Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Ketahuan


__ADS_3

Byan buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam selimut saat dia melihat pintu ruang rawatnya terbuka, dia kembali memasang wajah se datar mungkin agar Brian tidak curiga. Ketika waktunya tepat, Byan akan mengembalikannya ponsel suaminya tanpa suaminya tahu.


"Ekhemmmm!"


Brian berjalan mendekati ranjang sang istri, menunduk, lalu menatap wajah istrinya lekat, Byan yang di tatap gelagapan. Namun sebisa mungkin dia menahan ekspresi wajahnya agar terlihat normal.


"Kembalikan!"


Brian menyodorkan tangannya di depan Byan. Wanita itu menatap telapak tangan Brian lalu mengecupnya.


Brian tersenyum, "Jangan mengalihkan topik Baby!"


"Apa? Om bilang kembalikan, jadi Byan kembalikan kecupan yang tadi Om kasih ke Byan."


Brian menggelengkan kepalanya. Namun, detik berikutnya dia semakin menunduk dan mendekatkan bibirnya ke bibir Byan hingga membuat wanita itu memejamkan mata. Brian tersenyum.


Setelah beberapa detik menutup mata, Byan mengerutkan kening karena Brian tak kunjung menciumnya.


"Jadi ini apa?" tanya Brian memperlihatkan ponselnya.


Byan tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku hanya merindukan anak-anak Om."


Brian menghembuskan napasnya perlahan. Tangannya terulur mengusap kepala Byan lembut dan penuh kehati-hatian.


"Kita harus pergi sekarang, waktu kita tidak banyak, karena kita bukan anggota keluarganya, kita hanya di berikan waktu 10 menit untuk melihat keadaan Anthony."


Brian berucap sambil mengambil sebuah kursi roda, memangku sang istri dan memindahkan kursinya itu ke atas kursi roda tersebut. Byan hanya menurut sambil mengangguk. Syukurlah Brian tidak membahas masalah ponsel itu. Sebenarnya, Byan tidak terlalu antusias untuk menemui Anthony. Entah kenapa hatinya seperti mengambang.


"Setiap kau melakukan kesalahan, aku akan menghitung dan mencatatnya, setelah kau sembuh, aku akan menghukum mu untuk semua kesalahan itu.


Deg!


Byan terkesiap saat mendengar bisikan sang suami. Dia tidak jadi tenang, padahal tadi dia sudah sangat bersyukur. Habislah dia, 4 tahun pria ini tidak pernah menyentuhnya, di tambah semua hukuman itu, Byan pasti akan jadi peyek di tangan Brian.


***


Di dalam ICU di ruangan Anthony, Brian berdiri di belakang kursi roda istrinya. Mereka masuk menggunakan baju steril dan juga masker.

__ADS_1


"Aku harus keluar sebentar!" ucap Brian.


Byan menggelengkan kepalanya, namun Brian kembali berbisik. "Waktunya tinggal 5 menit."


Byan pun mengangguk, sementara Brian keluar, Byan mulai menundukkan kepalanya. Detik berikutnya, kepala itu terangkat kembali. Brian mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Anthony.


"Hei Tua bangka, kenapa kau malah berbaring di sini. Setelah apa yang kau lakukan padaku, kenapa kau tidak bahagia. Seharusnya kau bahagia agar aku bisa melupakan mu." Byan mengusap buliran beling di matanya dengan kasar.


"Anthony, aku sekarang sudah sembuh, Om Brian bilang kau selalu menjenguk ku. Terima kasih, aku sangat menghargai itu. Kau benar-benar sudah menyesal bukan? Aku sudah memaafkan mu. Sekarang bangunlah, kau harus sehat. Jangan berbaring seperti ini, kau sangat menyedihkan. Kau sudah punya cucu sekarang. Kau sudah jadi seorang Kakek. Cepatlah sembuh, jika kau sembuh, aku janji, aku akan membiarkan kalian bertemu."


Setelah mengucapkan semua isi hatinya, Byan melepaskan tangan Anthony, dia menggerakkan kursi rodanya untuk menjauh. Dan saat Byan sudah memunggungi Anthony, pria tua itu menitikkan buliran bening dari sudut matanya. Jari telunjuknya bergerak sedikit demi sedikit. Namun, setelah itu semuanya kembali damai.


