Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Berakhir


__ADS_3

"Om, apa hari ini Om gak kerja?"


Byan bertanya karena sejak dia di rumah sakit sampai sekarang dia sudah 4 hari di rumah, Brian masih enggan untuk pergi ke kantor, alasannya? Ya tentu saja Byan. Memang apalagi yang bisa membuat orang penggila kerja malah diam di rumah menemani sang istri mengerjakan proyek miliknya yang sempat tertunda.


"Di kantor ada Ayah, biarin aja Ayah yang kerja. Aku masih pengen di rumah By."


Brian malah menggeser meja lipat di atas paha Byan menggantinya dengan kepalanya sendiri, menatap wajah istrinya dari bawah sembari memeluk pinggang istrinya erat.


"Om, Om gak berpikir untuk berhenti kerja kan? Kalau Om gak kerja, nanti siapa yang akan menafkahi Byan?"


Brian langsung bangun dan memeluk Brian dari samping. Menggosokkan kepalanya di antara leher Byan hingga membuat wanita cantik itu memekik geli.


"Om hentikan!"


Brian tidak berhenti, dia malah semakin gencar menggelitik Byan sampai ke perutnya. "Jangan di sana please!"


Permohonan Byan di kabulkan oleh pria itu, namun, namanya juga Brian, dia begitu pantang untuk menyerah, dengan gerakan cepat dia membaringkan Byan dan mengukung wanita cantik itu di bawah tubuhnya. Byan sedikit terkejut, dia membulatkan mata tat kala Brian mulai mendaratkan ciuman-ciuman basah di bibirnya.


"Aku masih sanggup untuk menafkahi mu seumur hidup meskipun aku tidak bekerja Baby!"


Brian berbisik tepat di samping telinga Byan, mengecup leher Byan sekilas, lalu menggigit daun telinga sang istri gemas.


"Aku tahu, aku tidak akan menyentuh mu Baby!"


Brian beranjak dari tempat tidur saat Byan sudah terbawa suasana dan sepertinya wanita itu sudah sangat ingin melakukan sesuatu yang lebih.


"Yakkkkk!"


Byan berteriak saat Brian malah melengos pergi begitu saja. Suaminya itu tersenyum sembari membuka pintu kamar. "Aku akan mengambilkan ice cream untuk mu!"


Byan melemparkan beberapa bantal ke ambang pintu, Brian malah terkekeh dan langsung pergi begitu saja.


"Arghhhhhhhhh!"


Byan mengacak rambutnya prustasi. Merasa terjebak dengan permainan nya sendiri, Byan memang meminta jatah libur untuk dua Minggu ke depan, tapi dia malah tidak menyangka kalau suaminya akan menggodanya terus menerus seperti ini.


Byan ingin kembali mengumpat, namun saat dia hendak membuka bibirnya, mual itu kembali datang, Byan membekap mulutnya lalu berlari ke arah kamar mandi, mencoba untuk memuntahkan isi perutnya, namun tidak bisa, di depan cermin itu Byan menatap pantulan dirinya sembari mengelus perut.


"Haruskah aku memberitahu mu Om?"

__ADS_1


****


Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah perusahaan investasi terbesar di kota itu, Bima sedang duduk gelisah, pasalnya dia sudah memiliki janji dengan seorang CEO perusahaan yang mungkin saja akan menanam saham di perusahaan rintisan miliknya.


"Tuan Bima, silahkan masuk, Anda sudah di tinggu!"


Seorang karyawan yang sepertinya adalah sekertaris dari CEO perusahaan tersebut mempersilahkan Bima untuk masuk, Bima pun mengangguk, merapikan penampilan dan sesekali berdehem untuk mengecek keadaan suaranya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


Sahut orang dari dalam, Bima masuk meski dengan perasaan yang gugup, semua temannya sudah menaruh harapan yang besar kepada Bima, kalau dia sampai tidak mendapatkan investor, maka teman-temannya pasti akan sangat kecewa.


"Selamat siang Pak!"


Orang yang ada di balik kursi memutar kursinya hingga dia bisa bertatapan langsung dengan Bima, pria itu tertegun, mematung seperti orang yang kehilangan nyawa saat itu juga, matanya tidak berkedip, Bima benar-benar bergeming hingga membuat orang yang ada di depannya menautkan kening bingung.


"Permisi!"


Orang itu menjentikkan jarinya sampai Bima kembali sadar dari lamunannya. "Kau pasti ada urusan kan datang ke sini?"


Bima membungkuk beberapa kali. "Iya, Bu, maaf saya tadi salah sangka, saya pikir CEO nya laki-laki."


Brakkkkk!


Dia sedikit mengangkat name yang ada di sebuah benda berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kaca tebal dengan tulisan CEO Adelle Anastasya dan menjatuhkan nya lagi ke atas meja.


