
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
"Sekarang kalian berdua sudah sah sebagai pasangan suami-isteri dimata agama, akan lebih baik jika kalian segera mengurus nya agar bisa sah dimata hukum dengan adanya surat nikah sebagai dokumen yang legal." ucap wali hakim, yang dilanjutkan dengan doa untuk pasangan pengantin ini.
Elisa tertunduk, ini bukanlah impian nya semula. namun dia akan belajar menerima kehadiran Jeremi dalam hidup nya, paling tidak sampai dia melahirkan anak yang tengah dikandungnya.
Kini dalam kamar tinggal Jeremi dan Elisa, malam ini merupakan malam pertama untuk mereka setelah sah menjadi suami-istri.
"Elisa, mulai sekarang aku akan memberikan mu kebebasan lagi termasuk jika ingin bekerja, agar kamu tidak bosan dirumah. ini ponsel milikmu yang sempat aku sita. tapi ada syarat-syarat yang harus kamu lakukan selama menjadi istri ku."
"Syarat apa itu?"
"Jalankan peran mu selayaknya istri yang sesungguhnya, senang kan aku begitu juga sebaliknya aku akan mengabulkan apapun keinginan mu." ucap Jeremi dengan tatapan lembut namun ada niat terselubung dari ucapannya.
"Tapi aku tidak ingin melakukan malam pertama dengan mu, layaknya pasangan suami-istri yang sesungguhnya." Elisa ingin bangkit dan meninggalkan Jeremi, namun tangannya ditarik.
"Jangan tolak aku lagi, ingat sekarang kita adalah suami-istri yang sah." Jeremi mengusap lembut tangan Elisa.
Jeremi memperlakukan Elisa dengan lebih lembut, dia ingin menghapus rasa trauma atas perbuatannya pada gadis itu.
"Tapi tidak untuk malam ini ya, karena bayinya sedang tidak ingin disentuh oleh ayahnya." ucap Elysa berbohong mendapatkan ide secara tiba-tiba dengan alasan bayi dalam perutnya.
__ADS_1
"Benarkah bayinya bicara seperti itu? baiklah. meskipun aku sangat nyaman dengan posisi kita yang seperti ini." Jeremy menyingkirkan tangan nya yang masih melilit dipinggang Elisa.
"Kruukk... kruukk."
"Apa kamu lapar?"
"Mmmmhh."
"Aku akan minta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk mu."
"Jangan!"
"Kenapa? katanya kamu lapar?"
"Ya, tapi baby ini ingin memakan masakan yang dibuat oleh ayahnya."
"Baiklah, kamu ingin makan apa?"
"Baiklah, kamu tunggu sebentar ya."
Untuk pertama kalinya seorang Jeremi memasuki dapur, meskipun beberapa orang pelayan sempat menawarkan diri untuk ikut membantu. Namun Jeremi menolak demi sang baby dalam perut Elisa dia rela melakukan apapun.
Jeremi sesekali melirik ponselnya, untuk mempelajari resep masakan dari sebuah Chanel ternama. dia ingin menyajikan yang terbaik untuk Elysa meskipun dia tidak yakin akan kemampuan memasaknya.
Hampir tiga puluh menit Jeremi berkutat di dapur, ruangan dapur yang semula rapi dan bersih, seketika berantakan.
"Akirnya, masakan pertamaku siap disajikan. semoga baby ku menyukainya." ucap Jeremi tersenyum puas, dengan toping telur dadar gosong sebagai pelengkapnya.
__ADS_1
"Kenapa aku jadi deg-degan ya." gumam Elisa menunggu kedatangan Jeremi dengan hidangan spesial nya.
"Elisa, makanlah. aku sudah membuatkan makanan sesuai dengan permintaan mu." ucap Jeremi meletakan makanan dihadapan Elisa.
Elisa menatap makanan aneh dan unik dihadapan nya, entah dorongan dari mana dia langsung memakan dengan lahap, padahal semula dia yakin tidak ingin memakannya.
"Hati-hati nanti keselek." Jeremi menyodorkan segelas air putih.
"Aku senang, sepertinya baby kita menyukai masakan ku." ucap Jeremi tersenyum puas, masakan pertama nya hampir dihabiskan Elisa.
Karena penasaran, Jeremi mencoba mencicipi sedikit. namun seketika dia hampir menyembur makanan itu ke wajah Elisa jika dia tidak segera berlari menuju westafel.
"Buuuahh."'
Setelah berkumur-kumur, Jeremi kembali menghampiri Elisa yang ternyata sudah menghabiskan makanan nya.
"Kenapa dihabiskan, makanan ini tidak enak asin, kebanyakan kecap, rasanya tidak jelas karena terlalu banyak bawang dan cabai. bisa membuat mu sakit perut." ucap Jeremi panik bercampur kwartir.
"Makanan ini enak kok, buktinya aku menghabiskan nya." jawab Elisa santai kemudian menghabiskan jus buahnya.
"Selera wanita hamil itu benar-benar aneh." jernih menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
Setelah kekenyangan, Elisa kembali kekamar tidur membersihkan tubuh sebelum naik keatas ranjang. tanpa sedikitpun luput dari perhatian Jeremi yang ikut berbaring disebelah Elysa.
"Tidur lah, malam ini aku tidak akan menuntut hak ku lagi, aku hanya ingin memeluk mu dan calon bayi kita." bisik Jeremi, sehingga Elisa yang semula agak canggung tersenyum seraya memejamkan mata nya yang berat hingga pagi pun mengejang.
Matahari bersinar dengan terangnya, mengenai wajah cantik seorang wanita yang masih meringkuk dalam pelukan sang suami. mata Elisa sangat berat untuk dibuka, tapi hasrat untuk segera buang air kecil membuatnya memaksakan langkah menuju kekamar mandi.
__ADS_1
Elisa hanya punya satu keinginan, hidup lebih baik lagi kedepannya, dengan mengubur semua kenangan buruk masa lalunya. dengan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.
***