
"Aduuh.... kepalaku sakiiit!!!"
"Sa... sayang kamu kenapa?"
Melihat istrinya kesakitan dan berteriak-teriak, Alex segeralah menepikan mobilnya. menarik Vella kedalam pelukannya untuk membuatnya tenang kembali. Vella memegangi kepala yang teramat sakit, keringat membanjir wajah cantiknya. hingga dia pingsan seketika.
"Bagunlah sayang! aku tidak sanggup melihat mu kesakitan seperti ini."
Alex melajukan kembali mobil nya menuju sebuah rumah sakit terbaik, Vella langsung ditangani oleh dokter ahli.
"Bagaimana kondisi istri saya dok?"
"Istri anda sudah lama mengalami amnesia, meskipun terlambat untuk diobati. tapi harapan untuk dia kembali pulih seperti sediakala masih ada."
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok, berapapun biaya nya akan saya keluarkan."
"Tidak bisa tuan, pengobatan harus dilakukan secara perlahan-lahan. karena jika dipaksakan untuk mengingat akan merusak sel-sel saraf istri Anda." terang dokter.
"Ya, saya paham Dok. ini juga salah saya yang terlalu berambisi untuk mengembalikan ingatan istri saya seperti sedia kala." Alex terhenyak lemas menatap Ravela.
"Kira-kira, berapa lama istri saya pindah seperti ini dok?"
"Tidak lama, istri tuan sekarang sedang tertidur karena masih terpengaruh obat yang baru saja saya suntikan."
Lama Alex menatap wajah cantik istrinya, sebelah tangan Alex mengelus dan merapikan anak rambut Ravela.
Perlahan Vella mengerjap lalu membuka matanya, dia melihat pria tampan yang masih setia duduk disampingnya dengan tatapan sedih bercampur bahagia, begitu melihatnya tersadar kembali.
__ADS_1
"Aku dimana?"
"Rumah sakit."
"Apa yang terjadi padaku?"
"Tadi kamu sempat pingsan dalam mobilku, dokter berpesan untuk selanjutnya jangan terlalu paksakan untuk mengingat masa lalu kita, yang penting kamu meminum obat dengan teratur, karena itu sudah cukup membantu proses penyembuhan mu kembali." ucap Alex merasa bersalah.
"Tolong antarkan aku pulang, Revan pasti sudah menunggu ku."
"Baiklah, sayang. aku juga sudah merindukan anakku." jawab Alex.
Vella berusaha bangkit tanpa bantuan Alex, namun tenaganya yang masih lemas membuatnya kembali terhenyak. dengan sigap Alex menangkap tubuh Vella, menggendong menuju mobil, meskipun Vella minta diturunkan karena malu dilihat pengunjung rumah sakit lainya.
"Turunkan aku, aku malu jadi pusat perhatian orang-orang di sini." bisik Vella membenamkan wajahnya di dada Alex.
"Benar-benar suami yang romantis."
"Andai aku dapat suami seperti pria tampan ini, pasti hidup ku sangat bahagia." terdengar bisik-bisik para ibu-ibu, sambil mengulum senyum menatap genit kearah Alex.
***
"Mami!"
Revan merentangkan kedua tangannya, begitu melihat sang mommy, mereka berpelukan penuh kasih sayang. Alex ikut mendekati sang putra.
"Hai boy, kita ketemu lagi." sapa Alex ramah.
__ADS_1
"Om Alex?"
"Jangan panggil aku dengan sebutan Om, karena aku adalah Daddy mu nak." ucap Alex dengan mata berkaca-kaca.
"Daddy?"
"Ya! bolehkah Daddy memeluk mu juga, sama seperti mami."
"Boleh Daddy."
Revan beralih memeluk tubuh Alex, ada perasaan bahagia dan hangat, nyaman menjalar didada mereka, begitu juga dengan Revan. bocah itu tidak henti-hentinya tersenyum karena sudah sangat lama dia merindukan sosok seorang ayah.
"Huaa.... akhirnya, aku memiliki seorang Daddy." teriak Revan dengan bahagia nya.
"Revan, maafkan Daddy sebelumnya. bukan maksud Daddy mengabaikan kalian. tapi takdir yang membuat kekuarga kita terpisah, ada seseorang yang tidak menginginkan kekuarga kita bahagia dan bersatu. tapi Daddy janji mulai saat ini kita akan selalu bersama-sama lagi. karena Daddy akan menjadi penjaga dan pelindung kalian berdua."
Camelia dan suaminya yang melihat adegan penuh haru tersebut, ikut menitipkan air mata haru. apalagi setelah melihat bukti hasil tes DNA yang menyatakan jika Alex adalah ayah kandung Revan, termasuk buku pernikahan Alex dan Ravela yang sah dimata hukum dan agama.
"Mama sangat bahagia, melihat mu sudah bertemu dengan kekuarga yang sesungguhnya, nak. pinta mama jangan pernah lupakan kami orang tua angkat mu." ucap Camelia antara bahagia dan sedih akan berpisah dengan Ravela dan Revan, yang sudah beberapa tahun ini menemani hari-hari mereka berdua.
"Tentu mama, mama dan papa mempunyai jasa yang begitu besar dalam hidupku. aku tidak akan mampu membalas nya." ucap Vella yang ikutan menagis memeluk ke-dua orang tua angkatnya.
"Ya nyonya, tuan. saya selaku suami Ravela. sangat berterimakasih yang sebesar-besarnya. dan siap membantu apapun itu, meskipun tidak akan mampu membalas jasa tuan dan nyonya." ucap Alex.
"Tolong panggil kami berdua mama dan papa, nak Alex. karena itu sudah cukup membuat kami berdua bahagia."
"Tentu, mama...papa." ucap Alex mereka berpelukan hangat.
__ADS_1
***