Brian yang sejak tadi ada di depan pintu, membantu Byan untuk keluar, dia melirik Anthony sekilas, sebenarnya dia merasa sangat kasihan pada Anthony, andai dulu dia tidak membuang Byan, di saat dia terbaring seperti ini, pasti akan ada yang menjaganya.


Namun lagi-lagi itu hanya sebuah andai-andai. Semua yang terjadi sudah di takdirkan oleh yang maha kuasa. Mungkin, jika saat itu Anthony tidak membuang Byan, sekarang gadis yang ada di hadapannya ini pasti akan dinikahkan oleh Anthony dengan orang lain. Mengingat bagaimana masa lalu Brian, Anthony pasti tidak akan sudi menikahkan Byan dengannya.


"Apa kau baik-baik saja Baby?"


Byan mengangguk. Dia baik-baik saja. Dia tidak bohong, Byan memang merasa jika dirinya jauh lebih baik setelah menemui Anthony. Byan janji, jika Anthony sadar, Byan akan mempertemukan dia dengan Ammar dan Ameera. Anthony pasti akan sangat senang.


"Om!"


Byan tersenyum, "aku dengar Kak Rendy sudah menikah dengan wanita dari negri sebrang. Apa selama ini Navisa baik-baik saja?"


Brian mengangguk sembari tersenyum, mendorong kursi roda Byan sampai di dekat kursi tunggu, setelah mengunci roda yang di pakai Byan, Brian duduk lalu mulai menceritakan segalanya.


...----------------...


Satu tahun yang lalu. Di sebuah hotel ikonik yang ada di Singapura yaitu hotel MBS atau Marina Bay Sand, seorang wanita cantik berlarian di lorong kamar hotel tersebut.


Tok! Tok! Tok!


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar itu terbuka, munculah seorang pria dengan pakaian casual nya. Rambutnya berantakan dan sepertinya pria ini baru bangun tidur.


"Kak, Aldi ada di dalam kan?" tanya Navisa dengan napas terengah-engah. Belum sempat Brian menjawab, wanita itu sudah menerobos masuk tanpa menghiraukan si pemilik kamar.

__ADS_1


"Aldi! Aldi bangun!"


Navisa menarik selimut yang di gunakan Aldi. Pria itu malah menarik selimutnya lagi dan kembali tidur semakin nyaman. Navisa naik pitam, dia menarik lengan Aldi sampai pria itu jatuh ke atas lantai.


"Yakkkkk!"


"Kenapa?" Navisa tidak mau kalah dari Aldi dan ikut memekik lebih keras.


"Navisa," ucap Aldi langsung berdiri tegap di depan Navisa. "Ada apa? Kenapa kau ada di sini?" tanya Aldi keheranan.


"Tidak ada waktu untuk, sekarang bersiaplah, kita harus pergi ke suatu tempat."


"Tapi ke mana, aku baru sampai, dan baru saja bangun tidur, biarkan aku mandi dulu."


Navisa menggelengkan kepalanya. Dia menarik tangan Aldi, membawanya berdiri di depan sebuah wastafel. Setelah menyalakan airnya, Navisa menarik leher Aldi agar pria itu menunduk, tanpa berpikir panjang, Navisa langsung membasuh wajah Aldi seperti seorang ibu yang sedang membasuh wajah anaknya ketika bangun tidur di pagi hari.


Brian yang ada di sudut ruangan memperhatikan apa yang sedang terjadi sembari melipat kedua tangan di depan dada. Sesekali dia menggelengkan kepalanya. Brian ternyata lebih beruntung, meskipun Byan terkadang bertingkah aneh, tapi dialah wanita paling normal di antara semua sahabatnya.


"Mana koper Kakak?" tanya Navisa kepada Brian. Brian menunjuk kopernya dengan dagu.


Navisa kembali berlari, dia membongkar koper Brian tanpa meminta ijin kepada sang pemilik.


"Kenapa kau membongkar koper Kak Brian?"


"Kita akan menghadiri pesta pernikahan Aldi, aku butuh setelan yang pas untuk mu, selera Kak Brian lebih bagus dari selera mu. Kita pinjam milik Kak Brian saja."


Brian dan Aldi saling menatap dengan wajah bodoh mereka.


"Kita memang akan menghadiri pesta itu Navisa."


Navisa yang sedang sibuk membongkar isi koper Brian langsung terdiam. Dia berbalik dan duduk di tepian ranjang.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" ucap Navisa sembari menurunkan bahunya lesu.


To Be Continued.


__ADS_1



__ADS_2