
Flashback.
"Byan!!!!!!!!!"
Kedua orang itu berteriak bersamaan. Tepat ketika Anandita dan Navisa menarik tangan gadis itu, mobil dari arah lain datang dan menabrak mobil yang tadi hendak menabrak Byan. Namun karena kejadiannya sangat cepat, salah satu dari mereka sedikit terserempet mobil hitam milik bodyguard Byan. Karena mereka berpegangan sangat erat. Mereka bertiga jatuh seiring dengan terdengar nya suara tabrakan mobil kala itu.
Brukkkkk!"
"Akh!" Byan memekik. Dia mengerejapkan matanya berusaha untuk kembali bangun. Namun Anandita berada di atas tubuhnya. Dia mengulurkan tangan menggoyangkan tubuh Anandita tetapi orang itu tidak bangun.
"Dit, jangan bercanda. Bangun Dit!" Byan mulai panik. Begitupun dengan Navisa. Dia bangun dan merangkak perlahan agar di bisa membantu Byan dan Anandita.
"Nona, Nona kecil tidak apa-apa?"
Bodyguard wanita yang ditugaskan untuk menjaga Byan berjongkok lalu menyingkirkan Dita dari tubuh Byan.
"Tante, jangan begitu sama temen Byan ikh!" Byan menepis tangan bodyguard nya. Dengan sedikit terhuyung Byan kembali merengkuh tubuh Anandita dengan mata yang berkaca-kaca.
"Na, Dita Na, Dita gak bangun-bangun bagaimana ini? Siapapun tolong Dita. Hikssss!" Sejak saat itu Byan terus menangis membuat semua orang yang kala itu melihatnya merasa sangat kasihan.
"Aku harap gadis itu baik-baik saja!" ucap salah satu saksi ketika menyaksikan kejadian itu.
"By, tenang dulu. Aku yakin Dita gak papa. Jangan nangis ya!" Navisa berusaha untuk menenangkan Byan namun gadis itu sama sekali tidak mau mendengarkan dia.
Sampai Ambulance tiba, Byan masih menangis sesenggukan. Ketika dia hendak berdiri kakinya keram karena tadi memangku Dita cukup lama. Belum lagi sandal yang dia kenakan membuat dia kesulitan untuk berdiri. Pada akhirnya dia melepaskan sandalnya malah menenteng sandal itu sembari terus menangis.
Flashback off.
Karena sudah di rumah sakit. Brian membawa istrinya ke UGD. Bukan untuk diperiksa dokter, namun dia sedang meminta obat-obatan juga peralatan untuk membasuh dan mengobati luka di lutut istrinya.
"Akh!" Byan meringis saat cairan alkohol membasahi lukanya. Brian mendongak sesaat. Saat itu, Byan duduk di atas hospital bad, sedangkan Brian duduk di kursi, mengobati luka Byan dengan telaten.
"Sabar sebentar, ini akan segera selesai!" ucap Brian. Mulutnya mengeluarkan angin kecil untuk meniup luka sang istri. Navisa kala itu juga sedang di obati oleh dokter, dia mendapat goresan di lengan dekat sikunya.
__ADS_1
"Om!"
"Hmm. Kenapa?" Brian mendongak menatap Byan.
"Anandita beneran gak papa kan? Om yakin kalau petugas itu tidak sedang membohongi Byan?"
Brian kembali meniup luka di lutut Byan, lalu memasangkan sebuah plester besar. Setelah yakin semuanya selesai, dia berdiri, satu tangannya dia gunakan untuk memeluk pinggang Byan, sementara tangan kanannya mengusap wajah gadis itu lembut. Tatapan matanya membuat semua orang yang ada di sana malah tidak fokus pada pasien yang sedang mereka urus.
"Aku yakin Dita baik-baik saja. Dia gadis kuat By, kamu lihat, beberapa dokter sedang memeriksa nya."
Byan langsung menarik kemeja suaminya ketika mendengar kata dokter.
"Tidak apa-apa. Mereka tidak akan menyentuh mu."
Byan mengangguk. Tangan mungilnya memeluk pinggang sang suami lalu dia sendiri membenamkan wajahnya di perut suaminya itu.
