Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Kerusakan Mata Brian


__ADS_3

Hai Reader ku yang baik hati. Tolong klik like dan komentar ya. Komentar dari kalian adalah support sistem untuk Author. Terima kasih sudah membaca novel ini. Good luck untuk kita semua. 🤗😊 Salam sayang dari jauh. 😘 Ayok tebarkan bunga untuk Bian 🤭


Happy Reading Guys ....


.


.


.


Brian mengangkat dagu Bian dengan satu kali hentakan. Laki-laki itu menunduk mengikis jarak di antara mereka berdua. Bian sedikit meringis namun dia tidak bisa melakukan apapun. Brian terlalu kuat, jikapun dia mencoba untuk melawan, Bian sudah pasti akan kalah.


Bian memalingkan wajahnya ketika Brian hendak kembali mencium bibirnya. Bian tidak ingin melakukan ini dalam keadaan Brian yang sedang marah, meskipun Bian sangat menyukainya, namun jika situasinya seperti ini Bian agak takut.


"Cih, kau berani menghindar dariku? Kita sudah setuju untuk melakukan ini, aku sudah menyetujui persyaratan yang kau ajukan, dan kau juga mendengar apa yang aku katakan bukan?"


Srakkkk!


Bian refleks menarik piyama yang dia kenakan mencoba untuk menutupi tubuh bagian depannya. Laki-laki ini benar-benar buas. Bahkan dalam satu kali tarikan dia bisa membuat seluruh kacing piyama Bian berhamburan.


"Om, Bian itu istrinya Om, kenapa Om memperlakukan Bian seperti ini? Apakah Om membenci Bian karena Bian sudah menganggu hubungan Om dengan Tante itu, Bian sudah bilang ini bukan salah Bian, Ayah yang menikahkan kita berdua. Kenapa Om melampiaskan semuanya kepada Bian. Om selalu membentak Bian. Om tidak pernah tersenyum kepada Bian. Jangankan berbuat baik, berbicara dengan benar saja tidak. Kalau begitu talak,-"


"Eumh!"


Bian memukul dada suaminya beberapa kali. Dia terus melakukan itu mencoba untuk menghentikan Brian yang mencumbunya dengan ganas. Hati Bian memanas, bukan cuma hatinya, namun matanya juga serasa terbakar. Kenapa laki-laki ini harus marah karena hal sepele seperti itu.


Perlahan Bian mulai menerima apa yang dilakukan Brian. Bukannya menikmati itu, Bian hanya sudah tidak sanggup untuk melepaskan diri dari Brian. Hangatnya air mata yang keluar dari pelupuk mata Bian yang cantik membuat Brian tertegun. Dia melepaskan tautannya dengan napas yang tersengal-sengal. Brian menagkup kedua pipi Bian dengan tangan besarnya. Laki-laki itu juga menempelkan keningnya di kening gadis yang kini sedang menangis tanpa suara.

__ADS_1


Deru napas Brian yang menerpa wajah mungil Bian membuat gadis itu memejamkan matanya. Kenapa dengan hatinya, bahkan setelah Brian memperlakukan dia dengan kasar seperti ini dia malah tidak bisa membencinya. Perasaan apa yang sebenarnya Bian rasakan. Terbelenggu segala pesona yang suaminya miliki membuat Bian tidak bisa meninggalkan laki-laki ini. Bahkan kata talak yang dia ucapkan sebelumnya sangat ingin Bian tarik kembali.


"Jangan lakukan hal seperti itu lagi. Aku tahu kau hanya bercanda. Namun mood ku sedang tidak baik hari ini. Dan jangan mengucapkan kata Talak sembarangan. Aku tidak akan pernah melakukan itu. Jika kau memang ingin pergi, pergilah? Namun satu hal yang harus kau ingat, aku tidak akan menyuruhmu pergi lebih dulu."


Bian membuka matanya. Dia mendongak ketika tautan kening mereka sudah terlepas. Apa yang baru saja dia dengar? Brian berbicara lembut kepadanya? Tidak ada bentakan? Tidak ada teriakkan?


"Sekarang keluarlah jika kau tidak ingin berakhir di sini."


Brian melepaskan pelukannya. Dia berbalik memunggungi Bian yang kala itu masih menatapnya heran. Tiba-tiba Bian merasakan ada sesuatu yang aneh dengan suaminya.


