
Revan mengemudikan mobilnya kekediaman sang pujaan hati, dimana Vivian langsung menyambut kedatangan Revan, dengan senyum termanisnya.
"Sayang, aku begitu merindukanmu." teriak Vivian kegirangan dan langsung menghambur kedalam pelukan Revan.
"Aku juga Viv." membalas pelukan Vivian tidak kalah hangatnya.
"Tumben wajahmu terlihat kusut, apa istri pilihan orang tuamu tidak memperlakukan dengan baik?" tanya Vivian penuh selidik.
"Yah begitulah, please jangan bahas dia lagi." ucap Revan dengan tampang memelas.
"Sorry, kalau begitu kita makan malam berdua ya!" ajak Vivian menarik tangan Revan menuju ruang makan.
"Kamu yang masak?"
"Tidak, aku tidak suka masak-masak. mendingan dandan yang cantik, agar kamu tidak bosan untuk mengagumi dan memandang wajahku." jawab Vivian percaya diri.
"Kamu benar sekali sayang." Revan mulai memakan makanan dengan lahap, sesekali mereka saling suap-suapan.
"Sayang, nginap di sini ya!"
"Maaf Vivian, belum waktunya."
"Apa aku tidak menarik bagimu. mau sampai kapan kita bercinta dengan berpelukan dan ciuman saja, apa kamu tidak menginginkan lebih?" goda Vivian dengan tatapan sendu.
"Bukan begitu sayang!"
Revan serba salah ditawari yang enak-enak, sebagai lelaki normal wajar jika dia bergairah dan tergoda, layaknya seekor kucing yang ditawari ikan, sebisa mungkin dia tetap menjaga kewarasannya.
"Lalu kenapa? apa perempuan yang bernama Anabel itu lebih nikmat dibanding aku?"
"Sayang, aku belum pernah menyentuhnya. bahkan kami tidur terpisah, please jangan ragukan kesetiaanku." ucap Revan jujur.
"Ya, aku percaya padamu." Vivian kembali tersenyum senang.
__ADS_1
Setelah pertengkaran, keduanya enggan untuk bertegur sapa. bahkan mereka akan saling menghindar jika berpapasan secara tidak sengaja.
"Lebih baik seperti ini, aku merasa jauh lebih bebas." batin Revan.
"Mas Revanku sayang, temani aku shoping ya." bujuk Vivian bergelayut manja.
"Boleh, buat kamu apa sih yang gak!"
Siang ini Revan dan kekasihnya Vivian pergi ke pusat perbelanjaan, mereka berjalan sambil bergandengan mesra, Kyano yang kebetulan melihat menghampiri Revan.
"Sini dulu, aku mau bicara padamu." Kyano menarik lengan Revan, agak menjauh dari Vivian.
"Mau bicara apa sih, kenapa harus menarikku segala sih." Revan mengibas tangan Kyano kesal.
"Malang sekali nasip Ana, mendapatkan suami bajingan sepertimu." sindir Kyano.
"Jangan ikut campur urusan pribadiku, aku justru kasian padamu, kak. yang jatuh cinta pada istri adik sepupumu sendiri." sindir Revan tersenyum sinis.
"Terserah, jangan halangi langkahku lagi."
"Ana sekarang terbaring lemah dirumah sakit, jika kamu masih peduli dengannya. datanglah!" ucap Kyano.
"Ana sakit?"
"Ya, bahkan kamu sendiri tidak tahu keadaan istrimu karena terlalu sibuk menemani perempuan lain." ucap Kyano melirik kearah Vivian.
"Jangan egois Revan, jika tidak kamu bakal menyesal."
"Apa maksudmu?"
"Kamu pikir saja sendiri, satu lagi! jangan pernah marah jika ada pria lain yang memberikan Ana perhatian lebih nantinya." ucap Kyano lalu melangkah pergi.
Revan terpaku memikirkan kata-kata Kyano berusan, dia tidak menyangka jika Anabella sakit. diakuinya Anabella memang tidak keluar kamar dari semalam.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" tanya Vivian mendekat.
"Viv, shoping kita tunda dulu ya."
"Kok gitu sih ayang?" merengek manja.
"Mommy memintaku untuk segera pulang, ada urusan yang jauh lebih penting lagi." dusta Revan, karena ingin pergi kerumah sakit takut disalahkan kedua orang tuanya.
"Baiklah, tapi jatah belanjaan ditambah dua kali lipat ya."
"Tentu sayang." bujuk Revan sehingga Vivian kembali tersenyum senang, membayangkan barang-barang branded yang akan dibelinya nanti.
Revan langsung melaju menuju rumah sakit, begitu sampai di sana dia tidak menemukan Anabella, perawat mengatakan jika pasien atas nama Anabella sudah diperbolehkan pulang, karena sakit nyeri haid ringan yang tidak butuh perawatan khusus.
"Dasar Kyano, dia sengaja melebih-lebihkan, bahkan kedua orang tuaku saja tidak tahu jika Anabella sakit." gerutu Revan kesal.
Sampai diapartemen yang mereka tempati, Revan langsung berteriak-teriak memanggil Anabella.
"Anabel.... Anabella...keluar kamu!!!" suara teriakan Revan bergema, menuju kamar Anabell.
Rasa penasaran, membuat Revan memberanikan dirinya mengetuk pintu kamar tersebut. berharap gadis itu tidak mengunakan cadar sehingga bisa melihat wajahnya secara langsung.
Tok!Tok!Tok!!
"Anabella?"
Revan menunggu beberapa detik didepan pintu, belum juga terdengar sahutan dari dalam, rasa kesal yang semula begitu menggebu-gebu berubah menjadi khawatir.
"Anabella, apa kamu baik-baik saja?" hening masih tanpa jawaban.
"Aku masuk ya!"
Ceklek!!!
__ADS_1