Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Sosok Elisa yang cantik


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju bandara, Revan lebih banyak diam. pria tampan itu larut dalam pikirannya tentang kehidupan masa kecilnya bersama Anabel, meskipun begitu dia tidak bisa menduga-duga apakah Anabel sekarang sudah menjelma menjadi gadis cantik atau malah sebaliknya, karena sudah sekian tahun mereka tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi.


"Agghh... untuk apa juga aku mikirin gadis bercadar itu, mendingan ngebayangin bercinta dengan Vivin yang tentunya lebih menggairahkan dari segi apapun." bathin Revan, turunan dari sifat mesum sang ayah.


"Kita sudah sampai di bandara, Revan tolong jaga sikapmu nanti jika sudah bertemu dengan Anabel. jangan buat dia kecewa setelah sekian lama kalian tidak bertemu." ucap Vella dengan tampang juteknya.


"Yes, mom."


Vela melangkah turun berjalan mengandeng lengan sang suami, sedangkan Revan memilih berjalan dibelakang menuju ruang tunggu. tidak lama terdengar pemberitahuan jika penerbangan dari negara Turki akan segera sampai, Vella dan Alex terlihat begitu bersemangat.


"Mommy sudah tidak sabaran lagi untuk bertemu Anabel, seperti apa ya dia sekarang." ucap Vella antuasias.


Tidak lama nampak seorang gadis tinggi semampai, terlihat sangat anggun meskipun sebagian wajahnya ditutupi cadar dan hijab dalam, namun tidak mengurangi pesona kecantikannya dengan kedua bola matanya yang indah.


"Anabella anakku." teriak Vella merentangkan kedua tangannya.


"Mommy!" membalas pelukan Vella tidak kalah hangatnya.

__ADS_1


"Aku seperti melihat bayangan sahabatku Elisa, dari kedua bola matamu nak." Vella menagis antara terharu dan merindukan kembali sosok Elysa.


"Aku juga merasakan kembali mempunyai orang tua yang utuh, mom." memeluk erat Elysa sambil terisak-isak.


"Anakku sayang!"


"Daddy!" salim seraya mencium punggung telapak tangan Alex.


"Pasti ini kak Revan?" ucap Anabel kembali ceria, lalu mengatupkan kedua tangannya didada sebagai salam tanpa harus bersentuhan.


"Ya, aku Revan." menjawab dingin tanpa ekspresi, lalu berjalan lebih dahulu menuju mobilnya.


"Perjodohan ini harus dihentikan, memangnya ini zaman Siti Nurbaya. oke next time aku akan bicara empat mata dengan Anabella, memintanya mundur dari perjodohan gila ini." bathin Revan mulai mengatur siasat.


Setelah saling melepas rindu bersama Vella dan Alex, Anabel pamit pulang kerumah peninggalan kedua orang tuanya dulu. meskipun berat melepas Anabel tinggal di sana, tapi Vella harus menghargai keputusan gadis itu yang juga merindukan rumah masa kecilnya yang selama ini tetap dijaga dan dirawat para pelayan setia mereka.


"Anabella, jika kamu butuh apa-apa atau berubah pikiran ingin tinggal bersama kami disini. datanglah sayang....! karena pintu rumah ini akan sekali terbuka untukmu." ucap Vella membelai sayang Anabel.

__ADS_1


"Tentu mommy, Anabella akan sering-sering berkunjung ke rumah ini."


"Terimakasih nak."


***


"Daddy, mommy...aku merindukan kalian."


Anabella mengusap air matanya begitu menginjakan kembali kaki dirumah masa kecilnya, tidak ada yang berbeda masih tetap sama seperti beberapa tahun silam.


Anabella memeluk foto keluarganya, air mata tidak mampu dia bendung lagi, ketika kilasan masa lalu menari-nari indah di pelupuk matanya.


"Anabella ayo habiskan makananmu, sayang!' nampak wajah cantik sang mommy Elisa yang terus mengikuti langkahnya seraya membawa piring dan sendok, menyuapi dengan sabar jika Anabel keasikan main rumah-rumahan boneka Barbie.


"Daddy, aku ingin main kuda-kudaan."


"Baiklah, ayo naik ke punggung Daddy."

__ADS_1


Canda tawa sebuah kekuarga kecil yang bahagia kembali terdengar jelas, sering Isak tangisannya Anabel yang pilu.


"Daddy... mommy...semoga kalian tenang disurga, Putri kecil kalian sudah tumbuh dewasa, mulai sekarang aku akan melanjutkan mengurus perusahaan peninggalan Daddy, aku tidak boleh lemah dan harus kuat seperti keinginan mommy." bathin Anabella mengusap air matanya kembali tersenyum, berusaha ikhlas pada ketentuan illahi.


__ADS_2