Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Kejutan


__ADS_3

Di sebuah cafe besar di kota itu. Terlihat banyak sekali muda mudi yang berinteraksi satu sama lain dalam beberapa meja panjang. Ya, mereka semua adalah alumni SMA angkatan Aldi dan Byan dulu. Sekarang mereka sudah lebih dewasa, ada yang sudah bekerja, masih kuliah, ada yang sudah menikah, namun ada banyak juga dari mereka yang masih menganggur.


"Lo belum kerja Agnes?" tanya Mike kepada lawan jenis di depannya.


Agnes tersenyum sinis. Tangannya mengaduk minuman di dalam gelas. Detik berikutnya dia mendongak menatap Mike.


"Untuk apa bekerja Mike, kedua orang tuaku memiliki banyak uang. Aku hanya perlu berpoya-poya. Tidak harus capek dan pusing memikirkan pekerjaan."


"Tapi Nes, bukannya....!"


Agnes menyenggol lengan sahabatnya. Bisa gawat jika semua orang tahu kalau dia masih kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Bisa hancur reputasinya sebagai dewi juga anak yang cukup pintar di SMA.


"Aku percaya sih. Mana mungkin seorang Agnes bisa nganggur karena sulit dapat pekerjaan."


Sementara di belakang Agnes. Terdengar desas desus yang membuat hatinya panas bak bara yang terlalap api. Gadis itu menajamkan telinganya menangkap setiap informasi yang sedang teman-temannya sebar.


"Kau tahu, kabarnya, si Byan, yang dulu di bilang jadi simpanan Om-om sekarang mau nikah sama orang kaya. Kalau gak salah, suaminya itu berasal dari keluarga konglomerat gitu."


Agnes menarik sudut bibirnya sinis sekaligus mengejek. "Jangan asal bicara kalian itu. Mana ada gadis buluk kayak dia nikah sama konglomerat. Paling suaminya juga aki-aki. Ya pantes aja. Dia kan emang mata duitan. Sama bandot tua aja mau asal banyak duitnya."


Mike menggelengkan kepala. Agnes memang belum berubah dari dulu. Dia tetap saja sombong dan selalu meremehkan orang lain.


Tak berselang lama setelah itu, sebuah mobil super car mewah berhenti di depan cafe, di susul dengan mobil mewah lainnya yang juga berhenti tepat di sebelah super car milik Byan.


Gadis itu turun dengan anggunnya. Kaca mata merek terkenal bertengger manis pada batang hidung yang tidak terlalu tinggi namun masih terbilang mancung.


Semua mata tertuju padanya. Tubuh itu tak terlalu tinggi, namun dengan pakaian yang dia ke akan menjadikan Byan terlihat lebih jenjang. Pinggangnya kecil namun di bagian-bagian tertentu masih sangat menonjol.


"Apa dia seorang model?" tanya salah satu pria di perkumpulan itu. Pria yang lainnya menggeleng dengan mata terpaku tak bisa beralih dari sosok wanita cantik yang kini berjalan ke arah mereka.


"Ekh, dia ke sini," ucap seseorang. "Apa dia alumni sekolah kita juga? Itu yang dibelakangnya Aldi, Anandita sama Navisa kan, jangan bilang dia ....


"Byan!"


Byan tersenyum membuka kaca matanya mengucapkan salam pada semua orang. Mulut orang-orang yang sebelumnya mencemooh Byan kini membulat menyerukan kata wuahhhh secara tidak sadar.


"Wah, kalian udah semakin tua ternyata!"


Byan berucap membuat salah satu dari mereka protes tak terima. Byan hanya terkekeh. "Aku ngucapin salam lho. Tapi gak di jawab, aku pikir kalian sudah semakin tua dan menjadi sedikit tuli."


Semua orang mengangguk menjawab salam Byan. Gadis itu tersenyum. Duduk di sebrang Agnes yang masih menatapnya penuh kebencian.


"Mau pesan apa By, biar aku pesankan," ucap Aldi menaruh sebuah paper bag di atas meja di dekat Byan.


"Aku mau Croque monsieur sama milk shake strawberry saja."


