Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Pepaya Kalifornia


__ADS_3

Byan juga ketiga sahabatnya terlihat sangat happy membeli semua barang yang mereka inginkan. Brian yang ada di rumah hanya tersenyum melihat pemberitahuan yang masuk ke dalam ponselnya. Haris melirik Brian sekilas.


"Jangan manjakan dia seperti itu Kak, kau tahu, Byan itu memang anak yang baik, dia tidak pernah perhitungan kepada siapapun. Kau adalah orang yang paling dekat dengan nya saat ini, jika kau terus menerus memanjakannya seperti itu, aku takut dia akan besar kepala dan lupa pada jati dirinya yang asli."


Brian hanya tersenyum. "Asal dia bahagia, apapun akan aku berikan Kak Haris, uang bisa di cari, namun kebahagiaan Byan, aku tidak bisa selalu menjadi tolak ukur kebahagiaan nya. Dia memiliki dunianya sendiri. Selama apa yang dia lakukan positif. Aku akan tetap mendukungnya."


Haris mengangguk. Dia menyodorkan secangkir kopi hangat untuk Brian "Minum dulu kopinya! Nanti keburu dingin."


Percakapan di antara Haris dan Brian berjalan lancar. Begitupun dengan percakapan antara Brian dan kedua orang tua Byan.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore, namun Brian masih belum menerima telpon atau pesan dari sang istri.


"Mau ke mana Nak!" tanya Kirani melihat Brian turun dari lantai atas dengan tergesa.


"Brian mau jemput Byan Bu, sepertinya dia lupa waktu."


"Pakai mobil Ayah saja, kalau nunggu sekertaris kamu yang jemput, pasti lama jam segini biasanya agak macet."


Brian berpikir untuk sesat. Pada akhirnya dia mengangguk setuju. Brian menerima kunci mobil dari Adrian dan langsung melesat pergi seperti orang yang hendak mengangkat jemuran karena di luar sudah mulai turun hujan.


*Tergesa banget kamu ya Beib*🤭


"Ayah lihat, Brian pasti sayang banget sama Byan, eumh, udah mah Ganteng, Baik, Sopan, kaya raya lagi. Ibu juga mau kalau dapat suami kayak gitu."


Adrian memutar bola matanya jengah. "Inget umur Bu, lagian mana ada pangeran kayak Brian mau sama nenek-nenek!"


Mata Kirani tiba-tiba membesar. Dia menatap Adrian tajam. "Apa Ayah bilang, Nenek-nenek? Hei Adrian, kau yang Kakek-kakek. Matamu itu sudah katarak ya, orang masih cantik kayak gini di bilang nenek-nenek."


Adrian terkekeh mendengar ocehan Kirani. Dia itu memang selalu menganggap dirinya masih muda.


"Akh, berani-beraninya kau tertawa. Nanti malam tidur di luar! Jangan harap aku akan membukakan pintu kamar untuk mu kambing conge!"


Wajah Adrian mendadak lesu. Dia berdiri hendak mengejar Kirani ke kamar, namun sepertinya dia gagal karena Kirani sudah lebih dulu mengunci pintunya.


"Ibu, cantik, jangan marah dong! Nanti kalau marah ayah tidur di rumah neng Windi saja ya!"


"Berani kau keluar dari rumah ini, ku potong burung kau, dan ku cincang ku masak jadi gule. Mau kau?"


Teriakan Kirani membuat Adrian menciut. Dengan wajah yang putus asa, Adrian kembali duduk di ruang keluarga.


"Ayah godain ibu terus sih, jadi kena batunya kan! Rasain!" Bagas menjulurkan lidahnya kepada Adrian.


"Ayah tidur di kamar kamu ya!"


"No, Bagas udah kesempitan karena ada Kak Haris, Ayah tidur di sana saja. Mangkanya jangan macam-macam sama macan Asia."


Bughhhhh!


Bagas malah menggoyangkan pinggulnya semakin meledek Adrian saat Adrian melemparkan bantal kursi padanya.


"Dasar duralek kamu Gas!"


****

__ADS_1


Brian memarkirkan mobilnya di basement mall terbesar di kota itu. Setelah masuk ke dalam, Brian menekan sebuah panggilan lalu menempelkan ponselnya di telinga.


"By, kamu di mana?" tanya nya to the point.


"Byan lagi makan es krim Om. Om udah jemput ya?"


"Heum, kamu ada di lantai berapa?"


"Lantai 12 kayaknya Om!"


"Aku ke sana sekarang, jangan kemana-mana!"


Brian menaiki lift untuk naik ke lantai yang Byan maksud. Selama lift itu berjalan, dia terus bergerak gelisah, sampai suara seseorang membuyarkan kegelisahannya.


"Brian!"


Wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai tersenyum sembari menunjuk Brian.


"Kau mengenal ku?" tanya Brian cuek.


"Tentu saja, kita kuliah di jurusan yang sama. Dulu kita sering satu kelompok juga. Aku Rena!" wanita itu mengulurkan tangannya di depan Brian.


