Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Hari yang menyenangkan


__ADS_3

Percakapan mereka berlanjut sampai siang, keduanya tertawa lepas seakan beban pikiran yang mengaggu beberapa hari ini sudah terbayar dengan kabar bahagia pernikahan Jeremi dan Elisa.


Dddrrr.....


"Pasti suamimu yang menghubungi, biasanya pengantin baru itu paling tidak tahan jika harus berjauhan untuk menikmati hari-hari yang penuh warna dan menyenangkan." goda Ravela yang membuat wajah Elisa merah merona lalu menyembunyikan ponselnya.


"Kok ngak diangkat, ntar suamimu ngambek lho dan hati-hati saja setelah itu dia akan membuat mu tidak bisa jalan." goda Ravela yang semakin tertawa puas melihat sahabatnya yang masih malu-malu untuk mengakui.


"Ravela, kamu semakin nyebelin ya sekarang." Elisa melotot kan matanya menarik leher Ravela, dua sahabat ini membuat suasana rumah seketika heboh dengan gelak tawanya.


Jeremy kembali mengulang panggilan, dia mulai khawatir karena Elisa mengabaikan panggilan teleponnya. ditambah lagi kondisi istrinya yang tengah hamil muda.


Dddrrr....


Elisa menjauh dari Ravela yang tidak bosan-bosan menggoda nya, lalu mengangkat panggilan masuk dari Jeremi.


"Hallo ada apa?"


"Kamu lagi dimana, apa sudah makan siang?" tanya Jeremi.

__ADS_1


"Aku masih dirumah Ravela, ada apa menghubungi ku?"


"Bisakah kamu datang ke kantor ku, sekalian kita makan siang bareng?" tanya Jeremi penuh harap. Elisa tersenyum dengan wajah merona.


"Baiklah, aku bersiap dulu."


"Ya aku tunggu."


Setelah menutup panggilan nya, Elisa menghampiri Ravela yang masih tersenyum kearahnya.


"Ravela, aku harus pergi dulu kekantor Jeremi dia memintaku untuk makan siang bareng, lain waktu kita sambung lagi ngobrol-ngobrol nya." ucap Elisa menyambar tasnya bersiap untuk pergi.


"Aku ikut senang, melihat mu sudah ceria seperti dulu lagi. kalau begitu hati-hati di jalan ya."


Ravela ikut mengantarkan Elisa sampai teras, hingga mobil yang membawa sahabatnya menghilang dari pandangan. setelah itu dia kembali masuk kedalam rumah menuju kamar untuk istrahat dengan tenang.


Elisa sudah sampai didepan perusahaan besar, bangunan tinggi menjulang langit. ada keraguan dihatinya untuk kembali memasuki ruangan dimana pertama kalinya Jeremi merenggut kesuciannya.


Langkah kaki Elisa terayun perlahan, ada keraguan dan kebimbangan sambil meyakinkan hatinya jika dia harus kuat dengan melawan rasa trauma nya. tidak lama asisten yang ditugaskan Jeremi untuk menjemput Elisa ke lantai dasar datang menghampiri nya dengan senyum ramah.

__ADS_1


"Selamat siang nyonya muda, aku ditugaskan untuk menjemput anda. silahkan ikuti saya karena tuan Jeremi sudah menunggu." ucap Jason.


"Terimakasih."


Elisa mengikuti langkah kaki Jason memasuki lift khusus, meskipun dia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. sehingga suasana dalam lift menjadi hening seketika.


Jason mengantarkan Elisa sampai ke depan ruangan kerja Jeremi, setelah itu dia pamit menuju ruangan kerjanya sendiri.


"Kenapa istri ku, kamu terlihat gugup. mendekatlah." ucap Jeremi dengan senyum ramah menghentikan pekerjaannya.


"Ehm...Aku....aku!"


Elisa bingung harus berkata-kata bayangan malam itu kembali melintas. meskipun sedikit terobati dengan perlakuan lembut Jeremi akir-akir ini, namun tidak dapat dipungkiri jika dia masih sangat trauma sehingga sangat sulit hilang begitu saja dari pikirannya.


"Elisa, lihat aku."


Jeremi mengangkat dagu Elisa, pandangan mata mereka bertemu. deru nafas Elisa yang lembut mengenai kulit wajah Jeremi.


"Tolong, hapus kejadian buruk yang pernah terjadi diantara kita dalam ruangan ini. aku berjanji akan berubah dan menjadi suami yang baik untuk mu, percayalah kata-kata ku, Elisa." ucap Jeremi terlihat kesungguhan dari tatapan matanya.

__ADS_1


"Ya, beri aku waktu untuk benar-benar bisa menerima mu, Jeremi."


"Ya, tapi kamu tidak akan bisa jika kamu tidak mencoba dan membuka hatimu untukku."


__ADS_2