"Om, Om tahu, Byan tadi sangat takut, jangan marahi Om sama Tante bodyguard ya, mereka gak salah. Byan yang meminta mereka untuk mengawasi Byan dari jauh. Byan pikir, Byan sudah besar dan Byan tidak memerlukan mereka. Ternyata Byan salah. Byan malah membuat kekacauan dan malah membuat kalian khawatir."
Brian menggeleng kan kepalanya. Tangan besarnya menangkup wajah Byan. Dia menunduk, menatap mata bulat itu dari jarak yang sangat dekat. Para pasien dan suster sampai melongo, jantung mereka berdebar sangat kencang, bahkan wajah mereka sudah memerah saat ini.
Cup!
Brian mengecup bibir Byan sekilas. Perbuatannya itu sukses membuat orang-orang di sana memekik kegirangan.
"Maaf By, tapi mereka tetap harus di hukum!"
****
Anandita sudah di pindahkan ke kamar rawat inap. Dokter mengatakan jika ada beberapa syaraf di leher Anandita yang cidera. Jika hanya kakinya saja yang keseleo mungkin Dita sudah boleh pulang. Namun untuk memastikan jika gadis itu baik-baik saja. Dokter menyarankan agar Anandita di rawat untuk beberapa hari.
"Dita!"
Byan dan Navisa berlari dan langsung menghambur memeluk Anandita. Orang yang di peluk malah tersenyum, padahal Byan dan Navisa sudah takut setengah mati.
__ADS_1
"Kenapa kalian menolongku hah? Kalau kalian kenapa-napa bagaimana? Aku tidak akan pernah bisa hidup tenang kalau terjadi suatu hal buruk pada kalian. Kenapa kalian tidak membiarkan aku saja yang terluka." Suara Byan yang pada awalnya terdengar sangat keras lambat laun melemah seiring dengan bergetarnya tubuh gadis itu.
Navisa mengusap punggung tangan Byan. "Kita melakukan itu karena kita sayang padamu By. Kenapa kau harus menanyakan hal yang sudah pasti?"
"Iya. Lagipula Gue bisa meminta uang kompensasi yang sangat besar dari suami Lo By. Dia pasti akan memberikan beberapa pun yang Gue minta karena Gue udah menyelamatkan nyawa istri kesayangannya."
Navisa dan Byan langsung berdiri tegak menatap Anandita tajam. Namun detik berikutnya, mereka bertiga memekik lalu tertawa.
"Ternyata kau masih sahabatku Dit, aku takut kau geger otak dan jadi idiot. Ternyata kau masih waras!"
Anandita tertawa. "Aku senang kau baik-baik saja By! Lain kali hati-hati!"
"Heumm. Maafkan aku!"
Ketiga kakak beradik menatap tiga gadis di hadapan mereka dengan sedikit senyum. Mereka tidak menyangka jika persahabatan yang terjalin belum lama itu sudah sampai ke tahap saling melindungi seperti ini.
"Apa kau sudah menghubungi keluarga mu Dit?"
Dita tersenyum hambar. Dia menggeleng. "Tidak, aku tidak akan menghubungi siapa-siapa. Aku bisa sendiri di sini Om. Mereka tidak akan perduli meskipun aku terluka seperti ini."
Brian menautkan kedua alisnya. Orang tua tidak perduli saat anaknya terluka. Orang tua macam apa itu.
"Kalau begitu, aku akan meminta beberapa perawat untuk menemani mu. Aku sangat berterimakasih. Namun aku tidak bisa membiarkan Byan tinggal di sini. Kau mungkin mengerti kenapa aku berbicara seperti ini.
Anandita mengangguk. Iya dia mengerti. Sahabatnya ini memang tidak takut akan rumah sakit, namun dia malah takut ketika di dekati dokter.
"Bawa Byan pulang. Antar kan Navisa juga. Biarkan aku sendiri di sini."
"Tidak bisa, aku gak bisa ninggalin kamu Dit, aku nggak mau pulang."
"Jangan keras kepala Bunny. Sini aku bisiki sesuatu." Byan dan Navisa mendekatkan kepala mereka ke wajah Anandita. Kedua orang itu mengangguk-anggukan kepalanya mendengar ucapan Anandita.
"Iya, kalau begitu kita pulang." Byan dan Navisa langsung melangkah keluar dari ruangan membuat ketiga pria yang masih ada di ruangan itu menatap mereka aneh.
__ADS_1
"Aku rasa wanita memang sulit di tebak Al!" Bima bergumam.
To Be Continued.