
Selamat pagi Guys. Selamat beraktifitas, jangan lupa menghalu agar bahagia. 🤣🤣🤣 Menyesatkan sekali ya. Sehat-sehat terus ya untuk kalian. Keep semangat Guys.
🔥🔥🔥
.
.
.
Brian kembali ke kamar. Dia mengambil ponsel istrinya lalu kembali berpikir, kemungkinan kenamaan semua orang pergi. Ayahnya masih ada di luar untuk menemui klien dari kota lain. Dia sengaja pulang lebih awal karena dia sudah sangat merindukan istrinya. Anggaplah dia anak durhaka yang menumbalkan ayahnya sendiri untuk kebahagiaan nya. Namun Nugroho juga tidak keberatan. Justru dia yang menyarankan Brian untuk pulang lebih awal.
Mungkin Mbok Jum tahu, pikir Brian. Dia ingin pergi ke lantai bawah, namun langkahnya terhenti saat telinganya mendengar sura gedebak gedebugh dari ruang karoke. Apa mungkin mereka di sana? Mungkin saja, namun tidak ada yang tahu bukan, jadi selain memastikanya sendiri, tidak ada pilihan lain.
Perlahan tangan itu membuka handel pintu dengan sangat hati-hati. Matanya melihat seisi ruang karoke yang temaram dan hanya di sinari oleh layar tv besar. Istrinya sedang duduk bersama dengan Anjani sembari memakan camilan. Kepala Brian menoleh ke arah pandangan dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. Hampir saja dia tersedak melihat dua adiknya sedang berjoged sembari menggunakan kostum anak ayam dan anak kelinci. Bahkan wajah mereka juga di dandani sedemikian rupa.
"Astaghfirullah, kalian lagi pada ngapain?"
Anjani dan Byan menoleh. Sementara Aldi dan Bima, menatap Brian dengan tatapan memelas seolah minta tolong untuk di bebaskan dari segala siksaan yang Nyonya Ratu dan Tuan Putri lakukan.
"Om!"
Byan memkik hendak beranjak, namun Brian berbicara tanpa suara seolah dia mengatakan jika dia yang akan menemui Byan. Laki-laki itu duduk di samping Byan, mengangkat pinggang gadis itu dan memindahkannya ke atas pangkuan. Byan mengalungkan tangannya di leher sang suami. Brian tersenyum, matanya berbinar melihat wajah yang sudah sangat dia rindukan ada di dekatnya.
Cup!
Brian mengecup bibir Byan sekilas. Pipi gadis itu merona. Dia malu sampai-sampai dia menenggelamkan wajahnya di antara pahatan dada bidang sang suami.
"Huekkk!" Aldi menampilkan ekspresi seolah-olah dia ingin muntah.
"Anjir kamu Kak. Kalo mau nge bucin liat tempat kenapa, gak malu sama Ibu?"
Brian tersenyum meremehkan, dia menunjuk ibunya dengan sudut mata. Ketika itu terjadi, Bima dan Aldi langsung menoleh, dan alangkah begonya mereka ketika melihat sang ibu malah sedang asyik memotret dua sepasang suami istri lucnut yang membuat mereka ingin melempar Byan dan Brian ke samudra Pasifik.
"Ibu!" Aldi berteriak seolah-olah dia tidak menerima sikap ibunya.
__ADS_1
"Apa? Kalian lanjutkan bernyanyi, jangan lupa gerakan yang sudah ibu ajari, jangan sampai Byan kecewa."
Brian kembali tersenyum mengejek ke arah dua adiknya yang hanya bisa pasrah meladeni keinginan aneh dari ibu negara.
"Sayang, hari ini aman kan? Mereka tidak membuatmu kesulitan?" Brian menatap Byan tanpa berkedip. Tangannya terulur mengusap juga merapikan rambut Byan yang agak berantakan.
Byan mengangguk. Anjani dan dua adiknya ini sangat memperhatikan dia. Jadi apalagi yang harus Brian khawatirkan. "Om, Byan kangen sama Ibu dan Ayah Adrian. Kapan kita akan menemui mereka?"
Brian diam untuk sejenak. Dia tidak mungkin pergi lagi dalam waktu dekat. Seminggu ini, dia sudah banyak libur. Kasihan ayahnya jika dia mengambil libur lagi.
"Aku akan mengatur waktu untuk menemani mu pergi ke sana. Sabar ya, semoga kita bisa pergi dalam waktu dekat ini."
