
"Cinta benar-benar gila, bahkan mampu merubah seorang Alex, yang bahkan dengan sangat mudah dan entengnya menyerahkan Natali untuk ku." ucap Jeremi.
"Sekarang kamu sudah tahu jawabannya, silahkan tinggalkan ruangan kerja ku. aku masih sibuk." pandangan mata Alex kembali tertuju pada layar laptop dihadapannya.
"Oke, sebelum aku pergi. alangkah baiknya kamu memikirkan kembali kata-kata ku, bagaimana pun Natali adalah perempuan yang tepat untuk mu." ucap Jeremi mengingatkan kembali tujuan utamanya menemui Alex.
"Kalau begitu, dapatkan cintanya. ini kesempatan bagimu, Jeremi." Jeremi terdiam, seolah mendapat pukulan telak dari ucapan Alex, yang terlihat sangat santai.
"Yang jelas, perasaan ku pada Natali sudah berubah. aku tidak pernah memikirkan dan tidak ingin membahas tentang Natali lagi, semenjak memukan kepolosan dan rasa nyaman bersama Ravela. sehingga aku bertekad untuk mempertahankan istriku." jawab Alex.
Jeremi terdiam, seiring langkah kakinya berjalan menuju pintu, tanpa menoleh ataupun sekedar mengucapkan kata pamit pada Alex. dia masih syok mendengar kejujuran Alex.
***
Dirumah Ravela tengah berjalan mondar-mandir, dia bingung untuk mempersiapkan kado ulang tahun untuk mama Arini, meskipun semenjak menikah Vella hampir melupakan keluarga angkatnya, namun dia tidak akan bisa sepenuhnya mengabaikan mereka, bagaimana pun mama Arini lah yang menampung dan membesarkan nya selama ini.
"Apa Alex akan mengizinkan aku untuk pulang ke rumah, memakai uangnya untuk membeli kado ulang tahun mama." bergumam ragu seraya memegangi ponselnya untuk menghubungi Alex.
Tanpa sadar tangan mungil Vella menghubungi ponsel Alex. dia sempat terlonjak kaget begitu panggilan terhubung dan terdengar suara bariton Alex diseberang sana.
"Hallo, ada apa kamu menghubungi ku?" ucap Alex sok jaim, padahal dalam hatinya terlonjak senang mendengar suara lembut Ravela.
"Su... Suamiku, hari ini mama Arini ulang tahun. aku ingin membelikan kado spesial dan pulang kerumahnya." ucap Vella.
"Lalu?"
"Suamiku, apa kamu ada waktu untuk menemaniku kesana?" ucap Vella yang langsung menutup mulutnya sendiri, karena bukan perkataan itu yang ingin dia ucapkan, melainkan meminta izin pada pria tersebut.
"Aku sibuk, apa mereka masih pantas kamu anggap keluarga setelah perlakuan buruknya selama ini." ucap Alex.
"Iya, karena saat ini hanya mereka lah satu-satunya keluarga yang aku miliki." jawab Vella.
"Lalu, kamu tidak mengganggap keberdaan ku." todong Alex merasa terabaikan sebagai suami.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku." balas Vella menyesali perkataan nya yang bisa saja menyinggung Alex.
"Hari ini aku izinkan kamu pulang untuk merayakan ulang tahun mamamu, tapi ingat untuk segera kembali sebelum aku sampai dirumah."
"Baiklah, terimakasih suamiku."
"Mmmmhh."
Setelah membersihkan tubuhnnya nya, Vella memilih pakaian yang agak tertutup dan sederhana, setelah itu dia pergi menuju pusat perbelanjaan, untuk menyiapkan kado.
"Sebaiknya aku belikan mama kalung, dia sangat menyukai perhiasan." Vella membeli sebuah kalung, mengunakan uang Alex. dia yakin suaminya pasti sudah mengetahui hal ini. Vella tidak peduli toh uang tersebut sudah menjadi jatah bulanannya.
"Mudah-mudahan saja mama menyukainya." setelah membayar.
Mobil yang mengantarkan Vella, sudah berhenti dihalaman rumah. gadis itu turun seraya memperhatikan sekeliling rumah yang pernah ditempati nya selama ini.
Tangan Vella terangkat, mengetuk pintu perlahan-lahan.. tok!...tok!..tok!..tidak lama terdengar langkah mendekat.
Ceklek
Perempuan paruh baya membuka pintu seraya tersenyum kearah Vella, meskipun terlihat senyumnya tidak setulus hati.
"Vella, akirnya kamu pulang juga dihari ulang tahun mama ini." memeluk Vella.
"Tentu ma, selamat ulang tahun ya." ucap Vella, seraya menyerahkan kado yang dipegangnya.
"Terimakasih sayang." memeluk Vella.
"Mana suamimu?"
__ADS_1
Arini melihat hanya Vella sendirian, dan seorang sopir pribadi yang tengah membuka bagasi mobil.
"Mas Alex sibuk ma, jadi dia titip ucapan selamat ulang tahun saja buat mama." ucap Vella.
"Mama jangan berharap lebih, suaminya tidak mungkin datang. toh Vella bukan istri yang dinginkan Alex. karena kekasihnya Natali sudah kembali ke negara ini." Sena tiba-tiba muncul seraya tertawa mencemooh Vella yang tertunduk mendengar perkataannya, bagaimana pun apa yang diucapkan kakaknya Sena benar adanya.
"Benar-benar menyedihkan hidup mu Vella, menjadi istri yang terabaikan."
"Sudahlah, tidak penting cinta. toh buktinya Vella sekarang sudah mempunyai kehidupan yang lebih baik. dihari ulang tahun ini, mama ingin kita melewati dengan kebahagiaan, ingat Sena kehidupan kita ikutan berubah setelah Vella menikahi cucu miliader Jean, jangan pancing perdebatan lagi." ucap Arini menengahi.
"Nona muda ini ditaruh dimana?"
"Bawa kedalam saja pak."
Mata Sena dan mama Arini terbelalak, karena selain membawakan kado perhiasan, Vella juga membawakan mereka makanan dan oleh-oleh lainya.
"Vella, mama senang sekali. kamu masih peduli dan perhatian pada kami."
"Tentu ma, anggap saja sebagai ucapan terimakasih Vella, pada mama yang sudah menampung Vella selama ini." ucap Ravela.
"Jangan berbicara seperti itu nak, kamu anak mama."
"Mana hadiah untuk ku?" Sena merasa tidak dianggap, bahkan Vella tidak satupun menyediakan untuk nya selain makanan enak.
"Aku tidak sempat, karena sibuk untuk mencari hadiah untuk mama. lagian selama ini kita tidak terlalu akrab dan tidak pernah akur, aku rasa kakak tidak akan menyukai pemberian dariku."
"Lihatlah ma, baru menjadi nyonya yang diabaikan saja, Vella sudah belagu." adu Sena merengek kesal.
"Sudahlah, seharusnya kamu bersikap lebih dewasa lagi dihadapan adikmu." ucap Arini.
"Mentang-mentang Vella sudah kaya, sekarang mama selalu membelanya."
"Husstt, jaga sikapmu Sena."' ucap Arini geram.
__ADS_1