Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Mengikuti mu


__ADS_3

Elisa merasa lemas dan tidak bertenaga, kepalanya pusing sehingga dia memejamkan matanya. seraya mengoleskan minyak kayu putih, gadis itu berfikir jika dia masuk angin biasa, sehingga dengan berbaring beberapa saat dia akan kembali pulih.


"Aku harus tetap bekerja, bagaimana pun juga aku tidak boleh menjadi gadis yang lemah dan larut dalam keterpurukan ini. aku akan mencoba untuk melupakan kejadian buruk yang telah menimpa ku." ucap Elisa mencoba bangkit, namun tubuhnya yang lemah kembali ambruk diranjang, seakan tidak mau diajak kompromi.


"Aku harus tetap bekerja, aku tidak ingin dipecat dihari ke tiga ku bekerja ditempat yang baru."


Elisa mamaksan dirinya, setelah berpakaian kantor yang rapi. gadis itu mengayunkan langkah pelan, namun tanpa sengaja matanya menangkap sosok Jeremi yang turun dari mobilnya memasuki perusahaan tempat nya bekerja.


"Astaga, pria bajingan itu? kenapa dia juga ada disini?"


Elisa segera menutup wajahnya dengan tas, berharap Jeremi tidak melihat keberadaan nya.


"Aku harus mengenakan masker."


Membuka tas dan mengeluarkan masker, lalu Elisa melajukan langkahnya yang sempoyongan menuju lift. karena kurang konsentrasi Elisa tidak membaca dan langsung masuk lift khusus petinggi perusahaan tanpa melihat penghuni lift yang sudah berdiri. pria tampan itu terlonjak kaget begitu melihat kedatangan Elisa, meskipun gadis itu mengunakan masker, tapi Jeremi sudah bisa mengenali melalui wangi parfum, bentuk tubuh Elisa. seakan waktu ingin mempertemukan mereka lagi.


"Aku tidak boleh terburu-buru, dan bertindak gegabah. kendalikan dirimu Jeremi agar gadis ini tidak semakin jauh mencoba kabur darimu." pria tampan itu berpura-pura sibuk dengan ponselnya, namun tidak dengan Elisa, tubuh dan kaki gadis itu langsung gemetaran.

__ADS_1


Degh!!!


"Astaga, kenapa kami kembali bertemu ditempat dan ruang yang sama. padahal aku sudah berusaha untuk menghindari nya." bathin Elisa berusaha menguatkan kaki untuk tidak ambruk.


Ting!


Elisa langsung keluar menuju ruang kerjanya, menyeka keringat dingin sambil *******-***** jemarinya.


"Apa perusahaan ini juga milik pria brengsek itu, apa yang harus aku lakukan. apa aku keluar saja dari pekerjaan yang menjadikan karier yang bagus ini untuk ku." Elisa mulai dilema.


"Elisa, kamu baik-baik saja kan?" sapa Nina sahabat barunya.


Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat, Elisa sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan lancar. bahkan dia juga tidak melihat keberadaan Jeremi lagi.


"Untuk kedepannya aku harus lebih hati-hati." mengunakan kembali masker di wajahnya.


Sampai dirumah Elisa langsung memanfaatkan waktu nya untuk istrahat, dia tidak menyadari jika pergerakan nya seharian ini selalu dipantau Jeremi, bahkan pria tampan itu sengaja mengikuti Elisa dari belakang sampai ke depan rumahnya.

__ADS_1


"Akirnya, aku mengetahui rumahmu cantik, hal ini akan semakin mempermudah ku untuk menemukan mu sewaktu-waktu." Jeremi tersenyum senang lalu pergi meninggalkan lokasi rumah Elisa.


Dalam kamarnya, Elisa yang tengah merebahkan tubuhnya langsung menyambar ponselnya dengan penuh semangat begitu tahu jika si penelpon adalah sahabat baiknya Ravela.


"Hallo bumil cantik, bagaimana keadaan mu sekarang?" sapa Elisa ceria, menyembunyikan kegundahan hatinya.


"Alhamdulillah aku sehat-sehat Elisa, bahkan aku sangat bahagia saat ini." balas Ravela.


"Ya, kamu beruntung telah mendapatkan suami yang begitu mencintai dan menyayangi mu, Ravela."


"Tidak begitu juga, tapi yang lebih membuatku bahagia. karena telah mengetahui kekuarga ku yang sesungguhnya." ucap Ravela.


"Wah, aku ikut bahagia mendengarnya Ravela. ayo ceritakan padaku bagaimana bisa kamu menemukan kekuarga kandung mu."


"Baiklah,"


Ravela mulai menceritakan semua pada Elisa, karena mereka sudah seperti saudara dan bukan orang lain lagi bagi Ravela, apapun yang terjadi dia selalu menceritakan pada Elisa yang selalu siap membantu nya.

__ADS_1


"Elisa, sekarang giliran mu yang bercerita. bagaimana hubungan mu dengan Franz? aku dengar kalian memutuskan untuk menikah dalam tahun ini?"


"Tidak Vella, impian cintaku sudah hancur, untuk kedepannya tidak akan ada Frans, ataupun Frans yang lainya...hick...hick..." tiba-tiba Elisa menangis membayangkan kehidupannya yang telah hancur.


__ADS_2