Ting!


Pintu lift terbuka.


"Maaf, aku harus segera pergi!" ucap Brian mengabaikan uluran tangan Rena.


Rena tersenyum kecut, dia menarik tangannya namun dia ikut berjalan keluar dari lift dan mengikuti Brian.


Rena masih berusaha untuk memulai pembicaraan, namun Brian masih cuek, dia tidak perduli, dan malah merasa terganggu dengan kehadiran Rena.


Laki-laki itu tersenyum melihat sang istri melambaikan tangan ke arahnya. Baru akan melangkah cepat, Brian di hentikan oleh Rena yang menyentuh lengannya.


"Aku boleh minta nomor ponselmu tidak?" Rena menatap Brian dengan senyum seribu bunga di bibirnya.


"Ajay! Lo punya saingan baru tu By!" Anandita menunjuk ke arah Brian dengan dagunya.


"****** emang tu tante-tante. Tenang By, kamu gak akan kalah, wajah kayak gitu mana bisa menang dari kamu!" Tania mencoba untuk mengalirkan energi positif pada Byan.


"Dia gak lebih cantik dari kamu By, jangan khawatir oke!" Navisa ikut mendinginkan.


"Tapi tante itu bohai By, dia tinggi, kayak model, kulitnya juga eksotis, kayak sawo mateng kejemur matahari."


"Cih, sawo mateng, bohai? Kayak model? Yang ada kayak Cicak kelindes becak!"


Byan beranjak dari duduknya. Tanduk di kepala mulai bermunculan, matanya merah, darah nya mulai mendidih. Byan melangkah dengan penuh percaya diri.


"Itu anak kayaknya udah gak bisa di tolong deh!" ucap Anandita.


"Kamu sih malah ngomporin dia. Udah tahu dia pelit banget kalo udah menyangkut suaminya."


"Kita bantuin gak?" tanya Tania menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Harus dong !" Seru Anandita antusias.


"Perasaan aku gak enak," gumam Navisa menepuk keningnya pelan.


****


"Om Brian!"


Brian langsung menoleh, dia melepaskan tangan Rena dari lengannya. Rena menatap Byan sinis. Namun Byan tentu saja tidak mau kalah.


"By!" Brian berseru sembari menyentuh tangan Byan.


"Jangan sentuh Byan sebelum Om cuci tangan Om," sarkas Byan masih dengan mata nyalang menatap Rena tidak suka.


"Aku akan mencuci tangan ku!" Brian langsung berlari mencari wastafel terdekat, dalam kondisi seperti sekarang, mencari tempat untuk membersihkan tangan tidaklah harus selalu ke toilet.


"Cih, jadi anak ingusan aja bangga!" Rena menyilangkan kedua tangannya di bawah dada, dia seolah-olah sengaja ingin menunjukkan buah pepaya miliknya.


"Jangan asal bicara Tante, buah pepaya Tante tidak akan sebanding dengan melon muda yang Byan miliki! Lebih baik yang padat daripada yang luber kan?"


Rena tersenyum meremehkan. Dia berjalan lebih mendekat ke arah Byan. "Kau tahu kan kalau Brian suka yang montok, kau ini siapa sih? Sebegitu bangganya punya badan kurus kayak gini, mana enak lah di peluk, gak ada tantangan nya!" Rena berbisik di telinga Byan. Tanpa dia sadari, Anandita dan Tania sudah ada di belakangnya.


"Tante, kembaran Tante ngikut itu!" Byan menunjuk ke arah pundak Rena.


Wanita itu menautkan alisnya. Dia sedikit menjauh dari Byan, lalu menolehkan kepalanya.


"Akhhhhh! Cicak! Cicak!"


Rena berteriak sembari berlarian ke sana kemari. Byan juga kedua sahabatnya tertawa terbahak-bahak.


"Ada apa?" tanya Brian ketika melihat keributan di depan matanya.


"Tante pepaya, Tante pepaya takut sama cicak!" ucap Byan sembari memegangi perutnya.


"Tante pepaya?" Tanya Brian kebingungan.


"Iya, Tante yang tadi sama om itu, dia Tante pepaya kan?"


"Dia Rena!"


"Oh, Rena ya? Cantik?" Byan menarik kerah coat suaminya. Tawanya berhenti dan langsung di ganti dengan mata memburu menahan amarah.


"Ekh tunggu, kalian dapet cicak dari mana?"


Tanya Byan melepaskan Brian. Brian bernapas lega karena emosi istrinya kembali teralihkan.


"Itu!" Dita menujuk anak kecil yang sedang menangis dan sedang di tenangkan oleh Navisa.


"****** Kalian Dita, Tania, tega-teganya kalian menjadikan aku tumbal!" Geram Navisa kesal.


To Be Continued.


Oiiiiiiiiii.... Pada kemana kalian? Jangan lupa like dan komentarnya ya. Semangat pagi, aktivitas pagi, dan jangan lupa menghalu Guys.

__ADS_1


*Apasih*


__ADS_2