Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Season II ( Revano dan Anabella)


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Vella dan Alex memilih penerbangan pertama menuju tanah air. rasa rindu pada anak kesayangannya membuat mereka berdua tidak sabaran lagi untuk segera sampai dirumah.


Sebuah mobil Rolls-Royce memasuki halaman luas perkarangan, sepasang suami-isteri melangkah cepat menuju pintu masuk utama rumah besar, ada rasa hangat menjalar menuju dada ketika melihat seorang bocah laki-laki berlari begitu riang kerah mereka berdua.


"Mommy!"


"Daddy!"


"Anakku sayang."


Alexander lebih dulu menangkap tubuh mungil Revano, mengangkatnya keudara membuat bocah itu tertawa renyah, setelah itu Ravela yang gantian memeluk anaknya. kecupan manis mendarat dikedua pipi cibi Revan yang begitu mengemaskan. mami Melinda menatap penuh haru kebahagiaan anak menantunya apalagi ada Revan ditengah-tengah mereka.


"Vella, selamat datang di rumah ini kembali sayang. mami bahagia sekali mendengar kamu sudah bisa mengingat semuanya."


"Iya mi, setelah begitu banyak badai dan rintangan yang kami lalui. semoga kebahagiaan kita ini tetap abadi ya, mi."


"Amiiin."


"Besoknya mami ingin mengadakan acara syukuran, sebagai wujud syukur mami atas kesembuhan Vella, dan keluarga kita kembali utuh seperti dulu lagi."


"Boleh mi, aku juga sudah rindu untuk berkumpul dengan Elysa, kak Natali dan mama Arini."


"Nanti mami akan mengundang mereka semua."


"Terimakasih mami."


***


Dikediaman Elisa, nampak ibu muda itu sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri pesta syukuran sang sahabat. sesekali bibirnya tersenyum menatap bidadari kecilnya Anabella, yang tumbuh dengan sehat, cerdas dan tentunya sangat bawel, persis seperti Elisa.


"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Jeremi menyambar kunci mobilnya.


"Sudah, Anabella ayo sayang kita berangkat menuju rumah Tante Vella." ajak Elisa.

__ADS_1


"Asyik, aku sudah tidak sabaran lagi bermain dengan kak Revan." ucap Anabella ceria.


Jeremi mulai melaju dengan kecepatan sedang, berbaur dengan kendaraan lainnya. namun tiba-tiba dari arah yang berlawanan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi.


Brakk..!!!


Benturan keras menimpa mobil yang dikendarai Jeremi dan keluarga kecilnya, gadis kecil yang bernama Anabella, mendengar teriakan lemah dari ke-dua orang tuanya.


"Anabella anakku...!"


"Mommy...!"


"Daddy...!"


Ucapnya lirih, setelah itu Anabella melihat sekelilingnya berubah gelap dan dia tidak ingat apa-apa lagi.


"Mommy, Daddy! jangan tinggalkan Anabella hick....!" teriak Anabella begitu melihat mommy dan Daddynya melambaikan tangan perpisahan.


"Anabella, jaga dirimu nak. belum saatnya kita berkumpul sayang." ucap bayangan sang mommy yang terlihat begitu cantik, memakai pakaian serba putih. mereka melambaikan tangan sebelum menghilang.


"Dok, bagaimana kondisi sahabat saya? dan juga anaknya?" tanya Vella harap-harap cemas.


"Maaf nyonya, kami tidak bisa menyelematkan mereka berdua, sedangkan kondisi putri mereka masih koma." terang dokter membuat Vella seketika syok, Air mata tidak pernah berhenti membasahi wajah cantiknya.


"Sayang, kuatkan dirimu.. semua yang terjadi sudah kehendak yang diatas. kita sebagai manusia biasa hanya bisa menjalankan apa yang sudah tertarik pada kehidupan kita." bujuk Alex berusaha menenangkan sang istri.


"Dok, pasien atas nama Anabel sudah sadarkan diri. dia terus menanyakan kondisi ke-dua orang tuanya."


"Baiklah, saya akan segera memeriksa kondisinya."


"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak." Vella mengusap air matanya, bagaimanapun dia harus kuat demi Anabel.


"Sayang, aku ingin mengangkat Anabel jadi anak kita. sekarang dua sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, kamu bersedia kan?" ucap Vella.

__ADS_1


"Tentu, aku dan Devan juga sangat menyayanginya. Evan tentu senang begitu mengetahui jika dua memiliki adek perempuan secantik Anabella." jawab Alex.


Tidak lama, dokter sudah memperbolehkan Vella dan Alex untuk masuk keruangan perawatan Anabella. nampak gadis itu masih terbaring lemah.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar nak." Vella memeluk lembut tubuh Anabel, melayangkan kecupan ringan dikeningnya.


"Tante, aku dimana?" tanya Anabella polos.


"Rumah sakit pusat, sayang."


"Lalu dimana mommy dan Daddyku?"


Vella mengigit bibirnya saling tatap dengan Alex, keduanya bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan pada bocah yang masih kecil ini tentang apa yang sudah menimpa ke-dua orang tuanya.


"Tante, om. ayo jawab. mana Daddyku dan mommy?" suara Anabel terdengar serak hendak menagis.


"Sayang, kamu harus kuat ya nak. ke-dua orang tuamu meninggal dalam kecelakaan itu. hanya kamulah yang selamat sayang...!!!" ucap Vella lembut menarik tubuh Anabel kedalam pelukan hangatnya.


"Tidak...!!! tidak mungkin Daddy dan mommy pergi tinggalkan Anabella sendiri... Anabel ingin ikut mereka Tante...!!!" bocah kecil itu menagis sejadi-jadinya."


"Kamu harus sabar dan kuat sayang, ikhlaskan mereka karena saat ini Daddy dan mommy sudah tenang dan bahagia disurga." bujuk Vella.


"Iya sayang, jika Anabella terus menagis kedua orang tua Anabella akan ikutan sedih. saat ini mereka pasti melihat Anabella dari surga." bujuk Alex.


"Anabella juga ingin kesurga, Tante."


"Iya, kita semua pasti akan kesurga. tapi setelah waktunya tiba."


"Kapan waktunya tiba?"


"Setiap orang punya waktu yang berbeda-beda sayang, pokok Anabella harus ikhlas melepas mereka. mulai sekarang Anabella akan menjadi anak Om dan Tante. kita akan selalu bersama-sama." bujuk Ravela.


Satu bulan pasca kepergian Elysa dan Jeremi, kedua orang tua Elisa datang menjemput cucunya. bagaimanapun juga mereka jauh lebih berhak untuk menjaga Anabella.

__ADS_1


Meskipun sangat menyayangi Anabella, mau tidak mau Vella harus rela berpisah dengan Anabella yang sudah dua anggap seperti anak kandungnya sendiri. bahkan sudah terbesit keinginan dihatinya untuk menjodohkan Anabella dan Revan kelak jika mereka sudah sama-sama dewasa. hal ini merupakan wujud kasih sayang dan bentuk rasa tanggung jawabnya pada mendiang Elisa dan juga Jeremi.


__ADS_2