Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Mulai Bekerja


__ADS_3

Morning Guys. Apa kabar nih? Udah pada sarapan belum? Yuk sarapan dulu yuk biar kuat ngehalunya. Semangat untuk kita semua.


Jangan lupa like dan komentarnya ya. Thank you. 🤗🤗🤗


🔥🔥🔥


Dua hari setelah perekrutan pegawai baru, kini sebagian anggota developer juga beberapa pimpinan dari divisi yang ada di bawah naungan kepempimpinan Byan sedang berkumpul di ruang rapat khusus. Bukan ruang rapat utama karena ruang rapat ini memang di khususkan untuk ruangan meeting pengembangan produk dan segala sesuatu yang terkait oleh itu.


Semua orang sedang sedang menunggu Byan. Termasuk semua pegawai baru.


"Apa atasan kita belum datang?" Tanya salah satu karyawan.


"Belum. Ini masih kurang 5 menit kok. Mungkin sebentar lagi Bu Byan sampai."


"What? Byan?" Tanya seorang wanita.


"Iya Agnes. Byan. Dia adalah produk owner sementara di perusahaan ini. Itu artinya, dia adalah atasan kita. Memangnya kamu tidak tahu?"


Agnes menggelengkan kepalanya. Dia hampir putus asa karena terus di tolak di berbagai perusahaan. Namun ketika dia melamar ke perusahaan ini, dia langsung di terima. Dia pikir Byan tidak ada hubungannya dengan perusahaan keluarga Nugroho. Tapi sepertinya Agnes salah.


"Selamat pagi semuanya!"


"Pagi Bu!"


Byan tersenyum saat menyapa semua karyawan di sana. Duduk dengan anggun dan langsung membuka laptop yang tadi di bawakan oleh Dito. Agak melenceng memang. Tapi kata Brian, sebelum Byan mendapatkan asisten pribadi, maka Dito lah yang akan menjadi asisten nya.


"Eum. Apa aku harus memperkenalkan diri lagi?" Tanya Byan memecah keheningan.


Hampir semua orang menggelengkan kepalanya. Mereka sudah tahu siapa Byan. Bahkan sekarang, mereka sudah menjadi pengikut akun sosial media yang atasan mereka miliki.


"Sepertinya aku mengenal seseorang."


Byan memincingkan matanya menatap Agnes lekat. Sudut bibirnya tertarik ke atas tat kala dia melihat Agnes duduk tertunduk tanpa mau melihatnya.


"Oke abaikan saja. Mungkin saya salah lihat."


Puas dengan bincang-bincang yang dia lakukan, Byan mulai menjelaskan apa rencananya dan apa yang harus di lakukan semua orang. Mulai dari pengembangan produk, jenis produk juga target pasar sudah dia teliti dengan baik.


Hampir tiga jam mereka membahas ini dan itu. Memastikan semua orang paham, hingga rapat itupun berakhir. Byan akhirnya bisa bernapas lega. Namun ketika dia melihat Agnes hendak keluar dari ruang rapat, Byan memberikan isyarat pada Dito untuk menghentikan wanita itu.


"Maaf. Nona Byan ingin berbicara dengan Anda."


Agnes menatap Dito dengan alis yang tertaut. Mendesah cukup keras dan berbalik menatap Byan.


"Ma ... af Bu. Ada apa ya?"


Byan tersenyum menyeringai. Berdiri dari duduknya lalu berjalan melewati Agnes. "Ikut saya!" Titah Byan.


Agnes lagi-lagi mendengus menghentakkan kakinya kesal. Jika saja dia tidak membutuhkan pekerjaan ini, dia pasti akan langsung mengundurkan diri.


"Om Brian!"

__ADS_1


Byan berlari menuju kursi di meja kerjanya dengan gerakan yang sangat cepat, kini gadis itu sudah duduk di pangkuan sang suami.


"Kenapa? Capek?" Brian bertanya sembari mengusap wajah Byan lembut. Sesekali dia juga mengecup bibir juga pipi istrinya gemas.


"Byan gak capek Om. Tapi Byan butuh tambahan energi."


Kekehan dari mulut Brian terdengar. Seolah mengerti dengan apa yang di katakan oleh Byan, Brian mengangguk dan menarik tengkuk Byan lalu mulai mencumbui gadis itu mesra. Sangat mesra hingga mampu membuat Agnes mati kutu di tempatnya.


"Apa yang kau lihat, segera balikan badan mu!"


Dito menarik lengan baju Agnes supaya Agnes bisa memutar tubuhnya membelakangi Byan dan Brian.


"Dasar lonteh. Jadi kau memanggilku hanya untuk menunjukkan kegatalan mu hah. Cih ... punya suami kayak gitu aja songongnya selangit. Gue sumpahin. Ketiban sial Lo hari ini."


Agnes menggerutu dalam hati merasa kesal dan muak melihat kelakuan Byan yang menurutnya sangat-sangat kampungan. Sementara Dito, dia sudah terbiasa. Apalagi sekarang dia telah memiliki istri, kalau dia tidak kuat, dia hanya perlu pulang ke apartemen nya sebentar untuk mempertemukan si Mikky dengan si Lovely lalu kembali ke perusahaan Brian. Brian tidak pernah marah akan hal itu karena Dito memang sudah memiliki kontrak kerja yang panjang dengan puluhan rentetan persyaratan dari Dito.


"Kalian sudah boleh berbalik!"


