
"Jeremy? kamu disini juga."
"Ya, kebetulan ini salah satu restoran milik keluargaku. bolehkan aku ikut bergabung menemanimu makan?" Jeremi langsung duduk tanpa mendengar jawaban terlebih dahulu.
"Silahkan." jawab Vella akirnya merasa sungkan, namun tidak dengan asisten Rani yang menatap jengah pada Jeremi.
"Rani, kenapa dengan wajah mu?"
"Tuan Jeremi, aku tidak suka dengan caramu menatap nona muda kami." ucap Rani.
"Ternyata Alex tidak salah memilih mu sebagai asisten, kalian sama-sama posesif dan sombong, kasihan Ravela yang harus dikelilingi orang-orang seperti kalian." ledek Jeremi tersenyum sinis.
"Itu bukan urusan mu, aku tahu tujuan mu, mendekati nona Ravela. jadi jangan bermuka dua atau sok dekat lagi dengan nona."
"Tidak Rani, sekarang aku sudah berubah. aku bukan Jeremi yang dulu kamu kenal. bahkan sekarang aku juga sudah memiliki kekasih yang akan aku nikahi." ucap Jeremi.
"Benarkah, coba buktikan supaya tuan muda Alex mengetahui nya. sehingga dia tidak mencurigai mu lagi."
"Ya, aku akan membuktikan secepatnya." balas Jeremi kesal.
__ADS_1
Perdebatan dua orang dihadapan nya membuat Ravela stress, selera makannya langsung hilang.
"Tolong, hentikan perdebatan ini please. karena semakin kalian berdebat semakin menunjukkan jika kalian berdua adalah pasangan serasi." ucap Vella menatap kedua nya bergantian.
"Tidak! karena kamu bukan seleraku, meskipun wajah mu lumayan juga sih!" tolak Jeremi.
"Aku juga tidak sudi menjadi pasangan mu." tolak Rani. sedangkan Vella tertawa merasa lucu melihat mereka berdua.
"Untuk kedepannya, jangan pernah muncul lagi dihadapan nona Vella."
"Siapa kamu berani-berani melarang ku?"
"Aku adalah asisten sekaligus pengawal yang ditugaskan untuk menjaga nona Vella." ucap Rani, sedangkan Vella menggelengkan kepalanya pelan, sebagai isyarat supaya mereka berdua berhenti berdebat.
"Ya, Jeremi. hati-hati."
"Akirnya dia pergi juga, jika tidak aku bakal mendapatkan masalah dari tuan muda." Rani menarik nafas lega setelah melihat Jeremi meninggalkan restoran. setelah puas makan-makan dan berbelanja, Ravela memutuskan untuk pulang.
"Asisten Rani, kalau bisa jangan beritahukan jika kita bertemu Jeremi hari ini. aku tidak ingin Alex berfikir macam-macam lagi, termasuk kamu yang tentunya akan mendapatkan hukuman juga." ucap Vella fokus menatap keluar jendela kaca mobil.
__ADS_1
"Baiklah nona, saya tidak akan mengadukan jika tuan muda tidak bertanya macam-macam nantinya." balas Rani.
Sepanjang perjalanan Vella mengusap layar ponsel. membuka sebuah aplikasi Novel online faforit nya.
"Wah ini novel yang aku cari selama ini, alur ceritanya sangat menyentuh dan ngak bikin bosan pembacanya." tersenyum senang.
Sampai dirumah, Vella kembali melanjutkan bacaannya. sedangkan Rani sibuk menyusun belanjaan kedalam lemari khusus. setelah selesai dia keluar meninggalkan kamar Vella.
Vella mulai larut dalam bacaan nya, terkadang dia terlihat sangat kesal, senyum sendiri jika terdapat dialog yang menurutnya lucu. namun ada kalanya Ravela menitikkan air mata karena terbawa perasaan. sehingga dia tidak menyadari jika pintu kamar terbuka, langkah kaki terayun semakin mendekati nya yang duduk di sofa dengan posisi yang sangat santai.
"Kamu terlalu asyik dengan HP, bahkan tidak menyadari kedatangan ku."
"Sayang, kamu sudah pulang ya." Ravela segera menaruh ponselnya diatas meja, langsung berdiri mengambil tas kerja Alex menyimpan ketempat biasa.
Alex membuka pakaian nya, hari ini dia benar-benar gerah dan ingin segera mandi, Vella yang paham keinginan suaminya segera menyiapkan air hangat untuk mandi.
"Sayang, aku sudah menyiapkan air mandi untuk mu."
"Mmmmhh."
__ADS_1
Alex berjalan menuju kamar mandi, namun sebelah tangan nya menarik tangan Vella.
"Bantu aku mandi!"