
Pagi ini, Alex sudah terlihat sangat rapi dengan stelan kantor yang membuat nya terlihat elegan dan stylish.
"Sayang, kamu jadikan hari ini cek kehamilan?"
"Jadi suamiku, tapi jika kamu sibuk. aku tidak masalah pergi diantarkan oleh asisten Rani atau mami saja." jawab Vella.
"Sesibuk apapun, kamu dan calon bayiku tetap prioritas utama ku." jawab Alex merapikan pakaiannya, Vella membantu memasangkan dasi, kedua tangan Alex melingkar dipinggang nya.
"Baiklah, aku akan sangat senang jika kamu bisa menemaniku."
Pagi menjelang siang, Alex dan Vella berjalan beriringan menuju mobil, mereka akan menuju salah satu klinik ternama, memenui seorang dokter ahli kandungan yang biasa menangani Ravela.
Begitu sampai mereka langsung disambut hangat, tanpa proses antrian ataupun pendaftaran karena Alex merupakan tamu istimewa. selain itu dia juga merupakan pemegang saham terbesar di rumah sakit ini.
"Silahkan berbaring nona." ucap dokter.
__ADS_1
Vella mengikuti saran dokter, berbaring diranjang pemeriksaan. seorang perawat wanita mengoles gel berwarna bening ke bagian perutnya yang sudah membesar.
"Bayi ibu sangat sehat, begitu juga dengan detak jantungnya. tetap jaga asupan nutrisi nona ya, jangan pilih-pilih makanan, apalagi diet." saran Dokter.
"Ya, saya akan mengikuti saran Dokter.""
Alex yang ingin terbaik untuk istri dan anaknya, juga mendatangkan seorang instruktur untuk melatih Ravela senam kehamilan, agar tubuh sang istri tetap bugar selama proses kehamilan nya berlangsung.
***
"Benar sekali tuan, meskipun dia memakai pakaian tertutup. tapi kami bisa memastikan jika dia benar-benar nyonya Natali, istri tuan."
"Bagus, tetap awasi dia. tapi jangan sampai ketahuan. aku tidak ingin Natali kembali kabur lebih jauh lagi." ucap Kenzo yang akan melakukan penerbangan pertama menuju luar kota, tempat terpencil yang menjadi tempat persembunyian Natali selama beberapa bulan terakhir. yang lebih membuat Kenzo syok, tempat tersebut juga merupakan kampung halamannya yang pernah memberikan begitu banyak kenangan buruk dalam hidup nya.
"Mau tidak mau, aku harus mengunjungi kembali tempat itu. meskipun aku sangat ingin mengubur dalam-dalam dan melupakan masa lalu kelam ku." gumam Kenzo menuju helikopter pribadinya.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan jauh, Kenzo kembali menginjakan kaki di desa kelahirannya yang indah, sebisa mungkin dia menahan gejolak dihatinya, wajah tampan nya berkerut dan mengeluarkan keringat dingin, mengigat rumah yang ditempati Natali seorang diri tidak jauh dari rumah masa kecil Kenzo.
"Sekalian tahun aku meninggalkan tempat ini, namun tidak banyak yang berubah. meskipun begitu aku bersyukur tidak ada yang mengenali lagi hati diriku, seorang Kenzo kecil yang dulu pernah menghabisi nyawa ayah kandungnya sendiri." tersenyum sinis tanpa ada sedikitpun penyesalan dihati nya.
Kenzo mengayunkan langkah pelan, berhenti disebuah pohon rindang. memperhatikan dari jarak yang tidak terlalu jauh aktivitas Natali, gadis itu berjalan membawa kantong belanja sayuran, sambil mengelus-elus perutnya yang sudah sangat membesar. detak jantung Kenzo berdegup kencang, nafasnya terasa sesak. sekian lama pencariannya sekarang dia kembali menemukan separuh jiwanya yang hilang.
"Natali tengah hamil besar anakku, apa dia akan kembali mengamuk jika aku tiba-tiba muncul dihadapan nya." Kenzo mulai ragu, namun tanpa disadarinya langkah kaki nya terayun menghampiri wanita yang tengah membuka pintu masuk.
"Hallo istri ku, apa kabar?" ucap Kenzo.
"Suara itu?"
Seketika tubuh Natali bergetar, kantong sayuran yang dipegangnya langsung jatuh seketika menimpa kakinya, membuat Natali tersadar jika dihadapannya saat ini benar-benar Kenzo, pria yang sangat dibencinya semur hidup.
"Kenzo? untuk apalagi kamu mencariku, apa belum puas kamu menyakiti ku." ucap Natali dengan tatapan tajam penuh kemarahan.
__ADS_1
"Ma.. maafkan aku, percayalah aku bukan Kenzo yang dulu. beri aku kesempatan untuk berubah dan menebus kesalahanku, Natali." ucap Kenzo, namun belum selesai dia bicara Natali berusaha untuk kembali kabur kedalam rumah, dengan gerakan cepat, Kenzo berhasil menahan pintu, pandangan mata mereka bertemu.