Suara berat nan maskulin Brian membuat Agnes dan Dito kembali memutar tubuhnya.


"Jadi apa yang ingin kau sampaikan Baby?" Tanya Brian memeluk erat Byan dari belang karena kini Byan duduk memunggunginya.


"Eummm, begini. Kamu kan karyawan baru di sini Agnes. Saya mau, kamu gak usah bergabung di tim developer. Kamu jadi asisten pribadi saya aja. Karena saya sedang butuh."


"By!"


Brian menatap istrinya tidak setuju. Selama ini, alasan Agnes tidak pernah di terima oleh perusahaan manapun adalah karena Brian yang menggunakan koneksi yang dia miliki untuk mem blacklist Agnes dari dunia kerja. Namun saat Byan mengetahui itu, Byan meminta Brian untuk menghentikan aksi gilanya. Byan meminta Brian untuk merima lamaran kerja Agnes saat dia tahu jika Agnes melamar kerja di tim developer.


"Aku akan baik-baik saja," ucap Byan mengecup bibir Brian sekilas.


Brian tersenyum mendengar perintah yang istrinya katakan untuk Agnes. Sekarang dia mengerti kenapa istrinya ingin menjadikan orang yang selama ini selalu berbuat tidak baik padanya berada di sisinya. Byan hanya ingin menggenggam orang itu hingga memegang kuasa penuh atas Agnes. Dengan begitu, dia bisa mempermainkan Agnes dengan mudah juga bisa memantau langsung gerak geriknya.


"Kau memang cerdik Baby!"


Byan mencubit ujung hidung Byan gemas.


"Tapi Bu. Sa ...."


"Saya tidak ingin menerima penolakan Agnes, dan ya, saya ralat ucapan saya. Mulai sekarang, jadilah asisten pribadi saya. Sekarang saya haus Agnes. Tolong belikan saya milk shake di cafe Almira."


Brian dan Dito melongo saat mendengar cafe Almira. Cafe itu agak jauh, namun jika menggunakan kendaraan malah lebih jauh karena harus memutar. Jalan satu-satunya adalah, Agnes harus berjalan. Padahal di depan perusahaan juga ada cafe terkenal yang menyediakan milk shake. Namun mungkin Byan memang masih menaruh kekesalan terhadap Agnes.


Agnes membungkuk sembari keluar dari ruangan Byan. Jujur saja, dia merasa sangat kesal. Ingin rasanya Agnes menyumpah serapahi Byan, namun dia kembali sadar kalau dia hanyalah sebatas karyawan biasa. Di belakangnya, Dito merasa agak iba dan kasihan kepada Agnes, tapi ya mau bagaimana lagi. Dia juga tidak bisa apa-apa.


"Apa kau akan terus mengerjainya Baby?"


Byan beranjak dari duduknya. Byan ingin duduk di atas meja, namun nyatanya dia kesulitan, hingga pada akhirnya, Brian lagi yang mengangkat pinggang Byan lalu mendudukkan istrinya di sana.


"Thank u," ucap Byan tanpa suara. Brian hanya terkekeh.


"Om!"

__ADS_1


"Ada apa sayang?"


Brian menatap wajah istrinya yang mendadak murung.


"What's wrong with u baby. I'm here. Don't worry about anything."


Brian kembali mengusap wajah istrinya lembut. Terdengar suara helaan napas panjang dari Byan.


"Om, ini salah kan. Seharusnya Byan tidak memanfaatkan keadaan bukan?"


Brian menautkan keningnya bingung masih belum mengerti dengan maksud perkataan istrinya.


"Agnes!"


"Seharusnya aku tidak seperti itu padanya."


Brian mengerti. Pria itu memeluk tubuh istrinya erat. Menyalurkan energi positif yang memang bisa dia salurkan.


"Jangan memaksa dirimu untuk menjadi orang lain. Jika kau tidak bisa melakukan itu, jangan lakukan. Turuti apa kata hatimu. Agnes juga manusia. Mungkin kalau kau mau memaafkan nya, juga memperlakukan dia dengan baik, Agnes akan berubah dan akan mulai menyadari kesalahannya."


Byan mengangguk mengerti. Sekarang kegelisahan dalam hatinya hilang. Byan menjadi tahu apa yang harus dia lakukan agar dia bisa keluar dari semua kenangan buruk yang pernah dia lewati bersama Agnes.


"Terima kasih Om."


"No problem By!"


****


"Astaga. Si Byan itu bener-bener nyebelin. Dia sengaja kan ngerjain gue. Mana panas, milk shake nya pasti gak dingin lagi kalau kayak gini caranya."


Tin! Tin! Tin!


Srakkkk!


Brukkkkk!


Agnes terjatuh ke atas jalan saat sebuah Vespa menyenggol bagian tubuhnya sedikit. Dia ambruk. Belum lagi milk shake yang terbang dan landing di atas kepalanya hingga tampilannya benar-benar sangat kacau dan menghawatirkan.


"Aduh. Maaf Kak. Apa kau baik-baik saja?"


Bukannya menjawab pertanyaan pengendara motor itu, Agnes malah berteriak sambil menendang-nendang kakinya seperti seorang balita yang sedang merajuk.


"Byan!!!!!!!!!!!!"


Lengkingan suara itu begitu menggema hingga semua orang menatap aneh terhadapnya.


.


.


.

__ADS_1


"Aduh, telingaku panas," ucap Byan menggosok telinga di sela-sela kegiatannya.


To Be Continued.


__ADS_2