
Sebelum memulai rapat, Alex terlebih dahulu menghubungi sang istri, untuk menanyakan apakah dia sudah meminum obat ataupun makan. yang membuat Ravela merasa nyaman menjalani hari-hari nya.
"Sayang lagi apa?"
"Tiduran saja."
"Apa kamu sudah makan dan minum obat?"
"Sudah suamiku, kamu sendiri bagaimana? apa sudah makan?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Aku baru saja selesai rapat, habis ini baru makan siang." jawab Alex.
"Suamiku, sampai kapan aku harus dirawat dirumah sakit. aku mulai bosan disini!"
"Mungkin satu atau dua hari lagi, bagaimana kondisi tubuh mu, apa ada yang sakit ataupun keluhan lainya?"
__ADS_1
"Tidak suamiku, bahkan aku merasa sudah jauh lebih baik. begitu juga dengan kandungan ku. meskipun aku tidak bisa bergerak bebas seperti biasa nya." terang Ravela.
"Nanti aku akan menemui dokter yang menangani mu, apakah dia sudah memperbolehkan kamu untuk kembali pulang atau belum?"
"Apa mama Arini mengunjungi ku?"
"Tidak!"
"Ada apa ya? padahal sebelumnya mama selalu datang ataupun menghubungi ku." jawab vella teringat mama angkat nya yang tiba-tiba berubah.
"Sayang, mungkin mama Arini merasa malu ataupun merasa bersalah pada kita, atas perbuatan Sena yang sudah mencelakai mu."
"Karena, dalang dibalik kecelakaan yang menimpa ku adalah kelakuan Sena. kakak angkat mu." ucap Alex.
"Astagfirullah, kak Sena! kenapa dua begitu tega ingin melenyapkan aku. padahal aku sangat menyayangi nya dan sudah menganggap nya seperti saudara kandung ku sendiri." balas Ravela menutup mulutnya dengan kedua tangan, tanpa terasa air mata menetes dikedua pipinya. Vella masih syok atas perbuatan sang kakak.
"Kamu jangan khawatir, orang-orang ku sedang berpencar mencari keberadaan nya. Sena harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. dia harus merasakan sakit berkali-kali lipat dari apa yang kamu rasakan. " ucap Alex geram.
"Suamiku, aku mohon jangan sakiti kak Sena, biarkan pihak berwajib yang memberikan efek jera terhadap nya." jawab Vella yang tidak ingin suaminya mengotori tangannya dengan menyakiti Sena. bagaimanapun juga dia dan Sena pernah tumbuh bersama dalam satu keluarga yang utuh.
__ADS_1
"Aku merasa ada seseorang yang membantu Sena, karena sampai detik ini, dia berhasil menghindar dari orang-orang ku yang biasanya jauh lebih handal dalam mencari dan menemukan seseorang."
Ditempat lain, Sena sengaja merubah total penampilan nya. dia menyewa sebuah kos-kosan sempit. bagaimana pun dia harus mulai berhemat untuk bertahan hidup kedepannya.
"Aku akan tetap tinggal di kota kecil ini, sampai situasi dan kondisi kembali normal. setelah itu aku akan mencari cara untuk melenyapkan Ravela kembali. hanya kematian Ravela lah yang akan membuat hidup ku nyaman dan bahagia, aku tidak ingin tersiksa setiap waktu melihat kebahagiaan nya...ha...ha..., aku tidak peduli jika harus dipenjara seumur hidup, yang penting misi ku tercapai." Sena tertawa sendiri, sesekali dia berteriak seakan-akan melihat Ravela yang tertawa mengejeknya.
"Pergi...pergi kamu dari pikiran ku Vella, aku benci kamu!!!" teriak Sena melemparkan apapun untuk mengusir bayangan Vella dipikirannya, setelah itu Sena merasa sakit yang teramat sangat dikepala nya, hingga dia tidak sadarkan diri meringkuk dilantai kamar kos-kosan nya, tanpa seorangpun menolong dan peduli pada dirinya.
***
"Apa kamu senang, karena sudah diperbolehkan untuk kembali pulang?"
"Ya, karena beberapa hari dirumah sakit membuatku sangat merindukan suasana rumah ini." jawab Vella.
"Selamat datang dirumah kita kembali sayang, mami sangat merindukan mu." mami memeluk Vella, setelah itu menuntun langkah menantunya menuju kamar.
"Sayang, kamu belum pulih benar. sebaiknya kamu memperbanyak istrahat dalam kamar, jika perlu apa-apa segera beritahu mami ataupun pelayan." ucap Melinda.
"Iya mami."
__ADS_1