Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Rencana terselubung


__ADS_3

"Hay Alex, hay juga Vella. ngak nyangka ya kita bertemu ditempat ini."


Alex dan Vella yang tengah menikmati makanan mereka, segera menoleh kearah asal suara yang terdengar sangat familiar, sengaja dibuat semanja mungkin.


"Natali!"


"Kamu disini juga?"


"Iya, bahkan aku sering menghabiskan waktu sendirian di restoran ini, mengenang kembali masa-masa indah yang pernah kita lewati berdua, Alex. aku sangat senang ternyata kamu belum melupakan aku sepenuhnya. bahkan mengajak serta Vella ketempat favorit kita berdua." ucap Natali tersenyum manis. ikutan duduk disebelah Alex.


"Apa maksudmu, Natali. aku kesini bukan karena kamu." balas Alex.


"Alex, jujurlah pada isteri mu. kamu datang keresotan ini karena teringat dan ingin mengenang kembali kisah cinta kita kan?" ucap Natali dengan tatapan mesra.


"Tidak! kebetulan cuma restoran ini yang cocok dengan selera ku." jawab Alex cuek.


"Kamu selalu saja bersikap seperti ini, Alex. membuat ku tidak bisa lepas darimu." Natali dengan berani mengelus-elus pelan tangan Alex.


"Tahan dirimu Vella, kamu tidak mempunyai hak untuk cemburu melihat kemesraan mereka. disini kamulah orang ketiga nya, jaga hatimu jangan pernah tergoda pada perlakuan manis Alex. sekarang opa sudah tidak ada, mereka bebas untuk kembali menjalin kasih. sudah saatnya kamu pergi dari kehidupan Alex." bathin Vella tertunduk, berusaha menyakinkan perasaan nya jika dia baik-baik saja.


"Habiskan makanan mu." ucap Alex pada Vella dan mengabaikan saja perkataan Natali.


"Aku sudah kenyang." jawab Vella menundukkan kepalanya tanpa berani bersitatap dengan Alex.


Melihat perubahan sikap Vella, Alex meraih sendok dan garpu ditangan nya, mulai menyuapi Vella. sehingga wajah Natali berubah merah padam, namun sebisa mungkin dia tetap menahan diri agar tidak terbawa emosi dan cemburu, karena hal itu hanya ada membuat Alex semakin menjauhi nya.


"Alex, bahkan kamu memperlakukan Vella sama persis pada ku dulu. ini sudah cukup bukti jika kamu menjadikan Vella sebagai bayang-bayang diriku. please tidak bisakah kita seperti dulu lagi?" Natali kembali memanas-manasi setelah melihat ekspresi tidak suka dari Vella.


"Tutup mulutmu, Natali!"

__ADS_1


Selesai makan, Vella bangkit dari duduknya namun Alex segera meraih tangan nya, mengehentikan gerak Vella.


"Mau kemana kamu?"


"Ke toilet." jawab Vella tanpa mau bersitatap dengan Alex.


"Biar aku antar."


"Tidak usah, kamu temani saja Natali. dia lebih membutuhkan dirimu, suamiku."


"Iya Alex, masa kamu mau masuk toilet wanita sih." balas Natali meraih lengan Alex, merangkulnya. Vella tidak sanggup menyaksikan hal itu langsung berlalu. tidak peduli bagaimana marah nya Alex terhadap Natali. tanpa peduli perasaan perempuan itu, dia hanya peduli Ravela yang terlihat sedih.


"Kamu telah kalah dengan perasaan mu sendiri Vella, gagal menjaga hatimu agar tidak terluka. dan merasa sakit melihat kemesraan yang mereka tunjukkan. sudah saatnya kamu pergi dari sisi Alex. semoga kalian bahagia."


Vella melangkah pergi melalui pintu belakang restoran, tanpa tujuan yang jelas kakinya terus melangkah pergi. suasana alam seakan ikut merasakan kesedihannya, beberapa kali kilat menyambar menggelegar diangkasa, yang diikuti hujan yang turun begitu deras. alam menagis cukup lama seperti hati Ravela yang berusaha mencari tempat untuk berlindung.


Rasa khawatir dan cemas, membuat Alex mengibaskan kasar tangan Natali, yang kembali mencoba mendekati nya.


Alex tidak peduli lagi seandainya digebukin orang-orang, karena telah berani masuk kedalam toliet wanita yang kebetulan sepi. dia harus bertemu Ravela dan menjelaskan kesalahpahaman ini.


"Mana Ravela?" mengedarkan pandangannya, namun tidak melihat sosok sang pujaan hati dalam toilet.


"Vella!"


"Ravela!"


Rasa cemas membuat Alex mencari kesegala arah, berteriak-teriak memangil, tapi tidak menemukan nya.


"Sial, semua ini gara-gara Natali."

__ADS_1


Alex begitu mengkhawatirkan Vella, apalagi ini diluar negeri. tempat yang baru pertama kali dikunjungi Ravela, meskipun gadis itu sangat fasih berbahasa Inggris, tapi Alex tetap mengkhawatirkannya.


"Semoga Vella tidak kenapa-napa, dan tidak tersesat ketempat yang rawan kejahatan dan pemerkosaan ditempat ini." gumam Alex terus berusaha mencari sang istri.


***


Jeremy dan Natali memang sudah merencanakan semua dengan sangat matang, begitu mengetahui jika Ravela pergi meninggalkan Alex. Natali segera memberitahukan pada Jeremi, agar pria itu segera bertindak seolah-olah sebagai dewa penolong bagi Vella yang tengah dirundung kesedihan. semenjak awal Jeremi dan Natali sudah mengikuti pasangan suami-istri tersebut, tidak peduli dengan jarak jauh yang harus mereka tempuh.


Vella terus melangkahkan kakinya berjalan, suasana hati yang kacau membuatnya tidak konsentrasi lagi pada keadaan sekitar.


"Ravela, awasss!"


Sebelah tangan Vella langsung ditarik, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak tubuh kecil nya. hingga gadis itu terhempas pada dada bidang milik Jeremi.


"Aaaagghhh...."


"Vella, kamu ngak kenapa-napa kan?"


"Jeremy?"


"Ya, untunglah aku datang tempat waktu dan bisa membantu menyelamatkan mu, Vella." tanya Jeremi kawathir seraya memperhatikan tubuh Vella yang terlihat lemas.


"Aku tidak apa-apa Jeremi, terimakasih karena menyelematkan aku tepat waktu." ucap Vella yang merasa heran, karena sudah dua kali dalam sehari dia dipertemukan dengan orang tak terduga, seperti Natali dan Jeremi.


Jeremy membimbing tangan Vella yang masih syok, mengajak gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya. lalu memberikan sebotol air mineral ketangan Vella.


"Minumlah, agar kamu lebih tenang." meneguk hampir setengah minuman.


"Jeremy, aku tidak menyangka ternyata kamu juga disini!"

__ADS_1


"Iya Vella, ada beberapa bisnis yang aku jalani di negara ini. sehingga membuat ku sering bolak-balik Indonesia dan Amerika." jawab Jeremi enteng, seolah-olah jarak yang begitu jauh tidak menjadi hambatan baginya.


__ADS_2