Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Marah-marah tak jelas


__ADS_3

"Kenapa kamu terlihat begitu bahagia saat bersama Kyano, apa pantas seorang wanita yang telah bersuami bersikap seperti itu?"


"Maaf sebelumnya kak, kami sedang rapat membicarakan bisnis, lagian dalam ruangan itu bukan kami berdua saja, melainkan ada Sandra dan asisten mas Kyano juga, dengan posisi pintu terbuka." terang Anabella menunduk sedih, karena dituduh yang tidak-tidak.


"Alasan..!!" Revan menarik nafas panjang menghembuskan dengan kesal.


"Kenapa sih kak, lagian mas Kyano itu saudara sepupumu sendiri. dan kita juga sudah dekat sejak kecil, apa kamu cemburu padanya?" ucap Anabella terlontar begitu saja, dia tidak habis pikir dengan sikap Revan yang langsung marah-marah, padahal mengaku tidak mencintainya sama sekali.


"Busyet...!!! cemburu katamu? diluaran banyak wanita cantik dan seksi yang antri ingin aku kencani, kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka!" ucap Revan dengan mata melotot marah.


"Kalau bukan cemburu, lalu kenapa kak Revan harus marah-marah?"


"Aku tidak suka saja kamu dekat-dekat dengan pria manapun, terutama Kyano. ingat kamu sudah menikah dan menjadi istriku meskipun itu bukanlah keinginanku."


"Sudahlah kak, aku capek berdebat dan ingin istrahat dikamar. assalamualaikum." Anabella langsung masuk kedalam kamarnya sendiri, meninggalkan Revan yang masih kesal, bingung dengan pikirannya sendiri.


"Seharusnya aku senang Anabella dekat dengan Kyano ataupun pria lain, paling tidak aku mempunyai alasan untuk berpisah darinya, aaaagghhh kenapa denganku." Revan meremas rambutnya frustasi.

__ADS_1


Malam ini Revan tidak bisa memejamkan matanya, sikap yang ditunjukkan Anabella barusan membuatnya kesal tak menentu, merasa tidak dihormati dan dihargai sebagai seorang suami.


"Berani sekali Anabella berbuat seperti ini, bukankah seharusnya aku yang memperlakukan dan membuatnya tidak betah dengan pernikahan ini, bukan sebaliknya sial!!!"


"Marah-marah membuatku haus, Anabella kamu benar-benar merepotkan!" gumam Revan berjalan menuju dapur, dia ingin meminum air dingin dari dalam kulkas, namun setelah mendapatkan air dalam botol, bukanya langsung diminum melainkan ditempelkan dikening, kepalanya yang panas butuh didinginkan.


Saat hendak kembali kedalam kamarnya, secara tidak sengaja Revan mendengar suara gelak tawa Anabella yang renyah.


"Apa dia sedang telpon-telponan bersama Kyano?" Revan berusaha memperjelas pendengarannya, menempelkan telinganya didepan pintu masuk kamar Anabella, namun dia tidak bisa mendengar dengan jelas.


"Meskipun aku masih menjalin hubungan dengan Vivian, tapi aku tidak rela kamu membalas hal yang sama padaku."


Brakk..!!!


"Mommy, sudah dulu ya. sepertinya ada benda jatuh didepan kamar, assalamualaikum."


"Ya sayang, waalaikumsalam." Jawab Ravela diseberang sana, lalu memutus panggilan mereka, menghentikan obrolan seru tentang persahabatannya dengan Elysa yang membuat Anabella tertawa renyah.

__ADS_1


Dengan perasaan was-was, Anabella membuka pintu kamar, nampak Revan masih berdiri di sana tengah menatap tajam ke arahnya.


"Kak Revan ada apa ini?" Anabella melihat Vas bunga kedatangannya sudah tidak bentuk lagi.


"Kamu yang apa-apan, tidak cukup siang bahkan sudah malam begini kamu masih telpon-telponan dengan pria lain."


"Kamu salah menuduhku kak, dan selalu berfikiran yang tidak-tidak tentangku. lihatlah aku hanya ngobrol dengan mertuaku sendiri, tapi masih saja dicurigai." Anabella memperlihatkan riwayat panggilan barusan, Revan merasa malu dan bersalah namun dia tidak ingin menunjukkan hal itu.


"Kamu itu seorang istri, harus bisa menjaga kehormatan diluar sana, atau suruh asistemu saja untuk mengurus semua pekerjaanmu."


"Kak aku tahu batasan-batasannya, kamu selalu tidak masuk akal. padahal selama ini aku selalu membebaskan dirimu untuk berhubungan dengan Vivian."


Anabella tidak bisa menahan kesedihannya lagi, air matanya lokus membasahi wajah cantiknya. rasa bersalah membuat Revan ingin merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya, tapi rasa gengsi mengalahkan segalanya.


"Dasar cengeng, jangan coba-coba mengadukan hal ini pada mommy."


"Berlama-lama denganmu membuat pikiranku bertambah sumpek, mendingan aku menemui Vivian." umpat Revan sebelum pergi meninggalkan rumah. Saat ini dia butuh udara segar untuk merilekskan kembali pikirannya yang berkecamuk.

__ADS_1


"Jika mau pergi-pergilah, temui perempuan itu. aku juga tidak butuh dirimu hick... hick..!!"


__ADS_2