
Revan tersenyum menanggapi ucapan Vivian, dia membiarkan saja, gadis yang sudah dipacari selama dua tahun itu duduk dipangkuan nya, dengan sikap manja.
"Sayang, aku sangat merindukanmu, kita sudah ngak ketemu selama beberapa hari. Aku ingin saat berduaan seperti ini, kita melewati dengan bermesraan saja tanpa harus membalas permasalahan." Bisik Vivian mulai mengelus lembut pipi Revan lalu mengecup bibir nya.
"Tentu Sayang, aku juga merindukanmu. tapi ini masalah hubungan kita, aku telah dijodohkan oleh kedua orang tuaku."
"Apa? tidak .. tidak aku sangat mencintaimu Revan, aku tidak rela hubungan kita harus berakhir begitu saja. sekian lama aku mengharap-harapkan restu orang tuamu, malah gadis itu yang beruntung, aku tidak rela!" tangis Vivian tiba-tiba pecah.
"Maafkan aku Vivian, dihatiku juga hanya ada kamu. sampai kapanpun aku tidak akan pernah tertarik pada gadis bercadar itu."
"Dia mengunakan cadar?" tanya Vivian seolah-olah mencemooh, karena dia tahu betul selera Revan, yang menyukai gadis cantik, modern dan tentunya seksi seperti dirinya. seketika Vivian menarik nafas lega.
"Ya, kamu tahu sendiri seleraku. aku harap kamu tidak cemburu padanya dan merelakan pernikahan konyol ini." bujuk Revan.
Vivian tiba-tiba tersenyum dengan pikirannya sendiri, membuat Revan penasaran dengan perubahan sikap sang pujaan hatinya.
"Vivian apa kamu baik-baik saja? barusan kamu menagis terisak-isak lalu kemudian senyum-senyum ngak jelas?" tanya Revan takut jika jiwa Vivian mengalami goncangan hebat hingga frustasi tingkat tinggi.
"Aku membayangkan wajah calon istrimu itu, pasti dia jerawatan, hidung pesek, kulitnya panuan. satu lagi rambutnya dipenuhi kutu?" tawa Vivian kembali pecah.
"Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu sayang?"
"Karena, sejatinya seorang wanita lebih suka memperlihatkan kecantikannya dihadapan pria, suka berhias dan perhiasan mewah, agar terlihat jauh lebih berkelas." tutur Vivian panjang lebar.
"Entahlah aku juga ragu, jika wajah Anabella bisa berubah sedratis itu, aku hanya mengingat wajah Anabel kecil. dulu dia sangat imut dan menggemaskan sekali, meskipun dia pernah ingusan." bathin Revan dalam hatinya.
__ADS_1
"Aaaagghhh... kenapa juga aku jadi memuji Anabella? seharusnya aku lebih fokus mencari-cari kekurangan gadis itu, karena gara-gara dia hubunganku dengan Vivian terhalangi." kembali merutuki pikiran dan hatinya yang mulai tidak sejalan.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita?"
"A...apa?" Revan tergagap dan tersadar dari lamunannya tentang Anabella kecil.
"Kelanjutan hubungan kita?" ulang Vivian.
"Kita akan terus seperti ini, sampai aku bisa menyakinkan kedua orang tuaku. jika kamulah wanita yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak." bujuk Revan.
"Aku percaya janjimu Revan, tapi aku minta satu syarat darimu."
"Syarat apa?"
"Jangan pernah sentuh perempuan itu, meskipun kalian sudah menikah."
"Siapa sih sayang?"
"Mommy yang menghubungi."
Revan bangkit dari duduknya, berjalan agak menjauh dari posisi Vivian.
"Hallo ada apa mom?"
"Revan, siang ini kamu temani mommy pergi ke toko perhiasan langganan kita ya." ucap Vella bersemangat.
__ADS_1
"Untuk apa sih mom, kan bisa ditemani Daddy."
"Tidak! mommy pengen perginya sama kamu, karena mommy ingin kamu yang memilih sendiri cincin kawin untuk pernikahan kalian."
"Apa? secepat itukah?" tanya Revan tidak percaya.
"Ya, lebih cepat lebih baik."
"Please mom, aku belum siap untuk menikah dan masih ingin menikmati masa mudaku."
"Menikmati berzina dengan Vivian itu kan?"
"Mom, aku belum sejauh itu dan masih tau batas-batasnya."
"Pokoknya, kamu dan Anabella harus menikah secepatnya. cukup sudah kamu bermain-main dengan perempuan yang bernama Vivian." Vella menutup panggilannya begitu saja, tanpa mendengar protes Revan lagi.
"Sayang ada apa?"
"Mommy memintaku untuk segera pulang."
"Aku dengar kamu akan mencari cincin kawin, aku juga minta dibelikan cincin yang sama, jika perlu lebih bagus dan mewah dibandingkan cincin untuk perempuan yang bernama Anabel itu." ucap Vivian mengerucutkan bibirnya kesal.
"Tentu sayang, aku akan mengabulkan keinginanmu. senyum dulu dong Viv."
Vivian tersenyum lebar, apalagi notifikasi pesan masuk sejumlah transferan dari Revan, sebagai jatah belanja sang pacar lebih banyak dari biasanya. hal inilah salah satu sebab Vivian semakin tidak bisa melepaskan Revan, selain tampan dia juga merupakan ladang emas baginya.
__ADS_1
***