
"Kalian baik-baik di sekolah, jangan nakal, kalau nakal, nanti Om bilangin sama Mommy, kalau Mommy marah, Mommy gak akan mau ketemu sama kalian lagi."
Ameera dan Ammar mengangguk mendengar ancaman dari Aldi. Mereka berdua sudah sangat merindukan ibunya, jadi kalau sudah mendapat ancaman seperti ini, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menurut.
"Kau selalu seperti itu Aldi, kasihan mereka. Mereka itu masih kecil, wajar jika mereka agak sedikit bandel. Lagipula, Byan kan lusa sudah boleh pulang, kenapa kau membohongi mereka?"
Aldi menipiskan bibirnya di depan Navisa, sebenarnya Aldi juga tidak ingin seperti itu, tapi ya mau bagaimana lagi. Dua bocah tengil itu selalu membuat Aldi stres, entah karena tingkah mereka atau yang lain.
"Sudahlah! Jangan bahasa mereka, aku punya sesuatu untuk mu. Ikut dengan ku."
Belum sempat Navisa menjawab, Aldi sudah menarik tangannya dan membawanya pergi dari sana. Mereka berhenti di sebuah cafe yang sangat cantik. Ini masih lumayan pagi, tapi cafe ini sudah ramai.
"Duduklah! Aku akan pesankan cake kesukaan mu."
Navisa mengangguk, dia menurut dan hanya melihat are sekitar cafe tersebut. Interiornya sungguh sangat menggemaskan. Sangat cocok jika di jadikan tempat nongkrong anak muda.
Beberapa menit kemudian, Aldi kembali, membawa cake dan juga late kesukaan Navisa.
"Ini cake red velvet kesukaan mu. Hari ini sepesial karena pemilik cafe memberikan diskon 50%."
Navisa tersenyum dan mengambil cake tersebut. Dari tampilan, warna dan wanginya, Navisa sangat menyukai cake ini. "Kau yakin cake secantik ini diskon 50%?" tanya Navisa meyakinkan. Pasalnya, cake ini masih terlihat sangat segar, kalau ini cake beberapa hari yang lalu sangat tidak mungkin."
"Cobalah!"
Navisa mengangguk lagi, dia menyendok cake tersebut dan memasukannya ke dalam mulut. Katanya langsung membulat, kepalanya terangguk-angguk seperti sebuah pertanda jika cake red velvet itu sangat enak.
"Apa kau menyukainya?"
"Heummmm. Ini benar-benar sangat luar biasa, gak pahit, gak terlalu manis dan semuanya pas. Coba kalau di sandingkan dengan ice cream coklat atau vanilla, pasti rasanya akan lebih segar."
__ADS_1
Aldi pun menganggukkan kepala. Dia mengambil sebuah buku, dan menuliskan sesuatu di atas buku tersebut. Sebuah note yang sangat berarti untuknya.
"Kau sedang apa?" tanya Navisa kebingungan.
"Aku sedang menuliskan review pelanggan. Kau adalah pecinta cake, sama seperti Kak Byan, bedanya, kalau dia terlalu fanatik sama cake coklat, kalau kamu lebih netral, memang aku tahu kalau kamu lebih suka cake red velvet, tapi kalau itu tidak ada, kau bisa memakan cake yang lain."
"Aku tahu tentang itu, tapi kenapa kamu malah membuat review, apa pemilik cafe memintamu melakukan itu, mangkanya cake nya diskon?"
Aldi menggelengkan kepalanya. "Cafe ini adalah cafe milik ku. Dan suatu saat akan mejadi milik mu juga, kau lihat inisial nama yang tergantung di langit-langit!" Aldi menunjuk sebuah hiasan di atas kepala mereka. "N & A!" ucap Aldi dengan senyum lebar.
Sementara Navisa, wanita itu terlihat kebingungan. Kedua alisnya tertaut. Dia masih belum bisa mencerna apa yang di ucapkan Aldi.
Seakan mengerti dengan kebingungan Navisa, Aldi menarik tangan Navisa dan mengusap punggung tangan itu lembut.
"Na, selama bertahun-tahun aku ada di dekat mu, aku sebenarnya sudah tertarik padamu. Apalagi saat Rendy meninggalkan mu demi wanita lain, aku ingin jadi pelindung untuk mu. Navisa, cukupkah selama 4 tahun ini kita berteman, bisakah jika kita menikah saja? Aku mohon, jangan tolak aku, aku janji, aku akan menyembuhkan luka di dalam hatimu. Aku tidak akan menjadi pria yang brengsek dan egois. Aku akan merawat dan menjagamu dengan baik."
