab Ana pasrah. mengambil minyak kayu putih dan memberikannya ketangan Revan.


"Ana, dadaku bertambah sesak, sekarang sudah disertakan pusing juga. please jangan jauh-jauh dari aku. Ana tolong perlakukan suamimu ini dengan baik, bukankah itu ladang pahala bagimu." pinta Revan bersandiwara minta diperhatikan.


"I...iya Kak."


Ana patuh, Revan semakin berani membuka kemeja kantor yang dikenakan agar Ana bisa lebih leluasa lagi membantunya mengusapkan minyak kayu putih. tangan Ana gemetar karena baru pertama kali baginya menyentuh tubuh seorang pria dibagian terdakwanya.

__ADS_1


__ADS_2