"Keluar Bian!"


Bian sedikit terperanjat. Dia keluar dari ruangan mandi lalu mengambil handuk dan benar-benar keluar dari kamar mandi. Sebelum menutup pintu, Bian sempat memperhatikan Brian yang kini masih berdiri di bawah air shower dengan kepala yang tertunduk.


"Huhhhh. Sepertinya aku sudah gila. Kenapa aku merasa kalau gadis itu semakin cantik? Apa otakku bermasalah? Aku harus menemui dokter mata."


Brian terus melanjutkan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Laki-laki itu masih enggan untuk beranjak. Tangan kanannya malah dia gunakan untuk meninju dinding kamar mandi beberapa kali.


Beberapa jam sudah berlalu. Bian sudah makan malam dengan semua orang terkecuali Brian. Bian hanya berpikir mungkin laki-laki itu marah karena dia yang sempat bercanda tadi. Dia melirik lantai atas beberapa kali. Brian benar-benar tidak turun. Bian hendak naik ke atas namun niatnya terhenti ketika dia melihat Aldi dan Bima sedang asyik bermain game. Mereka berdua terdengar sangat berisik namun sepertinya akan sangat seru jika ikut bergabung.


"Kak Bima! Aldi!"


Kedua laki-laki itu menoleh lalu kembali menunduk. "Kalian sedang main game online ya? Bian boleh ikutan tidak?"


Aldi dan Bima langsung menghentikan permainan mereka. Untuk sesat Bima tersenyum meremehkan. Dia memperhatikan Bian dengan seksama. Bian yang di tatap seperti itu oleh Bima hanya tersenyum.


"Duduklah! Memang kau bisa main game?" Aldi bertanya sembari menuntun Bian untuk duduk di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Bisa dong!" Bian berucap dengan penuh percaya diri. Namun Bima yang ada di sampingnya malah berdecih meremehkan gadis itu.


"Aku ikut Aldi, Kak Bima carilah kelompok Kak Bima sendiri."


Aldi mengangguk dengan mantap. Sebenarnya dia agak ragu, namun karena penasaran, dia hanya menurut ketika Bian mengatakan jika dia ingin satu kelompok dengannya.


Bima menarik kedua bahunya acuh. Bian tersenyum. Dia mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku, namun ketika benda itu keluar, Aldi dan Bima malah di buat melongo.


"Kenapa?" Bian bertanya dengan wajah polosnya.


"Kamu dapat hp ini dari mana? Ini hp kan mahal banget, spek nya juga bagus, kamu di kasih orang tua kamu?" Aldi berbicara dengan penasaran. Pasalnya hp yang di pakai oleh Bian sekarang adalah hp yang sudah sangat lama dia incar. Namun dia masih belum bisa membelinya karena hp itu terlalu mahal dan kedua orang tuanya menolak untuk memberikannya hp mahal seperti itu.


"Akh ini, ini hp pemberian Om Brian." Bian berbicara sembari tersenyum. Aldi dan Bima melongo, mereka sudah berusaha membujuk Kakaknya untuk memberikan mereka ponsel baru namun tidak di gubris. Giliran Bian, dia malah membelikan hp yang paling mahal.


"Ikh kenapa malah pada bengong kaya gitu. Ayok akh, keburu malem. Besok kita harus sekolah Aldi."


Aldi mengangguk meskipun dia masih sangat dongkol. Aldi tidak tahu jika hp itu memang diberikan kepada Bian karena hp lama Bian rusak terkena air hujan.


"Wah, aku pakai Esmeralda ya Al, kamu carilah Asasin yang bagus."


"Yakin bisa pake Esmeralda?" Tanya Aldi ragu.


"Paling juga mati terus," ucap Bima yang sama sekali tidak di tanggapi oleh Bian.


Esmeralda memang kuat dan memiliki kemampuan yang bagus karena selain jadi mage, dia juga berperan sebagai tank. Namun jika belum bisa menggunakannya dengan baik, orang yang menggunakan hero ini pasti akan kesulitan.


"Awas jangan sampe jadi beban," ucap Bima kembali meremehkan Bian.

__ADS_1


"Kak Bima tuh yang harus hati-hati. Nanti Bian sedot energi Kakak sampai darah handphone Kakak habis menjadi putih."


To Be Continued.


__ADS_2