
Pagi ini Bian bangun agak siang. Bian juga libur hari ini. Dia memiliki janji dengan Navisa juga Anandita untuk bertemu di sebuah mall, mereka ingin jalan-jalan dan mungkin akan membeli keperluan sekolah yang memang sedang mereka butuhkan.
Gadis cantik itu memutar tubuhnya di depan cermin beberapa kali. Semalam dia tidur sangat nyenyak, entah itu karena sebuah keajaiban atau apa. Biasanya Bian akan merasakan nyeri haid yang agak lama di hari pertamanya. Dulu ketika dia belum menikah, ibunya selalu menemaninya tidur di saat dia sakit. Bahkan, ibunya akan rela tidak tidur semalaman agar Bian bisa tidur nyenyak.
"Huh ... aku jadi kangen Ibu," gumam Bian seraya membetulkan posisi bando yang dia kenakan. Hari ini Bian menggunakan rok di atas lutut dengan atasan dari bahan rajut berwarna putih yang sangat cantik. Tidak lupa tas selempang kecil yang warnanya senada dengan baju yang dia kenakan.
Setelah yakin dengan penampilannya. Bian keluar dari kamar menuju lantai bawah. Dia celingukan mencari ketiga pria yang semalam sudah membuatnya pening, namun entah kenapa Bian tidak menemukan mereka. Dia terus berjalan, sampai pada akhirnya netranya melihat ketiga pria itu sedang sibuk di dapur.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Ketiga orang itu langsung menoleh. Mereka semua terpaku melihat penampilan Bian yang sangat berbeda dari biasanya, Bian terlihat sangat cantik dengan polesan make up tipis juga baju branded yang telah di siapkan Anjani untuknya. Mereka bertiga memperhatikan Bian dari bawah sampai atas tanpa berkedip.
"Bian bertanya kok gak ada yang jawab!"
Brian, Aldi dan Bima tersenyum lalu berjalan mendekati Bian. Ketiga orang itu kompak mengenakan apron yang selalu di pakai Mbok Jum.
"Kita sudah bikin sarapan. Nasi goreng buatan Kak Brian, Telor ceplok Aldi yang bikin. Dan jus semangka ini aku buatkan khusus untuk nona Esmeralda."
Bian mendengus mendengar panggilan Bima yang sangat aneh itu. Bian tahu, Bima baik padanya karena Bima sedang merayu Bian supaya Bian mau ikut kelompok Bima yang akan bertanding e-sport di kampusnya akhir bulan ini. Namun untuk dua orang yang lainnya, Bian sama sekali tidak tahu.
"Silahkan duduk!" Aldi menarik satu kursi di meja makan itu. Bian duduk menerima semua pelayanan yang dia dapatkan. Apapun alasan yang mereka miliki untuk melakukan semua ini, Bian harus menikmatinya.
"Nasi, goreng, dan cake cokelat sudah siap."
Bian mengulum senyum melihat cake cokelat di depan matanya. Ini pasti cake cokelat yang semalam dia tolak.
__ADS_1
"Bian ingin air putih!"
Brian langsung bergegas mengambil gelas juga mengambilkan air minum untuk Bian.
"Bian pengen air hangat. Perut Bian masih kurang enak."
Brian kembali mengangguk. Dia mengambil gelas yang lain lalu mengisi gelasnya dengan air hangat.
"Minumlah," ucap Brian menyodorkan gelasnya ke hadapan Bian.
"Om marah?" sarkas Bian melihat wajah Brian yang sedikit kurang menyenangkan.
"Tidak, aku tidak marah."
"Enak tidak?" tanya Brian dengan wajah harap-harap cemas.
"Telor nya bagaimana?" tanya Aldi ikut penasaran. Sementara Bima, dia hanya diam memperhatikan karena jus semangka nya belum dicicipi oleh Bian.
Bian mengangguk. "Enak, kalian coba saja. Aku jamin, setelah ini kalian tidak akan pernah mau makan nasi goreng di tempat lain. Telor ceploknya juga sangat enak. Rasanya seperti telor mata sapi. Seriusan."
Brian dan Aldi menjadi sangat penasaran. Mereka berdua mengambil sendok lalu mencicipi nasi goreng juga telor ceplok yang sudah mereka buat.
Mata kedua laki-laki itu membulat.
"Huekkk!" Huekkk!"
__ADS_1
Brian dan Aldi refleks menutup mulut mereka lalu berjalan ke arah wastafel. Kedua orang itu memuntahkan isi mulutnya dan membasuh mulut mereka dengan air keran.
Brian buru-buru menghampiri Bian dan merebut piring di tangan gadis itu.
"Jangan di makan lagi, kenapa kau malah menelan makanan seperti ini, muntahkan saja!"
Bian dan Bima tertawa terbahak-bahak. "Lha, yang buat kan kalian, kalian juga yang mau buang, gimana sih, gak bener banget." Bian mengambil jus semangka yang Bima buat lalu meminum jus itu sampai habis setengahnya.
"Nah kalau ini baru bener pake gula. Masa nasi goreng rasanya kayak tape ketan. Telor ceplok punyamu juga rasa lautan Al, asiinnnnnn banget."
Aldi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merasa malu karena ternyata, membuat telor ceplok saja dia tidak bisa lalu bagaimana dia akan menarik simpati Bian.
"Kamu makan cake ini aja. Nanti kita makan siang di luar. Ini sudah jam 10. Sebentar lagi kita berangkat ya!" Brian kembali menyodorkan cake kepada istrinya.
Bian mengambil cake itu lalu menyendok nya ke dalam mulut. "Maafkan Bian Om, Bian sudah ada janji, memang Om tidak lihat Bian sudah dandan kayak gini?"
Brian menggeleng. "Mangkanya kamu ada janji sama siapa?"
Gadis itu kembali tersenyum membuat Ketiga pria yang ada di dekatnya menatapnya penuh selidik.
"Bian pergi sama gebetan Bian. Dia ganteng, keren, dan SETIA."
Bian sengaja menekankan kata setia untuk menyindir suaminya. Ya sukur-sukur kalau Brian tersindir, kalau tidak, Brian benar-benar tidak tertolong.
To Be Continued.
__ADS_1