
Sepulang dari rumah sakit menjenguk Elisa, Ravela merebahkan tubuhnya yang lelah diranjang empuk. tidak butuh waktu lama dia sudah tertidur pulas.
Alex memandangi wajah ayu sang istri, perasaan lembut dan hangat memenuhi ruang dadanya. perlahan Alex naik keatas ranjang, menyibak selimut Ravela lalu memeluk layaknya guling yang empuk dan hangat.
Malam ini Alex sangat berhasrat, dia ingin berbagi kehangatan dimalam yang dingin. namun dia juga tidak ingin bersikap egois. baginya kenyamanan Ravela ditengah-tengah kehamilannya yang semakin membesar jauh lebih penting.
"Cup."
Kecupan mesra mendarat dibibir dan ke-dua pipi Ravela, setelah itu Alex mulai ikut memejamkan mata, mereka tidur sambil berpelukan hingga pagi hari menjelang.
Ravela terbangun, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan sang suami tercinta. yang masih tertidur pulas dengan mimpi indahnya. Ravela terpesona untuk yang kesekian kalinya pada Alexander.
Jari-jari tangan Ravela mulai menelusuri lekuk wajah Alex, mulai dari alis, hidung mancung nya yang terakhir bibir Alex yang sedikit ternganga. bibir itu juga yang setiap saat selalu ketagihan untuk menciumi nya.
"Sebaiknya aku membersihkan diri, setelah membantu menyiapkan sarapan untuk Alex."
Ravela bangkit dari tidurnya, namun belum sempat dia beranjak, sepasang tangan kekar sudah melingkar dipinggang nya. lalu menarik tubuhnya kedalam pelukan erat yang tidak mudah bagi Ravela untuk melepaskan diri begitu saja.
__ADS_1
"Kamu telah membangunkan ku, sayang. sekarang nikmatilah hukuman dariku." bisik Alex mulai melepas satu-persatu kancing piyama tidur Ravela.
"Suamiku, aku tidak bermaksud mengaggu tidur mu, silahkan lanjutkan kembali tidur mu. aku akan kebawah menyiapkan sarapan untuk kita."
"Sudah terlambat sayang, please sebentar saja." bujuk Alex membungkam mulut Ravela dengan ciumannya, sehingga Vella akirnya pasrah, karena dia sudah hafal sifat Alex. yang tidak mudah untuk di akal-akalin apalagi menyerah begitu saja.
"Aku sudah hafal sifat mu, sebentar itu bisa satu atau dua jam." umpat Ravela.
"Ternyata kamu sudah sangat memahami suamimu, ini." bisik Alex.
"Suamiku, pelan-pelan. ingat! ada baby kita." balas Vella dimana benteng pertahanan kembali rubuh.
"Aaaahh...aaahhh suamiku."
Satu jam mereka habiskan untuk bercinta, setelah itu Alex merebahkan tubuhnya disamping Ravela sambil tersenyum puas.
"Sayang, terimakasih ya. I love you." bisik Alex.
__ADS_1
"Love You Yoo, suamiku."
"Mandi bareng yuk!"
"Tidak!"
Alex berpura-pura tidak mendengar penolakan Ravela, dia langsung menarik tubuh Vella kedalam gendongan nya menuju kamar mandi.
Ditempat lainnya, seperti halnya Jeremi yang tengah patah hati dan kacau, begitu jugalah yang dirasakan oleh Frans saat ini. pria tampan itu masih belum bisa melupakan kekasih hatinya Elisa sepenuhnya, meskipun rasa sakit setelah mengetahui jika Elisa lebih memilih pria yang lebih kaya darinya, namun semua itu tidak membuat rasa cinta dihati franz bisa hilang begitu saja.
Semakin dia berusaha untuk membenci dan melupakan Elysa, semakin besar rasa rindu dan cinta yang membelenggu nya.
"Kenapa aku harus menjadi pria bodoh yang selalu memikirkan mu, Elisa. padahal sudah jelas sekali jika kamu telah mencampakkan ku, aku benci diriku yang masih mengharapkan mu kembali. sangat sulit menerima takdir cinta kita yang tidak mungkin untuk bersatu, meskipun aku berusaha untuk melepaskan mu dan menyerah dengan citaku yang tak bertepi. akankah sekarang kamu bahagia dengan laki-laki pilihan mu itu, Elisa?"
Malam ini, Frans menghabiskan waktu mutar-mutar dengan sepeda motor nya, berkeliling pusat ibukota untuk mencoba mengalihkan perhatiannya yang selalu tertuju pada Elisa, dia akan belajar melupakan cinta pertamanya.
Franz mematikan mesin motornya di pelataran parkir sebuah klub, ini kali pertama nya dia memasuki sebuah klub malam, entah angin apa yang membuat nya tiba-tiba begitu ingin memasuki klub tersebut.
__ADS_1
Frans mulai ikut-ikutan memesan minuman berakhol, sekedar coba-coba berharap minuman itu mampu membantu nya melupakan kegundahan hatinya.