Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Pengakuan


__ADS_3

Aku lagi bad mood Guys. Tolonglah diriku. Huhu.


Jangan lupa like dan komentarnya ya. Dukungan dari kalian adalah yang terbaik.


.


.


.


Brian keluar dari kamar mandi setelah memastikan jika Byan aman. Dia sudah menawarkan diri untuk membantu Byan mandi namun Byan tidak mau dengan alasan kalau dia takut Brian akan menyerangnya lagi. Langkah Brian terhenti di depan rajang. Dia menyibak selimut perlahan. Bercak darah di atas ranjang membuat dia menarik sudut bibirnya, jujur saja, Brian merasa sangat bahagia untuk ini, baru kali ini dia merenggut kegadisan seseorang. Ya, apalagi itu adalah istrinya. Ini membuktikan bahwa belum pernah ada yang menyentuh istrinya sebelum dia. Haruskah dia bangga untuk itu? Oh tentu saja iya.


Dalam hati dia berjanji, setelah ini, dia akan lebih mencintai dan menyayangi istrinya, apapun yang terjadi. Tidak bisa di pungkiri bahwa Brian juga merasa sangat bersalah. Namun suatu saat mereka pasti harus tetap melakukan ini. Semuanya hanya tentang waktu. Lambat laun Byan juga akan terbiasa.


Laki-laki itu menarik kain sprei lalu menggantinya dengan yang baru. Setelah selesai. Dia berjalan ke arah lemari. Mengambil baju juga segala keperluan untuk istrinya. Tadi malam Brian tidak sempat menyiapkan baju untuk Byan, alhasil Byan memakai kemeja kebesaran miliknya.


30 menit berlalu. Brian sedang menyiapkan air hangat juga coklat panas untuk sang istri. Dan ketika dia sudah selesai membuatnya, suara lengkingan sang istri membuyarkan lamunan Brian.


"Om! Byan sudah selesai!"


Itulah yang gadis itu teriakkan. Brian langsung bergegas menuju pintu kamar mandi. Dia masuk dan kembali menggendong Byan keluar.


"Om!"


"Apa bahu Om baik-baik saja?" Byan ingat, semalam dia menggigit bahu suaminya cukup kuat. Dan akan sangat aneh jika itu tidak apa-apa.


"Aku baik-baik saja! Kau shalat dulu, aku mau mandi. Jika tidak shalat sambil berdiri, sambil duduk saja tidak apa-apa!"

__ADS_1


Byan memincingkan matanya. Sejak kapan suaminya tahu mengenai hal-hal seperti ini.


"Aku memang bejad By, tapi aku tahu sedikit tentang agama. Kau tidak usah khawatir. Kita bisa belajar bersama!"


Byan mengangguk mengerti. Selesai dengan shalat nya, Byan tidak langsung beranjak. Dia sedang menikmati coklat panas yang Brian letakkan di sampingnya tadi.


"Apa aku sudah menjadi wanita? Kenapa ini rasanya begitu aneh?" Byan menyentuh pipinya yang memanas. Kegiatan dia dan Brian semalam terus berputar di atas kepalanya. Jujur saja Byan sangat malu. Namun, senyum yang terbit dari hatinya kembali tenggelam ketika pertanyaan-pertanyaan aneh muncul di otaknya.


****


Setelah selesai sarapan. Brian membaringkan istrinya di atas ranjang. Matanya memperhatikan Byan dengan seksama. Ada yang aneh dengan gadis ini, pikir Brian. Dia ikut berbaring lalu menarik selimut sampai menutupi tubuh keduanya. Dengan gerakan perlahan, Brian menelusup kan tangannya di bawah leher Byan lalu menarik gadis itu ke dalam dekapannya.


"Ada apa? Kenapa melamun?"


Brian bertanya sembari memainkan rambut istrinya. Dia menatap mata gadis itu lekat hingga sang empunya tidak tahan untuk tidak menunduk.


"Om!"


"Byan mau tanya sesuatu boleh tidak?"


"Kenapa harus izin dulu?"


Byan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia kembali mendongak menatap sang suami.


"Om, sebenarnya, Om cinta gak sih sama Byan? Atau Om hanya ingin bermain-main saja?"


Brian langsung menghentikan pergerakan tangannya. Jika di tanyai masalah perasaan seperti ini Brian seperti sedang di interogasi oleh ketua hakim. Kenapa dia menjadi sangat gelisah.

__ADS_1


"Om emang gak sayang ya sama Byan!"


Gadis itu kembali menunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Dia melepaskan tangannya dari dada Brian. Byan berusaha untuk berbalik namun tangan kekar suaminya kembali menariknya dan mendekap tubuhnya hangat.


"Aku belum menjawab. Kenapa kau sudah membuat kesimpulan?"


"Aku tahu aku hanya anak kecil Om. Mungkin selama ini Byan salah karena Byan terlalu mencintai Om!"


Brian menarik ujung bibirnya. Dia menyentuh dagu Byan dan sedikit mengangkatnya hingga pandangan mereka kembali bertemu.


"By, kalau aku bilang aku mencintaimu apa kau akan percaya? Jika aku bilang kalau kau adalah wanita pertama yang membuatku jatuh cinta apa kau akan mempercayai ucapan ku?"


Byan diam. Dia hanya fokus mengamati dan menunggu apa yang akan suaminya katakan.


"Aku mencintaimu By. Sangat. Terserah kau mau percaya atau tidak, namun setelah sekian lama bersama dengan mu. Aku yakin, dan aku sangat percaya jika aku benar-benar mencintaimu."


Mata Byan kembali berkaca-kaca. Tanpa sadar. Air matanya menetes membuat Brian sedikit terkejut.


"Kenapa menangis By! Aku menyakitimu lagi?"


Byan menggeleng dengan cepat. Tangannya menarik baju yang Brian kenakan untuk membuat jarak mereka semakin dekat. Byan memeluk tubuh besar itu, membenamkan wajahnya di dada Brian dan mulai memejamkan mata meskipun air matanya terus mengalir.


"Byan capek Om. Byan ingin tidur lagi!"


Brian menarik selimut dan memeluk Byan semakin nyaman.


"Tidurlah! Aku akan membangunkan mu setelah kita semua siap untuk kembali!"

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2