Aldi mengangguk, dia pergi meninggalkan Byan dengan yang lain. Lagi-lagi wajah semua orang di buat bingung. 4 tahun yang lalu mereka memang sudah tahu jika Aldi sangat dekat dengan Byan. Tapi yang mereka heran, kenapa sekarang malah semakin dekat, bahkan Aldi terlihat sangat perhatian kepada Byan.


"Byan. Aku ingin bertanya, apa benar kau akan menikah dengan orang yang kaya raya?"


Byan tersenyum sembari mengangguk. Agnes melirik Byan sekilas lalu berbicara tanpa menatap gadis itu. "Kau akan menikahi kakek-kakek kan? Cih, jadi istri bandot tua saja bangga. Dasar matre."

__ADS_1


Anandita dan Navisa saling tatap. Mereka ingin mencela ucapan Agnes namun Byan melarang mereka.


"Biarkan anjin* menggonggong Na, Dit, omongan Agnes itu tidak penting."


Agnes semakin kesal karena Byan ternyata sudah jauh lebih santai dari dulu, dia tidak mudah terpancing emosi dan cenderung mengabaikan orang-orang di sekitarnya.


"Apa kau akan menikah dengan Aldi?" Tanya salah satu temannya lagi.


"Jangan asal ngomong. Aku tidak mungkin menikah dengan kakak ipar ku."


Aldi kembali dan langsung duduk di samping Byan. Semua orang di buat terkejut untuk yang ke sekian kalinya. Alih-alih makan, mereka malah sudah kenyang dengan berbagai kejutan yang Byan berikan.


Broommm!


Suara super car lain yang berhenti di depan cafe itu membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka dari Aldi dan Byan.


"Mampus Lo, bentar lagi pasti kejang-kejang Lo Agnes." Dita berucap dengan seringai di bibirnya.


Sebuah sepatu hitam mengkilap keluar dari dalam mobil, tak lama setelah itu, seorang pria tampan dengan wajah rupawan juga setelan pakaian semi formal keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan gagahnya. Mata semua wanita mendadak mengeluarkan puluhan bentuk hati berwarna merah. Mulut mereka ternganga.


"Apa dia seorang pangeran. Akh, kenapa sangat tampan. Aku menyukainya."


Byan menggelengkan kepalanya. Dalam hati dia menggerutu. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa dengan mudahnya mengatakan jika dia menyukai lawan jenis seperti itu.


"Wah, dia berjalan ke arah kita!" Beberapa wanita memekik kegirangan.


Byan, Aldi, Navisa , Anandita dan Mike memasang wajah kalem seolah itu adalah hal yang sudah biasa. Karena memang mereka sudah tahu.


"Maaf aku terlambat!"


"Maaf sudah menggangu acara kalian," ucap Brian mencoba untuk tidak terlalu ketus.


Semua orang menggelengkan kepalanya dan mempersilahkan Brian untuk duduk.


Anandita memberikan tempat duduknya. Sementara dia berpindah ke samping Navisa dan Mike.


"Apa kau sudah memesan makanan?" tanya Brian. Tangannya terulur membetulkan baju di bahu Byan yang agak sedikit turun.


Pria itu bertingkah seolah-olah di sana tidak ada siapapun. Aldi dan sahabat Byan sudah biasa dengan hal itu meskipun terkadang mereka masih sangat iri. Namun teman-teman reuni mereka, semuanya pasti sangat terkejut dan merasa ingin mencelupkan tubuh mereka ke dalam air lumpur.


"Aldi sudah memesankan ku makanan. Om mau pesan juga?" Tanya Byan menatap suaminya. "Loh, kenapa bibir Om sangat kering, aku sudah menyuruh Om untuk memakai pelembab, kenapa tidak mendengarkan."


Byan menunduk mencari lip balm yang sering dia gunakan. Jari telunjuknya mengambil sedikit lip balm itu dan mengoleskan nya di atas bibir Brian dengan gerakan yang sedikit dia tekan.


"Sekarang, buat gerakan seperti ini." Byan mencontohkan bibirnya yang sengaja dia silaturahim kan. Brian menurut. Dan pemandangan itu sukses membuat semua orang memekik kegirangan.


