
Revan menidurkan Anabella di atas ranjangnya, lalu menarik sebelah kaki Anabella yang keseleo barusan.
"Kak Revan, mau apa dengan kakiku?"
"Aku akan memijidnya, agar tidak keseleo lagi. apa kamu keberatan jika kakimu aku sentuh."
"Tid...tidak kak."
Ana akhirnya pasrah, bukannya dia menolak tapi selama ini Anabella tidak pernah disentuh oleh lawan jenis, hanya Revan yang pertama baginya.
"Aduuh...! pelan-pelan kak, ini sakit sekali."
"Tahanlah, agar kamu bisa berjalan normal kembali."
"Syukurlah, kakiku sudah tidak perih lagi. begitu juga dengan bokongku. pijitan kak Revan enak sekali." batin Ana meskipun dia sangat malu untuk mengakuinya. berusaha membiasakan diri, bukankah bersentuhan dengan suami sendiri merupakan ladang pahala baginya.
"Bagaimana rasanya?"
__ADS_1
"Sudah jauh lebih baik, bahkan sudah ringan saat dilangkahkan kembali."
"Istirahat, kali ini biar aku saja yang menyiapkan makanan untuk kita." ucap Revan tersenyum manis dan tulus sekali lalu melangkah keluar kamar.
"Ya Allah, kenapa jantungku kembali berdebar-debar tak menentu seperti ini? oh... jantung apa kamu baik-baik saja didalam sana?"
***
"Sayang, aku begitu merindukanmu."
Super model seksi itu, segera merentangkan kedua tangannya memeluk Revan. beberapa hari sangat sulit untuk dia temui, karena alasan Revan yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Ayang, besok temani aku pemotretan ya!" ucap Vivian manja.
"Sepertinya, aku tidak bisa menemanimu Viv." jawab Revan yang tidak mau bersitatap, dia mulai meragukan cintanya sendiri untuk kekasih yang dulu begitu dipujanya.
"Lho kenapa, biasanya sesibuk apapun. kamu pasti bisa menyempatkan waktu untuk kita berduaan."
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya orang tuaku, beberapa hari ini aku selalu diawasi dan dicurigai. aku takut mereka tidak memperbolehkan kita untuk bertemu lagi." bohong Revan.
"Sayang, kamu selama ini terlalu patuh dan mengikuti saja keinginan orang tuamu. please Revan,...kamu bisa sekali-kali menentang keinginan mereka yang egois, tidak memikirkan kebahagiaan kita yang saling mencinta." rengek Vivian.
"Kalau aku tidak patuh, Daddy mengancam akan mengambil alih dan mencoret namaku sebagai pewaris tunggal, jika itu terjadi? apakah kamu masih mau hidup bersamaku yang tidak punya apa-apa lagi?"
"Bu... bukan seperti itu juga sayang, bagaimanapun juga kita tidak akan bisa hidup hanya bermodal cinta saja. maksudku coba bujuk mereka perlahan-lahan supaya bisa menerimaku juga." balas Vivian yang takut membayangkan jika Revan jatuh miskin.
"Akan aku usahakan, kamu yang sabar ya, sayang!" mengecup pucuk kepala Vivian yang kembali tersenyum senang, percaya akan usaha Revan dalam memperjuangkan cinta mereka yang mulai luntur.
"Kenapa perilaku Revan padaku tiba-tiba berubah ya, tidak hangat dan romantis lagi. jangan-jangan gara-gara perempuan itu, tapi masa iya Revan bakal menyukainya? sejarah dia bukan tipe perempuan idamannya?" berbagai pertanyaan membuat Vivian pusing.
Sepulang dari kantor, Ana menyempatkan diri untuk singgah di pusat perbelanjaan. dia ingin membeli beberapa kebutuhan pokoknya yang mulai menipis. kali ini Ana belanja seorang diri tanpa ditemani asisten ataupun pengawal, dengan begini Ana merasa jauh lebih nyaman tanpa diperlakukan bak seorang putri.
Saat akan membayar belanjaanya, tiba-tiba seseorang memaksa menyerobot tubuhnya dari arah belakang, hampir membuat Ana jatuh ke lantai jika tidak cepat-cepat menyeimbangi posisi berdirinya.
"Eh, jalanya pakai mata ngak sih!" bentak perempuan yang lebih dulu menyerobotnya, yang tak lain adalah Vivian, kekasih suaminya.
__ADS_1
"Maaf, sepertinya kata-kata itu cocok untuk kamu. bukankah kamu yang lebih duluan menyerobot tubuhku dari arah belakang." jawab Ana santai tanpa merasa takut sedikitpun pada Vivian.