
"Maksudmu?" tanya Adelle tidak mengerti.
"Ini semua karena Byan, kau tahu bagaimana cintanya kak Brian kepada wanita itu? Saat itu kami sempat memasakkan sesuatu untuk dia, dan ternyata aku Aldi dan Kak Brian tidak bisa melakukan itu, hasil masakan kami benar-benar tidak enak, dan ketika Byan berangkat ke Paris, kak Brian meminta kami semua untuk ikut les memasak bersama dengannya termasuk ayah Nugroho."
"What?" pekik Adele tidak percaya. Bagaimana dia bisa percaya, keluarga konglomerat dan merupakan orang atau keluarga yang sangat dihormati oleh orang luar ternyata mereka seperti dikendalikan oleh seorang gadis kecil. Benar-benar sangat luar biasa, fakta baru yang sangat mengencangkan.
"Kau mungkin tidak percaya, namun itulah yang terjadi, keluarga kami biasanya selalu sibuk mengurus urusan kami masing-masing. Ayah dan kak Brian yang sibuk bekerja, ibu Anjani juga sibuk dengan kehidupan sosialitanya. Namun setelah wanita itu muncul, semuanya berubah, kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama dan juga banyak melakukan hal-hal konyol yang sebelumnya belum pernah kami lakukan. Jika didengar secara sekilas, mungkin dia itu membawa pengaruh yang sebenarnya tidak terlalu baik, namun untuk kami yang menjalani, kami sangat bahagia, kami bersyukur karena memiliki wanita itu di dalam keluarga kami."
Adelle mengangguk mengerti, bukan hanya Bima dan keluarganya, namun Adelle juga sempat tersihir oleh aura yang ditunjukkan oleh gadis itu ketika dia melihat Byan untuk pertama kalinya. Adelle menyukainya, padahal Adelle bukan tipikal orang yang mudah bergaul dan mudah untuk memberikan hatinya untuk orang lain namun Byan ini memiliki pengecualian.
"Aku ingin tinggal di rumah Ibu dan Ayah Nugroho untuk sementara waktu Sayang!"
Bima mendongak, menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. "Bukankah kita sudah punya tempat tinggal sendiri? Kalau kau tidak suka tinggal satu atap dengan banyak orang jangan di paksa Sayang."
Adelle mengangguk lalu menggeleng kan kepalanya. Menarik kaos yang di kenakan sang suami hingga kini mereka bisa saling menatap tanpa jarak.
"Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang Sayang, namun juga menyatukan dua keluarga. Aku belum mengenal keluarga mu dengan baik. Biarkan aku melakukan pendekatan dengan mereka."
Bima tersenyum, dia menaruh piring yang ada di tangan kirinya ke atas pantry, memeluk pinggang sang istri, hingga kedua tangan itu semakin lama semakin merayap ke atas. Tangan kanannya menyentuh dan menarik tengkuk Adelle agar istrinya itu bisa lebih menunduk.
"Kau memeng yang terbaik Sayang!" gumam Bima sebelum menyambar bibir seksi istrinya, mereka berdua kembali terhanyut dalam perasaan mereka masing-masing. Bima, pria itu menarik bokong Adelle, namun wanita itu menahan tangan Bima dan melepaskan tautan bibir mereka.
"Kita lakukan di sini!" bisik Adelle dengan suara manjanya. Bima tersenyum, dia kembali menyambar bibir sang istri dan melanjutkan kegiatan itu sampai mereka merasa puas.
...----------------...
Jam 15: 30, Adelle dan Bima benar-benar pulang ke rumah keluarga Nugroho, sepasang pengantin baru itu keluar dari mobil sambil berpegangan tangan. Senyum di wajah mereka tidak hilang, pasangan itu terlihat sangat bahagia.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" jawab Mbok Jum.
"Ekh Tuan Bima, Non Adelle, kok udah pulang Tuan, bukannya masih bulan madu!" goda mbok Jum. Bima hanya tersenyum menanggapi ucapan asisten rumah tangga di rumahnya, begitupun dengan Adelle.
__ADS_1
"Ibu di mana Mbok?" tanya Bima.
"Ibu ada di kamar Non Byan Tuan muda. Non Byan lagi nangis."
Bima mengerutkan keningnya, wanita itu menangis? Di jam seperti ini, tapi kenapa? Dia yakin kalau Brian sedang tidak ada di rumah. Tak ingin berpikir terlalu lama, Bima menarik tangan istrinya, membawanya naik ke lantai atas untuk melihat keadaan adik iparnya itu.