"Kau tidak melihat ini?" tanya Adel menaikan alisnya sambil menatap Bima.


Bima menggelengkan kepala. "Maafkan saya Bu."


Adelle mengangguk. Dia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju deretan sofa di ruangan itu. "Silahkan duduk," ujar Adelle setelah dia duduk.


Bima lagi-lagi hanya bisa menurut, dia duduk dan mulai mengeluarkan laptop dan memberikan beberapa dokumen kepada Adelle.


"Saya datang ke sini karena saya ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaan Anda." Bima langsung to the point dan tidak banyak basa-basi. Mungkin, untuk hal lain dia masih bisa oleng, tapi kalau sudah menyangkut pekerjaan, Bima tidak akan melewatkan kesempatan sedikitpun, meskipun dia sangat gugup, namun dia bertekad untuk membuat Adelle mau berinvestasi di perusahaan rintisan miliknya.


"Hmmm. Saya tahu, kau bisa mulai menjelaskan apa yang bisa kau janjikan, dan apa yang bisa kau kembangkan. Kau tahu, jika yang kau janjikan itu tidak membuat ku tertarik, maka pengembangan seperti apapun yang ingin kau lakukan, aku tidak akan pernah melirik usaha mu itu."

__ADS_1


Bima tersenyum dengan percaya diri. Dia yakin, apa yang akan dia sampaikan bisa membuat Adelle tertarik pada proyek ini. Selain mengembangkan game online, Bima dan juga teman-teman nya ingin membuat sebuah teknologi canggih yang akan membantu manusia melakukan aktivitas sehari-hari.


Ketika Bima sudah menjelaskan semuanya, Adelle terlihat sangat puas dan penasaran, belum lagi dengan bukti proyek yang sedang Bima kembangkan, ini merupakan peluang besar, janji yang Bima berikan adalah masa depan yang maju dan melakukan perubahan degan membuat trobosan teknologi canggih yang akan berdampingan dengan manusia.


Prokk! Prokk! Prokk!


Adelle bertepuk tangan saat Bima menyelesaikan persentasinya. Senyum di bibirnya terus mengembang. Adelle merasa kalau ide cemerlang Bima ini sangat menggiurkan.


"Baiklah Pak Bima, besok atau lusa saya akan meninjau perusahaan rintisan Bapak, semoga kerja sama ini berhasil ya!"


Bima menjabat tangan yang terulur di depannya, jujur saja, jantung nya sudah berdegup tak karuan, namun mendengar pujian dari Adelle, Bima merasa sangat lega.


"Terima kasih Bu. Saya akan menunggu kehadiran Ibu di perusahaan rintisan saya."


Mereka berdua akhirnya berpisah. Adelle masih tersenyum memikirkan Bima yang tadi melakukan persentasi. Sebenarnya, Bima ini bukan orang yang banyak bicara, dia begitu lugas dan tidak banyak membicarakan hal yang tidak penting.


"Menarik," gumam Adelle sembari kembali duduk di kursi kebenaran nya.


...----------------...


Sementara di tempat lain, Navisa sedang uring-uringan tidak jelas, dia baru saja tahu, kalau selama ini Rendy sudah berbohong kepadanya. Rendy mengatakan jika dia hanya seorang pegawai bengkel, namun hari ini Navisa tahu bahwa Rendy ternyata adalah pemilik bengkel tersebut. Bahkan, bengkel besar itu sudah memiliki puluhan cabang di seluruh negri.


"Dengarkan aku dulu Na, aku gak berniat untuk membohongi mu selamanya, aku hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk membicarakan nya dengan mu."


Navisa mendengus, dia tidak perduli dengan apa yang Rendy ucapkan. "Dengarkan aku ya Kak, kau membohongi ku supaya kau bisa tahu aku ini perempuan matre atau bukan kan? Sekarang kau sudah tahu aku perempuan seperti apa. Jika kau sudah puas, maka kita akhiri saja permainan mu sampai di sini."


Navisa melengos pergi meninggalkan Rendy. Dia tidak perduli saat Rendy terus memanggil namanya, Navisa menghentikan sebuah taksi dan langsung masuk begitu saja. Rendy berusaha untuk membuka pintu taksi tersebut, namun tidak bisa.


"Na! Sayang, dengerin aku dulu! Na!" ....


Rendy meneriakkan nama Navisa berkali-kali, namun itu percuma saja karena taksi yang Navisa naiki sudah melesat pergi.


"Kita akhiri sampai di sini saja Kak! Untuk apa kita teruskan hubungan ini kalau kau tidak bisa melihat ketulusan ku."


Navisa mengusap air matanya perlahan, menatap kosong ke luar kaca jendela mobil dengan perasaan tak menentu.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continued.


__ADS_2