
Pagi ini kondisi Ravela sudah benar-benar membaik, dia sudah diperbolehkan untuk kembali pulang. wajah nya sudah kembali ceria seperti biasanya.
"Sayang, habis kan sarapan mu." ucap Alex memberikan susu hamil lalu membantu Vella minum vitamin nya. setelah selesai Alex menarik tubuh Vella kedalam pangkuannya.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan ini rumah sakit." ucap Vella kesal.
"Lagian siapa bilang ini hotel." jawab Alex santai.
"Sikap mu ini bisa membuat orang salah paham suamiku, bagaimana tiba-tiba dokter masuk atau mami. bagaimanapun juga urat malu ku masih utuh tidak seperti mu yang sudah tidak memiliki urat malu lagi." ucap Vella kesal.
"Biarkan saja, memang nya salah jika aku ingin bermanja-manja dengan istri ku." Alex mulai mencium Ravela dari bibir hingga ke dada.
"Ravela istri ku, aku tidak bisa lepas ataupun melewatkan bercinta barang satu hari pun dengan mu." ucap Alex kembali menciumi sang istri, namun pergerakannya kembali terhenti ketika pintu ruangan kamar diketuk dari luar. Vella segera memanfaatkan kesempatan untuk segera bangkit dari atas pangkuan Alex dan kembali duduk pada posisi semula.
"Masuk!"
Perintah Alex, yang tidak tahu jika yang datang adalah mami, Kenzo, Natali dan mama Arini.
"Kalian?"
__ADS_1
"Ya Alex, kami sengaja datang kembali setelah mengetahui jika kondisi Ravela sudah membaik." jawab Kenzo sambil menatap lembut kearah Ravela. suasana ruangan kamar tiba-tiba terasa menegangkan bagi semua orang.
"Akirnya, setelah puluhan tahun aku menemukan mu, adikku." bathin Kenzo.
"Hay Ravela, senang bertemu dengan mu lagi." sapa Natali ramah, untuk mencairkan suasana.
"Ya, Natali. bagaimana dengan bayi mu?"
"Dia sangat sehat, lain waktu aku ingin sekali mengundang mu bertemu dengan bayiku dirumah." ucap Natali.
"Ya, aku pasti sangat senang."
"Katakan saja langsung, jangan terlalu basa-basi. apa maksud kedatangan kalian." ucap Alex memaksakan senyum ramah terarah pada Kenzo dihadapan nya.
Ravela berusaha mengendalikan diri, tubuhnya bergetar seakan masih tidak percaya jika Kenzo adalah saudaranya. sehingga mulut Ravela terkunci dia tidak mampu berkata-kata selain mendengarkan saja perdebatan Alex dan Kenzo.
"Untuk mengetahui kebenarannya, cuma ada satu jalan yaitu tes DNA."
"Aku sudah sangat siap, jika itu bisa lebih meyakinkan. Ravela adikku maafkan jika caraku ini terlalu tiba-tiba dan membuat mu tidak nyaman, tapi aku tidak bisa menahan diri lagi setelah dua puluh satu tahun pencarian ku." balas Kenzo dengan tatapan mata sendu, Natali yang paham segera merangkul tangan suaminya, seakan ingin memberikan kekuatan.
__ADS_1
Alexander mendekap tubuh Ravela, dia tidak ingin sang istri kembali ambruk dan jatuh pingsan.
"Sayang, apapun itu jangan stres ingat bayi kita dalam perut mu." bisik Alex, Ravela menganggukan kepalanya pelan.
"Baiklah, aku setuju untuk melakukan tes DNA hari ini juga, lebih cepat lebih baik. agar semua keraguan ini bisa terselesaikan dengan baik." Ravela akhirnya ikut bersuara setelah mersakan lebih kuat, ada secerah harapan jika dia masih memiliki saudara kandung didunia ini. meskipun masih banyak pertanyaan yang berkecamuk dipikiran Ravela tentang keberdaan kedua orang tua nya.
Selama proses tes DNA berlangsung, yang lainya terlihat duduk melamun didepan ruang laboratorium. mereka larut dengan pikiran masing-masing.
Tidak lama, setelah melakukan tes Ravela dan Kenzo keluar dari ruangan laboratorium. dengan satu jari Kenzo dan Vella sudah ditempel obat luka.
"Sekarang kita tinggal menunggu hasil dari tes DNA nya, tapi apapun hasilnya tidak menutup kemungkinan aku akan tetap mengganggap mu sebagai adik perempuan ku, Ravela. karena dirimu selalu mengingatkanku akan masa lalu." ucap Kenzo.
"Ya, setelah aku pikir-pikir aku juga merasa bahagia jika mempunyai seorang saudara laki-laki yang menyayangi ku dengan tulus." ucap Vella tersenyum ramah.
Merekapun berpisah di pelataran rumah sakit, menuju kediaman masing-masing. ada rasa lega setelah melakukan tes, meskipun mereka belum mengetahui hasil akhirnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Ravela lebih banyak diam. gadis itu berusaha untuk mengingat-ingat masa lalunya. namun semua terasa semu dan samar, hanya kenangan masa kecilnya bersama keluarga Wilson lah yang paling membekas di memori ingatan nya, sedangkan yang lain tidak mampu dia ingat, jika dipaksakan akan membuat kepala akan terasa sakit, sehingga Ravela memilih memejamkan mata.
"Sayang, kamu ngak kenapa-napa kan?"
__ADS_1
"Tidak, aku cuma masih ngantuk dan pengen segera istrahat." balas Vella.
"Baiklah, pejamkan matamu. begitu sampai aku akan membangun mu nantinya, sayang." balas Alex mengelus penuh cinta puncak kepala Ravela.