
Alex terus meraba perut istri nya yang semakin membuncit, mengelus dengan penuh kasih sayang.
"Anakku, maafkan Daddy yang sudah membuat mommy bersedih dan salah paham. kamu jangan ikut-ikutan membenci Daddy ya sayang!" bisik Alex diperut Ravela dengan wajah sendu nya.
"Iya Daddy, kedepanya Daddy harus lebih hati-hati lagi ya terhadap para fans nya Daddy, agar aku dan mommy tidak marah-marah lagi." ucap Vella menirukan suara anak kecil yang tengah ngobrol dengan ayahnya.
"Sayang, tetap lah disisiku selama nya."
"Suamiku, kenapa kamu tiba-tiba berubah melow gini."
"Aku hanya berfikir bagaimana aku seandainya hidup tanpa kamu, sayang." ucap Alex, dimana seringkali muncul dipikiran nya, jika dia dan Vella akan berpisah lama. meskipun dia sudah menepis pikiran buruknya, namun tetap Alex gundah gulana tidak menentu.
"Sayang, itu cuma pikiran buruk yang harus disingkirkan. buktinya aku ada disisimu setiap waktu." jawab Vella seraya melingkarkan kedua tangannya dileher Alex, ciuman ringan mendarat dibibir pria tampan itu. Alex tidak tinggal diam, dia langsung membalas dan memperdalam ciumannya.
"Uuupss."
Ravela kewalahan mengatur pernafasannya, setelah beberapa saat Alex kembali melanjutkan ciumannya.
"Sayang, kamu mudah sekali terpancing." umpat Vella.
"Ya, sekali terpancing. kelelakian ku tidak akan mudah diam."
Alex membuka pakaian Vella, mencium lama wangi tubuh ibu hamil yang selalu membuat nya nyaman. bibir Alex mulai meninggalkan banyak tanda merah di area leher dan dada Vella yang putih bersih.
__ADS_1
"Aaaahh... sayang, kamu menambah tanda lagi ditubuh ku. padahal yang semalam saja belum hilang."
"Ini namanya tanda kepemilikan, dan tidak boleh hilang dari tubuh indahmu, sayang." bisik Alex dengan tangan yang tidak mau diam.
"Nyonya muda, sarapannya su...dah...si...si... siap, maaf saya tidak melihat apa-apa!!! sungguh!!" Rani kelagapan dan langsung menutup pintu teras yang terhubung dengan pintu utama.
Gadis yang bekerja sebagai asisten khusus Ravela itu langsung menuju westafel, mencuci wajah nya berkali-kali untuk menghilangkan dan menyegarkan kembali pikiran nya yang mulai menjalar kemana-mana. posisi kedua majikan nya barusan begitu intim, seolah-olah memperlihatkan jika Ravela tengah menyusui bayi besar nya.
"Kamu sih, kan aku jadi malu. begitu juga dengan Rani, dia itu masih gadis polos yang belum pernah pacaran sebelumnya."
"Dari mana kamu tahu?"
"Rani sendiri yang cerita padaku."
Sementara dirumah Elisa, gadis itu tidak henti-hentinya muntah. Elisa menyandar tubuhnya yang lemah pada dinding kamar mandi.
"Nyonya muda, anda kenapa?" tanya asisten Sarah ikutan panik melihat sang nyonya yang sudah pucat.
"Entahlah, aku sangat pusing dan mual-mual terus."
"Jangan-jangan nyonya kembali hamil?" ucap Sarah meluncur begitu saja dari mulut nya.
DEGH!!!
__ADS_1
"Entahlah, aku tidak ingin terlalu berharap lebih. sapa tahu ini cuma masuk angin biasa." jawab Elisa mengontrol perasaanya.
"Sini aku bantu mengurut nyonya, dengan minyak kayu putih, agar rasa pusing dan mual-mual nya bisa sedikit berkurang." ucap Sarah menuntun Elisa menuju ranjang.
Tidak lupa juga Sarah membuatkan wedang jahe, sehingga Elisa merasa tubuhnya kembali hangat dan sedikit bertenaga lagi. Sarah mulai memijit Elisa dengan lembut, sedikit demi sedikit rasa pusing dan mual-mual yang dirasakan Elisa mulai berkurang, gadis cantik itu tertidur pulas sambil memeluk guling empuk.
Cukup lama Elisa tertidur, hingga dia tidak menyadari jika sang suami Jeremi, telah kembali dari tempat nya bekerja. melihat wajah sang istri yang terlihat pucat dan kelelahan, Jeremi menjadi tidak tega untuk membangunkan nya, sehingga pria itu memilih ikut merebahkan dirinya perlahan sambil memeluk Elisa, menggantikan posisi guling yang semula dipeluk sang istri.
"Wajah Elisa terlihat berbeda, apa dia sakit?"
Jeremi bertanya-tanya, dia tidak bisa memejamkan mata. sehingga kembali bangkit untuk menemui asisten Sarah, agar mengetahui keadaan sang istri seharian dirumah.
"Sarah, apa saja yang dilakukan Elisa seharian ini dirumah? atau dia pergi keluar?" tanya Jeremi memastikan.
"Nyonya muda menghabiskan waktu dengan istrahat dirumah tuan, dia tidak pergi kemana-mana. karena nyonya seperti nya tidak enak badan." jawab Sarah.
"Apa dia sakit?"
"Sepertinya ya, nyonya seringkali muntah dan pusing."
"Kenapa kamu tidak menghubungi ku ataupun membawa istriku kerumah sakit?" ucap Jeremi kesal.
"Nyonya muda melarang ku untuk memberitahu pada tuan, dia selalu mengatakan baik-baik saja dan hanya butuh istirahat." jawab Sarah tidak berani mengangkat kepalanya.
__ADS_1
***