
"Aku yakin jika mereka memiliki gelar. Tapi kenapa mereka tidak mencantumkan gelar mereka di undangan ini."
Aldi menarik ujung bibirnya. "Untuk apa di tunjukan pada semua orang. Yang membuat orang di hormati itu bukan karena gelar, tapi karena attitude, dan uang. Secerdas apapun kamu, jika kamu miskin, orang-orang akan cenderung mengabaikan mu."
Navisa menyenggol Anandita. "Tumben Lo bener Kodok, biasanya juga gak nyambung," ucap Anandita dengan sedikit tawa.
Aldi mendengus. "Gue tahu ini karena gue udah faham gimana hidup tanpa koneksi ayah Gue keong."
"Tapi Byan juga pasti memiliki gelar kan?" tanya orang-orang ingin memastikan rasa penasaran mereka.
"Dia sudah lulus sekolah magister di Paris. Itu saja sudah cukup kan!" Navisa berucap dengan bangga.
"Wah, keren dong. Hebat banget mereka."
...----------------...
"By!"
"Hmmm!"
"Jadi apa yang membuat mu langsung melanjutkan gelar magister mu? Lebih dari 15 bulan tanpa Navisa, apa yang membuatmu bertekad?"
Byan membalikkan tubuhnya. Dia menatap sang suami dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. 15 bulan tanpa Navisa, lebih parahnya tanpa Brian membuat dia hampir menyerah dan ingin segera pulang. Namun, dari awal, dia memang ingin sekolah jurusan make up dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu. Teknologi, cara bermain di pasar, dan masih banyak hal-hal yang ingin dia gapai. Belum lagi Nugroho, ayah mertuanya mengatakan jika dia akan memberikan kesempatan untuk Byan agar gadis itu bisa bekerja di perusahaan yang sama dengan Brian.
Cita-cita Byan memang tinggi, namun yang paling dia inginkan adalah selalu berada di samping Brian dan memberikan dukungan untuk bisnis yang suaminya jalankan dengan segala kemampuan dan ilmu yang dia miliki.
"Aku memiliki kejutan lain untuk mu. Sesuatu yang sudah aku siapkan khusus untuk Om. Aku janji, setelah kita menikah nanti, aku akan memberitahu Om kejutan itu."
Brian mengangguk. Dia melirik Byan sekilas lalu kembali fokus menyetir. "Udah bisa aku kamu ya sekarang?" Ujar Brian membuat Byan terkekeh.
"Aku udah gede Om. Udah 21 tahun, lebih 6 bulan. Udah dewasa Byan ini. Byan boleh gak manggil Om Kakak?"
Brian menarik satu sudut bibirnya. Kembali melirik Byan dengan senyum menyeringai. "Panggil Daddy juga gak papa." Brian berbicara sembari menaik turunkan alisnya.
"Ikh, itu kan panggilan keramat. Mana bisa di pakai jadi panggilan tetap."
Brian terkekeh. "Fasterhhh Daddyhhh ...."
__ADS_1
Refleks Byan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Gadis itu memekik menahan malu yang teramat sangat. Kenapa Brian harus membisikkan kalimat memalukan itu.
"Kenapa malu, aku suka mendengar kau mengucapkan dua kata itu. Apalagi saat tubuh dan ma mmmmm!"
Byan langsung membekap mulut Brian tak ingin membuat mulut suaminya semakin lemes. Kalimat itu memang tidak salah jika di ucapkan di saat yang tepat. Tapi kalau di ucapkan sekarang kenapa Byan jadi sangat malu dan menjadi berdebar-debar.
"Diam atau aku akan menyumpal mulut mu!"
Brian mengangguk. Dia tersenyum ketika Byan menjauhkan tangannya dari mulut Brian.
"Menyumpal dengan itu kan?" Brian menunjuk bola air Byan dengan mata berbinar.
"Yakkkkkk! Dasar mesum!"
...----------------...
Brian mendongak ketika suara tirai yang menjulang tinggi terbuka perlahan. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Mata elangnya menatap lurus ke depan di mana seorang wanita cantik berdiri dengan balutan gaun pengantin yang melekat indah pada tubuhnya.
Matanya tidak sekalipun berkedip, seolah jika dia melakukan itu, gadis yang ada di depannya akan menghilang. Wajah putih nan mulus, rambut yang masih di biarkan tergerai. Apakah dia memiliki istri seorang Dewi?