"Ibu!" seru Bima ketika membuka pintu kamar Byan. Anjani menoleh, dia melambaikan tangan meminta Bima dan Adelle untuk mendekat.
"Byan kenapa Ibu?" tanya Bima menghampiri Anjani. Adelle pun ikut mendekat, mengecup punggung tangan Anjani lalu memeluknya sebentar.
"Kenapa kalian sudah kembali, ini baru dua Minggu setelah kalian menikah, bukannya mau bulan madu selama satu bulan?"
Bima menggelengkan kepalanya. "Itu tidak penting sekarang Bu, Bima tanya Byan kenapa?"
Anjani kembali melirik menantunya. Byan saat ini hanya berbaring memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri. Matanya terpejam namun air matanya tak berhenti mengalir.
"Kaki Byan bengkak Bim, kita udah coba hubungi dokternya, dokter bilang gak papa, ini wajar, tadi kami juga sudah merendam kakinya dengan air hangat. Tapi entah kenapa, Byan mengeluhkan sakit dan panas. Ibu tidak mengerti karena Ibu dulu tidak seperti ini."
"Tidak, Byan bilang Brian sedang ada meeting penting sore ini, jadi dia melarang ibu untuk menghubungi Kakak mu."
Adelle mengangguk mendengar penjelasan dari Anjani, dia ikut mendengarkan, namun, ketika dia melihat Byan semakin kesakitan dan semakin berkeringat, Adelle mendekat ke arah ranjang, menyingkap selimut yang menutupi sebagian dari tubuh wanita hamil itu.
"Sebaiknya kita bawa Byan ke rumah sakit sekarang Sayang, aku merasa ini sedikit janggal, kau lihat, kakinya bengkak dan memerah."
Anjani dan Bima menatap kedua kaki Byan bersamaan. Mata Anjani membulat begitu melihat kaki menantunya terlihat lebih besar dari sebelumnya, dan ya, benar kata Adelle, bengkaknya agak kemerahan.
Mendengar kata-kata Adelle, Bima langsung memangku Byan dan membawanya keluar dari kamar.
"Ibu, Ibu hubungi saja Kak Brian, Sayang, kau ambil kunci mobil di saku celanaku!" titah Bima. Istrinya mengangguk, dia merogoh kunci mobil itu dan berjalan lebih dulu menuju mobil mereka.
"Kak Bima, sakit Kak!" gumam Byan lirih. Bima menunduk menatap wajah Byan yang semakin pucat.
"Kenapa kau tidak membiarkan Ibu memberitahu suamimu, kalau kau kenapa-napa, dia pasti akan sangat marah, lagipula seharusnya kau juga memikirkan kondisi mu juga bayi-bayi yang ada di dalam perut mu."
__ADS_1
"Hikssss, kenapa Kak Bima marah, Byan tidak bermaksud seperti itu."
"Sudah diam saja. Kau akan baik-baik saja. Percaya padaku."
Setelah sampai di samping mobilnya, Bima mendudukkan Byan di kursi belakang, Adelle pun ikut masuk ke sana.
"Ibu cepatlah!"
Bima berteriak membuat Anjani berlari semakin kencang ke arah mobil anaknya.
"Maaf, ponsel ibu tiba-tiba hilang."
Anjani masuk ke dalam mobil, mengapit Byan yang ada di tengah-tengah dan mulai mengusap juga menenangkan Byan.
"Kau akan baik-baik saja Sayang. Percaya kepada Ibu."
Byan mengangguk lemah. Dia sudah tidak punya tenaga untuk berbicara. Tubuhnya sangat lemas setelah menahan sakit seharian ini.
"Kak Brian sudah di telpon belum?" tanya Bima lagi yang mukai melajukan mobilnya.
Anjani menetap Bima sinis. "Kau budek ya. Ibu sudah bilang ponsel ibu hilang, kenapa masih bertanya."
Bima menggelengkan kepalanya. "Ya sudah, jangan marah, pakai ponsel Bima saja."
"Aku saja yang telpon!" ucap Adelle.
"Heumm. Password nya tanggal pernikahan kita!" ujar Bima menyodorkan ponselnya ke belakang.
To Be Continued.
Sekarang gak nge prank Guys. 😞
Follow IG Author ya. Nanti Author follback. @anita_hisyam . Maksa Lho ini. Yang kemarin salah. 🤣🤣🙏
__ADS_1