Byan kembali mengangguk. Sebuah kecupan dia berikan di pipi suaminya. "Terima kasih Daddy~~~ ," bisik Byan di telinga Brian hingga membuat laki-laki itu termenung.
"Jangan menggodaku By!" Brian kembali berbisik di telinga istrinya. Byan hanya terkekeh. Sejurus kemudian, Byan merasakan tubuhnya melayang di udara.
"Mau di bawa ke mana menentu Ibu Bi?"
"Makan ice cream Bu!" jawab Brian asal.
Anjani mengangguk. Dia mengibaskan tangannya menyuruh Brian dan Byan untuk segera keluar dari ruang karoke.
"No, No, kalian lanjutkan sampai Ibu bosan. Kalian tidak tahu kan ini malam Minggu. Ayah kalian lembur. Jadi kalian saja yang temani Ibu."
Bima dan Aldi menurunkan bahu mereka lesu. Apakah hanya orang-orang yang memiliki pasangan yang boleh malam mingguan, mereka juga ingin. Sekalipun jomblo, namun sekedar nongkrong dengan teman-teman mereka di hari seperti ini seharusnya lebih baik kan.
****
Byan menyandarkan punggungnya di bahu sang suami dengan nyaman. Kedua tangan kekar itu masih tidak berhenti mengusap dan mengelus tubuh bagian depannya. Byan hanya bisa menikmati itu dengan mata terpejam. Jangan sampai dia membuat pergerakan dan kembali membangunkan singa tidur dalam diri suaminya.
Busa sabun memenuhi bathtub, aroma wangi juga hangatnya air dan tubuh suaminya membuat Byan lebih rileks. Meskipun dia sangat lelah. Namun perasaan hangat itu membuatnya merasa sangat nyaman.
"By ...."
Sura bas nan berat suaminya kembali terdengar. Laki-laki itu sudah mendaratkan kecupan-kecupan ringan di curuk leher Byan. Gadis itu menggeliat kegelian, tubuhnya meremang merasakan tuskan belut listrik yang kembali menegang di balik punggungnya.
__ADS_1
"By ...."
"Heum!" gumam Byan tertahan. Dia mengigit bibir bawahnya agar suara lucknut tidak keluar dan semakin membakar ga irah sang suami.
"May I? ...."
"More!"
"Yes Baby .... Call me please!" Suara Brian semakin merdu di telinga Byan. Suara keputusasaan yang sedikit mendayu itu membuat Byan ingin menjerit dalam hati. Beginilah dia. Selalu berakhir terperangkap di dalam segala pesona suaminya.
"Daddy~~~" Bri ... akh ...."
"Yes Baby?"
"Please~~ don't play with me Daddy~~~!"
****
*Skip ya 🤣🤣🤣 kalian lanjutkan saja sendiri* Uhuy.
Brian menutupi tubuh istrinya dengan selimut setelah memakaikan istrinya baju tidur yang nyaman. Wajah tampannya tersenyum. Di bawah lampu kamar yang temaram, dia menatap wajah istrinya lembut, tatapan penuh cinta, tatapan yang syarat akan kasih sayang itu sungguh bisa membuat cicak-cicak di dinding langsung mati karena cemburu.
Perlahan dia membungkuk. Mengecup kening istrinya dan berbisik. "Terima kasih Sayang. Kau yang terbaik!"
Brian tersenyum lalu berjalan ke arah meja kerjanya yang ada di kamar itu. Dia menghidupkan ponsel dan menekan panggilan kepada seseorang. Sesekali dia melirik istrinya yang sudah tidur dengan nyaman. Hatinya kembali berdebar, mengingat Byannya yang polos kini sudah mulai terbiasa dengan kegiatan panas yang mereka lakukan. Memiliki istri seperti Byan sangat membahagiakan karena dia bisa menuntun dan memberikan arahan yang seharusnya agar dia dan gadis itu bisa menikmati setiap kegiatan yang mereka lakukan.
"Baik, saya akan mempersiapkan nya!"
"Jangan sampai ada yang terlewat!"
"Baik Tuan Muda."
Tut!
To Be Continued.
__ADS_1
Yeaayyyyyyy..... Akhirnya, semangat pagi ya Guys. Jangan lupa like dan komentarnya. Konflik di novel ini sangat-sangat ringan. Mungkin akan ada yang besar, tapi tunggu dulu. Kita berjalan santai saja.
🔥🔥🔥