"So beautiful," gumam Brian. Tanpa sadar, dia sudah ada di depan Byan. Menatap wajah Byan lekat, tangannya dengan sopan menarik pinggang Byan perlahan.
"Apa ini tidak buruk?" gumam Byan.
Brian menggeleng kan kepalanya. Semakin di lihat, Byan ini semakin cantik dan semakin menggoda. Entah dia yang sudah terlalu mencintai wanita ini, atau memang karena Byan yang memiliki pesona memabukkan.
"Kau sangat cantik By. Sangat."
Byan memejamkan mata tat kala bibir suaminya menyambar bibirnya lembut. Sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Brian semakin menarik pinggang Byan hingga membuat Byan semakin menempel padanya. Mengangkat tengkuknya sedikit dan semakin memperdalam ciuman. Lu matan di bibir Byan kian tak terkendali. Byan semakin kesulitan mengimbangi permainan suaminya yang semakin lama semakin panas.
"Aku mencintaimu By!"
Entah kalimat cinta ke berapa ratus yang Brian ucapkan untuk Byan. Namun dia benar-benar mencintai wanita ini.
...----------------...
Acara resepsi pernikahan itu pada akhirnya terjadi. Hampir seluruh tamu undangan datang ke gedung yang sudah di dekorasi dengan sangat mewah. Seperti sebuah kastil namun dengan sentuhan modern. Kepulan kabut putih juga lampu sorot yang sudah pihak WO rancang membuat Byan dan Brian terlihat seperti sepasang putri dan pangeran dari sebuah kerajaan di negri dongeng. Mereka yang sedang berdansa dengan tatapan memuja dan penuh cinta membuat orang-orang yang melihat itu iri. Pasangan ini terlihat sangat serasi. Perbedaan usia di antara mereka memang terlihat namun tidak begitu ketara.
__ADS_1
Meskipun mereka sama-sama awet muda, namun mereka bisa mengimbangi satu sama lain. Memang siapa yang akan menyangka jika Brian sudah 32 hampir 33 tahun. Wajah tampannya juga postur tubuhnya yang terawat menjadikan dia terlihat masih sangat muda.
"Kau sangat cantik," bisik Brian di telinga sang istri.
Byan terkekeh. "Ini yang ke 57 kali Om, apa tidak bosan terus memujiku seperti itu?" Byan kembali berbisik.
"Aku tidak akan pernah bosan By. Kau adalah wanita tercantik dalam hidup ku. Tapi setelah dia!" Brian menunjuk ke arah Anjani menggunakan dagunya.
Byan tersenyum. Mengelungkan lengan nya di leher sang suami sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang Brian. Matanya menatap seluruh anggota keluarga mereka yang sedang menatap ke arahnya dengan wajah bahagia.
"I love u!"
Ucap Byan tanpa suara membuat semua anggota keluarganya mengangguk.
"Anak kita sudah dewasa Ayah. Byan kita sudah resmi menjadi istri seseorang yang sah di mata agama dan negara."
Adrian mengangguk. "Semoga mereka akan selalu bahagia Bu."
Adrian menarik bahu Kirani, memeluk tubuh rapuh yang kini sudah bergetar. Mereka tidak bisa menahan haru yang amat luar biasa.
"Keluarga Brian tidak mengundang baj ingan itu ke sini kan Yah?" Kirani mendongak menatap suaminya.
Adrian tertegun. Dia memperhatikan seluruh sudut ballroom. Kenapa Adrian bisa sampai melupakan ini. Bagaimana jika orang itu benar-benar datang.
"Kau mencari ku Adrian?"
To Be Continued.
Udah ya guys. Seperti apa yang pernah Author bilang. Mulai hari ini author up 2 bab. 3 bab jika memungkinkan. Hehe.
Mungkin ada sebagian yang udah tahu, tapi ada juga yang belum tahu ya. Mungkin akan ada pertanyaan kayak gini.
Loh kok, Byan sama Brian nikah sah di mata agama gak? Kan ayah kandungnya bukan Adrian!"
Jawabannya sah ya Guys. Anthony memang ayah biologis Byan. Tapi Byan tidak bisa di nasabkan kepada Anthony karena dia adalah anak ibunya. Begitulah status anak yang terlahir di luar pernikahan. Walinya menjadi wali hakim.
Oke gitu aja sih. Takut keblinger Author. 🙈🙏
__ADS_1
Visual Neneng.