
Elisa berhasil bersembunyi dari kejaran Jeremi. setelah melihat situasi dan kondisi jalanan yang sepi, Elisa perlahan keluar dari persembunyiannya. mengehentikan ojek untuk mengantarkannya langsung pulang kerumah yang ditempatinya seorang diri, sedangkan kedua orang tuanya masih menetap tinggal diluar kota, kampung halaman Elisa.
Semalaman Jeremi tidak bisa memejamkan matanya, pikirannya masih menerawang teringat kata-kata Elisa, lalu mengaitkan dengan berbagai kejadian buruk yang mulai menghampiri, termasuk beberapa proyek kerjasama Jeremi yang gagal, bahkan banyak investor yang menarik hubungan kerjasama bisnis mereka secara tiba-tiba..
"Oh my God, apa perkataan gadis itu mulai berlaku pada ku. dasar perempuan aneh, biasanya seorang perempuan akan menagis histeris dan meminta pertanggungjawaban, tapi dia malah menghindari ku dan tidak perduli apapun, termasuk jika dia hamil anakku nantinya." ucap Jeremi gusar berjalan mondar-mandir didepan pintu kamar.
"Apa yang harus aku lakukan? untuk membuang kutukan dan kesialan ini, tidak mungkin aku mandi kembang tujuh rupa ataupun mengemis-ngemis berharap maaf dari gadis itu lagi? mau ditaruh dimana mukaku sebagai seorang yang berkuasa." bathin Jeremi diantara rasa takut dan gengsinya. bahkan beberapa hari ini pria tampan ini tidak meninggalkan rumah, masih berfikir untuk mencari solusi dan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya.
"Ya, aku harus menemukan tempat tinggal gadis itu, untuk meminta maaf. karena hanya itu jalan satu-satunya, mungkin ini kesempatan untuk merubah hidupku menjadi lebih baik lagi."
***
Beberapa hari ini, Elisa tidak pernah bertemu dengan Jeremi ataupun Frans lagi. dia mulai merasa nyaman pergi dan pulang kerja tanpa ada yang membututi ataupun meminta penjelasannya.
"Syukurlah, aku tidak bertemu lagi dengan pria brengsek Jeremi itu lagi. mudah-mudahan dia benar-benar menghilang dari hidupku." ucap Elisa menarik nafas lega.
Pandangan mata Elisa tertuju pada penjual rujak di tepi jalan, tanpa sadar air ludah nya turun naik ingin menikmati buah-buahan segar yang sedikit asam tersebut.
"Rujak itu terlihat sangat enak dan segar, aku begitu menginginkan untuk mencoba memakan dengan sambal yang begitu menggoda." ucap Elisa dimana langkah kakinya semakin mendekati tukang rujak.
"Bang, bungkus dua porsi ya."
__ADS_1
"Baik, neng."
Elisa tidak sabaran lagi, bahkan dia sengaja memesan agak banyak biar puas untuk menikmati nya seorang diri.
Dalam sebuah mobil mewah, sepasang suami istri masih berdebat. karena melarang istrinya untuk membeli jajanan di tepi jalan yang menurutnya tidak higienis.
"Please suamiku, aku sudah terbiasa memakan makanan di sekitar sini. dan tidak pernah kenapa-napa." bujuk Ravela meyakinkan.
"Itu biasanya, tapi sekarang berbeda. kamu tengah hamil anakku, calon penerus perusahaan besar Alexander Juan. mengerti." ucap Alex masih fokus menyetir mobilnya.
"Tapi ini bukanlah keinginan ku sendiri, tapi bayi dalam perut ku. ibu hamil itu ngidamnya macam-macam dan kalau tidak dituruti anak nanti bakal ileran, kamu mau anak kita seperti itu." Vella akirnya mempunyai alasan, agar Alex mau berhenti diperempatan jalan tempat dia membeli rujak.
"Baiklah, aku mengalah. tapi untuk kali ini saja." ucap Alex menepikan mobilnya.
Tidak lama perempuan cantik itu keluar dari mobil, dengan kondisi yang tengah hamil besar.
"Bang rujak nya satu ya, nggak usah terlalu pedas." ucap Ravela, membuat gadis yang tengah menundukkan kepala disamping nya refleks menoleh.
"Ravela!"
"Elisa!"
__ADS_1
Kedua sahabat yang dipertemukan secara tidak sengaja utuh langsung berpelukan hangat.
"Kamu kapan kembali, kenapa tidak menghubungi ataupun menemui ku?" tanya Vella karena biasanya Elisa pasti akan menghubungi nya.
"Maaf Vella, aku baru beberapa hari ini kembali bekerja di kota ini. jadi karena sibuk aku belum sempat menghubungi mu." jawab Elysa sambil menerima bungkusan rujaknya yang telah selesai dibuat.
"Ini bang uangnya."
"Tidak usah, biar aku saja yang bayar sekalian dengan rujak pesanan ku barusan." sanggah Ravela.
"Vella, bagaimana dengan kehamilan mu?"
"Alhamdulillah, kondisi ku sekarang sudah jauh lebih baik Elysa. begitu juga dengan selera makanku, sehingga aku sekarang terlihat gendut." ucap Vella terkekeh.
"Syukurlah, yang penting kondisi mu dan bayi dalam kandungan sehat. tidak perlu diet-duet, nanti pada masanya tubuh mu akan kembali cantik seperti biasanya." jawab Elisa.
Dua sahabat ini keasyikan ngobrol-ngobrol, membuat Alex yang menunggu dalam mobil menghidupkan klakson mobil beberapa kali. sehingga Ravela tersadar karena sudah membuat suaminya menunggu lama.
"Elisa, sepertinya aku harus pergi duluan ya. suamiku sudah menunggu. kamu tahu sendiri kan bagaimana suamiku, ya... begitu deh dengan sifat overprotektif nya." jawab Vella.
"Ya, aku mengerti. tapi aku senang banget melihat kebahagiaan mu Vella, hati-hati dan jaga kehamilan mu ya."
__ADS_1
Mereka berpelukan hangat, setelah itu Ravela segera masuk kedalam ke dalam mobil.
"Ravela, kamu begitu beruntung menikah dengan Alexander, dia terlihat begitu perhatian dan mencintaimu. aku ikut senang dengan kebahagiaan mu, meskipun diriku tidak seberuntung kamu, Vella. aku adalah wanita yang sudah ternoda, dan tidak akan ada satupun laki-laki yang sudi menerima ku lagi." bathin Elysa sedih, dadanya kembali terasa sesak seiring dengan air matanya yang tumpah. menciptakan gumpalan kekecewaan yang menghimpit dadanya.