"Anjir, jantung gue udah gak aman. Apa kita harus nonton adegan seperti ini?" Ucap seorang wanita memeluk sahabatnya gemas seolah dia ingin memakan sahabatnya saat itu juga.


Brian menumpu kan sikunya ke meja. Menatap istrinya lekat membuat semua orang tidak henti-hentinya berdecak kagum sekaligus iri.


"By, ini makanan kamu!" Aldi menyodorkan makanan yang pelayan cafe berikan padanya.

__ADS_1


"Eum. Thank you Al, btw kamu persen cuma buat aku aja, dua jones ini gak kamu pesenin?" tanya Byan menunjuk Anandita dan Navisa.


"Akh, mereka punya kaki dan mulut, biarin aja mereka pesan sendiri."


Byan mengangguk mengerti. Sementara Anandita dan Navisa mendengus mendengar kata Jones juga kata-kata tak berpri pertemanan yang Aldi ucapkan.


"Makan pelan-pelan," ucap Brian. Dia mengambil sebuah ikat rambut dari dalam sakunya lalu mengikat rambut sang istri dengan gerakan telaten seperti sudah terlatih.


"Woahhhh .... benar-benar bikin iri," pekik para wanita yang mulai menggila.


"Om Mau?" tanya Byan menyodorkan potongan sandwich khas Prancis kepada Brian. Brian menggelengkan kepalanya menyuruh Byan untuk menghabiskan semua makan siangnya.


"Kalian pesan saja yang kalian mau. Hari ini aku yang akan bayar makanan kalian."


Semua orang bersorak gembira. Tentu saja mereka gembira. Cafe ini adalah cafe terkenal, makannya juga banyak yang mahal dan memang jarang orang-orang pesan karena harganya yang tinggi.


"Terima kasih Kak," ucap semua orang membungkuk kan badan ke arah Brian. Pria itu mengangguk dan kembali fokus memperhatikan istrinya yang sedang makan.


"Ini cukup enak," ujarnya setelah menjilat sisa saus di jempolnya dari sudut bibir Byan.


Setelah 30 menit, makan siang Byan sudah habis. Milik shake nya juga tinggal separuh.


"Om habiskan ini, sayang kalo gak abis. Pamali."


Brian mengangguk dan meminum milk shake itu sampai habis.


"Kita pergi sekarang ya."


"Heum."


"Guys. Aku pergi dulu. Kalian lanjutkan saja ya. Kartu kredit Om Brian sudah aku titip di Aldi. Jadi gak usah khawatir." Semua orang mengangguk sembari mengucapkan terima kasih.


"Dit, kamu bawa mobil aku ke rumah Ibu Anjani." Byan melemparkan kunci mobilnya pada Anandita. "Awas jangan sampe lecet, kalau lecet, aku ambil ginjal kamu untuk mengganti semua kerugiannya."


"Gue ceburin sekalian ke kali By."


"Boleh, tapi jantungmu aku ambil untuk aku jual. Udah akh. Aku pergi dulu."


Byan menarik tangan Brian, sementara Brian, pria itu menyambar tas sang istri lalu menautkan jemari tangan yang Byan genggam.


"Kenapa buru-buru By?" tanya seseorang.


"Aku ada fitting baju pengantin," pekik gadis itu. "Undangan ada di paper bag. Datang dan tidak usah membawa apa-apa."


Semua orang menjadi sangat penasaran dan langsung menyerbu paper bag yang Byan maksud. Mereka tahu Brian itu bukan orang biasa. Mereka seperti pernah melihatnya tapi di mana. Aldi juga tidak pernah jelas menyebutkan tentang kedua orang tuanya.


"What? Brian Cahyo Nugroho? Nugroho grup?" pekik Agnes dengan mata memerah menahan marah.


"Mampus kan Lo. Kejang-kejang di rumah sana. Iri kan Lo!"


Anandita tersenyum mengejek pada Agnes. Agnes semakin kesal. Dia langsung berdiri dan pergi dari cafe meninggalkan semua orang yang masih sibuk memuja-muja Byan dan Brian.

__ADS_1


To Be Continued.


Bab ini panjang banget ya. 🙏🙏🙏🙏 Kebablasan. 😂😂😂


__ADS_2