Tiba-tiba ruangan di cafe itu menjadi agak gelap, beberapa tirai turun menutupi dinding kaca dan juga jendela yang ada di cafe tersebut, dan yang lebih mencengangkan lagi, semua orang yang Navisa pikir adalah pelanggan, nyatanya malah semakin mendekat ke arah mereka membawa beberapa foster yang mampu membuat Navisa bergeming.
"Aku mencintaimu Navisa. Jadilah bagian dari hidupku, aku janji, aku akan menjadi laki-laki yang setia, aku tidak akan mengecewakan mu. Maukah kau menikah dengan ku?"
Sebuah tulisan di banner yang baru saja muncul semakin membuat Navisa terperangah. Dia melirik Aldi. Aldi mengangguk, meminta Navisa untuk memberikannya jawaban dengan segera.
"Terima!" "Terima!" "Terima!"
Semua orang bersorak heboh meminta Navisa untuk menerima lamaran dari Aldi. Navisa menatap mata Aldi lekat, sorot mata itu tak menunjukan sebuah lelucon. Aldi benar-benar melamarnya. Dengan cara seperti ini?
"Apa kau bersedia Navisa?"
Pada akhirnya Navisa menganggukkan kepala dengan air mata yang mulai berjatuhan. Aldi yang melihat jawaban Navisa langsung menghampiri gadis itu dan memeluknya erat. Sangat erat hingga orang yang di peluk mengeluh kehabisan napas.
__ADS_1
"Maafkan aku Na, maafkan aku!"
Navisa menggelengkan kepalanya. Saat dia ingin berbicara, tiba-tiba Aldi kembali berjongkok, dia mengambil sesuatu dari dalam saku jaket yang dia kenakan. Sebuah cincin berlian muncul. Aldi meraih tangan Navisa dan menyematkan cincin itu di jari manis sang kekasih.
"Terima kasih karena tidak menolak ku Na."
Navisa menganggukkan kepalanya. Dia menghambur ke pelukan Aldi sampai Aldi hampir terjungkal di buatnya.
"Terima kasih Al, terima kasih, aku janji, aku tidak akan bersikap egois lagi."
Semua orang bersorak gembira melihat pasangan itu akhirnya tidak terjebak dalam status friend zon.
...----------------...
Sementara di sudut yang lain, seorang wanita cantik sedang menatap nanar kotak kecil yang ada di atas meja kerjanya. Dia membuka kotak tersebut, ada sepasang gelang cantik yang sepertinya adalah buatan tangannya sendiri. Ada inisial nama A & A di gelang itu.
"Aku tahu kau memang tidak pernah menyukai ku Aldi, terima kasih, meskipun kau tidak menerima ungkapan hatiku, setidaknya kau sudah memberikan aku kesempatan untuk mengatakan isi hatiku. Aku sudah tidak penasaran lagi. Semoga kau bahagia dengan wanita yang kau cintai."
"Apa kau di tolak?" tanya seseorang tiba-tiba.
Agnes langsung menutup kotak tersebut dan menyembunyikannya. Dia menolehkan kepala ke belakang.
"Mike!"
"Aku tahu kau akan di tolak, sebenarnya, sejak awal aku sudah sadar jika Aldi itu hanya menganggap mu sebagai teman Agnes, sama seperti ku. Namun aku salut padamu, kau bisa mengutarakan isi hatimu dengan lantang, sementara aku hanya bisa terus bersembunyi dengan perasaan ku. Aku ini seorang pecundang."
Agnes tertawa. "Kau sama sekali bukan pecundang, hanya saja, jangan sampai kau menyesal jika suatu saat wanita yang kau sukai itu di rebut orang lain. Yang aku tahu, wanita sangat menginginkan kejelasan."
Mike mengangguk. Dia dan Agnes saling menatap. Yang satu tersenyum lebar, sementara yang satu tersenyum tipis. Senyum yang penuh arti.
__ADS_1
"Apa kau akan menerima ku jika aku katakan kalau aku sangat menyukaimu Agnes, aku bahkan sampai mengikuti kau ke sini. Apakah tindakan ku ini sudah benar?"
To Be Continued.