
Anabella tidak tersinggung sama sekali, meskipun dia tahu jika dirinya tengah disindir, bahkan dia kembali meminta pemilik toko untuk mengeluarkan perhiasan yang paling mahal, agar bisa menentukan pilihan yang tepat.
"Ini nona, liontin yang sama dengan mendiang ibumu."
Hati Anabella tiba-tiba sesak, pandangan matanya jatuh pada sebuah liontin bertahtakan berlian dan emas putih yang berbentuk bunga mawar, dia sangat menyukainya sama persis seperti milik mendiang mommy Elisa, yang sampai sekarang hilang pasca kecelakaan yang menimpa mereka.
"Pak Huang, berapa harganya?"
"Lima ratus M, Nona. dan ini juga satu-satunya setelah liontin yang sama dibeli tuan Jeremi sebagai hadiah pernikahan untuk nyonya Elisa dulu." jawab Huang.
Anabella kembali terpana, dia benar-benar terhipnotis dengan keindahan liontin tersebut. memancarkan cahaya yang berkilauan indah, rasanya dia ingin menagis saking bahagianya, karena berhasil mendapatkan liontin yang sama lagi, persis menyerupai perhiasan kesayangan sang mommy yang hilang. Anabella rela mengeluarkan banyak uang asalkan bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Ha...ha... sepertinya ada yang kaget begitu mendengar harganya, kalau ngak sanggup beli jangan sok-sok nawar." ledek Vivian semakin lebar tawanya diikuti Mela.
"Viv, liontin itu bagus banget. bahkan menyerupai liontin milik Rose di film Titanic itu lho. ntar keburu lecet karena dipegang-pegang perempuan tak tahu diri itu, cepatan beli." bisik Mela.
"Tapi Revan mentransfer tidak sampai segitu juga kali." mereka saling bisik-bisik.
__ADS_1
"Lagian perempuan bercadar itu tidak akan mampu beli, lagaknya saja yang sok-sokan didepan kita. mana mau Revan memberikannya uang sebanyak lima ratus M, aku aja wanita yang paling dicintainya selama ini cuma ditransfer Dua M." balas Vivian kepedean.
"Kasihan sekali ya, istri tak dianggap sok belagu nawar perhiasan mewah...ha...ha... dihadapan kita." tertawa puas melihat Anabella yang masih memandang takjub perhiasan tersebut.
"Pak, saya ambil satu set perhiasan yang itu, dan juga liontin ini." jawab Anabella seraya mengeluarkan Blackcard miliknya.
"Baiklah nona, sudah aku duga jika selera keluarga Jeremi memang tidak pernah salah. mewah dan elegan, kami akan segera memprosesnya." ucap Huang memangil pelayan wanitanya.
"Viv, dia punya Blackcard?" bisik Mela seakan tidak percaya dengan penglihatannya. sedangkan Vivian tertunduk malu, mana ada dia memiki uang dan Blackcard seperti itu.
"Sssttt..diamlah Mela, jangan buat aku malu!"
"Makanya, jangan suka menghina dan merendahkan orang lain mbak. berkaca dulu!! tidak seperti Mbak Ana, yang benar-benar orang tajir sungguhan dari kecilnya." sindir pelayan lainya yang kasihan melihat Anabella di nyinyirin meskipun perempuan itu cuek saja dan tidak menanggapi.
"Vivian, aku duluan."
Setelah selesai dengan pembayarannya, Anabella keluar toko dikuti dua orang penjaga. bahkan mereka membukakan pintu mobil untuk Anabella.
__ADS_1
Vivian berdiri kaku, dia baru tersadar setelah mobil yang membawa Anabel berlalu pergi.
Sepanjang perjalanan pulang, bibir Anabella tidak hentinya beristighfar, dia sebenarnya tidak ingin menjadi wanita sombong dan suka pamer, namun kejadian barusan diluar dugaan, dan Anabella juga benar-benar sangat menginginkan liontin tersebut menjadi miliknya, dia takut keduluan orang lain untuk mendapatkan perhiasan tersebut.
Dikantor, Revan masih sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara pintu ruangannya yang dibuka kasar, muncul wajah Vivian yang biasa ceria dan manja, namun kali ini terlihat sedih bahkan menyeramkan.
"Kamu kenapa lagi, Viv?"
"Ayang jahat!!! kenapa Anabella diberikan Blackcard. bahkan dia mampu berbelanja diluar batas perkiraanku." rengek Vivian.
"Itulah kesalahanmu Viv, yang tidak pernah ingin mencari tahu siapa sebenarnya Anabella."
"Untuk apa juga aku harus mencari tahu, yang jelas aku lebih segalanya. jika kartu dan uang itu bukan darimu? berarti semua itu dari kedua orang tua mu kan?"
"Entahlah Viv, aku masih pusing dengan pekerjaanku dan malas berdebat untuk membahas yang menurutku tidak penting." Revan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Rasa penasaran, membuat Vivian mau tidak mau akhirnya berselancar kedunia maya, mencari tahu tentang sosok Jeremi yang merupakan ayah Anabella.
__ADS_1
"Tidak mungkin???"