Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Brutal


__ADS_3

"Tuan sebaiknya Anda pakai ini dulu!"


Dito menyerahkan sebuah topi hitam, dan masker. Brian mengambil itu meskipun dia sedikit marah. Kenyataan bahwa dia harus menyembunyikan pernikahannya dengan Byan membuat dia tidak leluasa. Brian turun dari mobil dengan langkah lebar. Kaki panjangnya melewati setiap ruangan yang ada di sekolah itu. Aldi tadi mengatakan jika Byan pingsan dan langsung di bawa ke UKS.


Beberapa murid yang masih belum pulang sekolah memperhatikan Brian yang melangkah bak model di atas catwalk. Tubuh tinggi tegapnya membuat para siswi menjerit dalam hati. Beberapa siswi bahkan sampai berjingkrak-jingkrak ingin melihat wajah orang itu. Meskipun terhalangi topi dan masker, namun para siswi itu yakin jika pria itu sangat tampan dan sangat keren.


Tanpa ada keraguan, Brian terus berjalan Melawati koridor panjang. Sampai pada akhirnya dia mendongak dan menemukan tiga huruf besar yaitu UKS menggantung di samping kusen pintu.


Mata Brian membulat ketika dia melihat Byan meringkuk di pojok ruangan dan ada seorang pria yang mengenakan jubah putih sedang berusaha untuk menyentuhnya.


"Brengsek!"


Brian menarik kerah baju yang di kenakan orang itu sampai orang itu tersungkur membentur meja hingga semua yang ada di atas meja itu berhamburan ke atas lantai.


Brian kembali menarik baju pria itu dan menghujaminya dengan bogeman mentah.


Bughhhhh! Bughhhhh! Bughhhhh!


Rahang Brian mengetat mengingat betapa tidak sopan nya laki-laki yang hendak menyentuh istrinya tadi.


"Kakak!"


Aldi melemparkan tas Byan sembarangan lalu berlari menarik bahu Brian. Brian jelas saja menepis segala sesuatu yang Aldi lakukan. "Kakak sadarlah! Kau mau membunuh dokter jaga di sini hah? Mau masuk penjara? Jangan Bodoh lah. Lihat Byan Kak."

__ADS_1


Mendengar kata Byan, Brian langsung menghempaskan dokter jaga dan menghampiri istrinya yang masih meringkuk di pojok ruangan.


"By, Sayang, kau tidak apa-apa?" Brian bertanya dengan suara yang lembut. Namun selembut apapun suara itu, suara Brian tetaplah suara bas yang khas dan begitu deep hati dan di telinga. Brian mengulurkan tangannya menyentuh wajah Byan lalu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah pucat nan panas milik istrinya.


"By, ini aku. Sekarang kau sudah aman. Kita ke rumah sakit ya!"


Byan mendongak. Dia menggeleng dengan air mata yang berurai. Matanya memerah, begitupun dengan wajah dan hidungnya.


"Byan mau pulang Om. Byan gak mau ketemu dokter." Suaranya terdengar sangat lirih tanpa tenaga.


Di ambang pintu. Navisa dan Anandita memperhatikan Brian yang kala itu sedang membujuk sahabat mereka. Navisa menyenggol Anandita membuat Anandita menoleh.


"Mampus kamu Dit, Om Brian marah kayak gitu, lagian kamu kemana aja sih, kok bisa kamu gak jagain Byan."


Anandita mendengus. "Anjir gue ke belet berak Na, mana tahu kalau Bebep kita pingsan. La elu juga ke mana, kenapa nyalahin gue?"


Kedua orang itu terus berseteru. Namun ketika mereka melihat Brian membopong Byan keluar dari UKS, mereka mengikuti Byan dan Brian seperti anak anjing yang mengikuti tuan mereka.


"Aldi Byan gak papa kan?" Navisa bertanya karena khawatir melihat keadaan Byan yang kurang baik.


Aldi menggeleng. "Aku gak tahu, Byan sepertinya demam tinggi. Tapi dia gak mau di sentuh sama dokter."


"Bebep kita emang takut jarum suntik kan Na, sama jarum suntik aja takut, gimana kalau dia lihat jarum yang lebih gede. Gak kebayang deh gimana ngibritnya itu anak."

__ADS_1


Navisa menggelengkan kepalanya. Di saat seperti ini saja Anandita masih bisa memikirkan hal-hal kotor seperti ini. Memang otak Dita ini gak bisa di jauhkan dari hal-hal ******.


"Dit mulut kamu itu bisa di saring dikit gak sih? Jangan sembarang bicara."


Anandita mengangkat bahunya acuh. Sepertinya dia tidak melakukan kesalahan, kenapa Navisa sangat sensi.


Mereka berhenti di depan mobil Brian. Dito keluar membukakan pintu untuk tuan dan Nona kecilnya. Sementara Aldi, Navisa dan Anandita berdiri seraya memperhatikan Brian yang kini sudah duduk di dalam mobil masih dengan Byan di gendongannya.


Settttt!


Jendela kaca mobil itu terbuka. "Kalian ikut ke rumah. Aku harus menghukum kalian semua karena tidak becus menjaga Byan."


Ketiga orang itu membungkuk pasrah. Entah hukum apa yang akan mereka terima. Namun apapun itu seharusnya itu bukan hal yang menakutkan.


"Ekh, gimana kalau kita gak di kasih uang jajan lagi. Aduh, gawat kalau kayak gini. Ayok Al, Na, kita harus segera nyusul mereka. Jangan sampai uang jajan kita hangus begitu saja."


Lagi-lagi Navisa di buat kesal dengan tingkah Anandita. Seharusnya dia lebih mengkhawatirkan Byan daripada menghawatirkan uang jajan yang selama ini Brian berikan.


"Kau ini keterlaluan Dita. Aku malas pergi dengan mu."


"Hei Navisa, kamu mau ke mana, kita pergi bareng. Kamu ke sana mau naik apa, berhemat sedikit Na!"


"Bodo amat. Aku mau pergi sama Aldi aja. Males aku ikut teman mata duitan kayak kamu."

__ADS_1


To Be Continued.


Hai Guys. Maafkan tulisan ku yang masih bertebaran Typo. Kalau ada kesalahan minta tolong di ingetin ya. Soalnya setiap up aku selalu baca ulang, tapi tetep aja ada yang lolos. 😭😭😭 Maafkan untuk ketidaknyamanan ini ya. 🙏🙏🙏


__ADS_2