Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Melakukan Yang Terbaik


__ADS_3

"Apa kau gila? Kenapa kau membatalkan pernikahan mu Navisa? Jika hanya karena aku, aku bisa menyuruh seseorang untuk melakukan live siaran di resepsi pernikahan mu. Kenapa kau malah membuat keputusan seperti ini?"


Navisa menunduk mendengar Byan yang mengoceh karenanya. Namun Navisa bisa apa, dia sudah bertekad, meskipun dia bisa mengulang waktu, Navisa tidak akan pernah merubah keputusannya, dia akan tetap melakukan hal yang sama.


"By, kau tahu, kau sudah aku anggap seperti adik ku sendiri, aku tidak mungkin melakukan pernikahan dan berbahagia di saat kau sedang berjuang di sini, aku tahu mungkin aku bodoh, tapi laki-laki itu bukan hanya satu, namun mencari sahabat yang menyayangi kita seperti mu, darimana aku bisa mendapatkan nya hmm? Jangan memikirkan masalah ini, kau tahu, dari kejadian ini, aku tahu sifat pria itu aslinya seperti apa, aku tidak menyesal telah membuat keputusan seperti ini. Aku hanya ingin melihatmu sehat By, kita akan berkumpul lagi seperti dulu setelah kau keluar dari rumah sakit ini."


Byan menggelengkan kepalanya. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya, namun melihat Navisa yang begitu menyayanginya, Byan semakin bersemangat menjalani semua ini, dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan menyerah, demi orang-orang yang menyayanginya, Byan akan terus berjuang sampai akhir.


"Maafkan aku Na, maafkan aku!"


Byan merentangkan tangannya, meminta Navisa untuk mendekat ke arahnya. Navisa pun menurut, dia tersenyum dan memeluk Byan, kedua wanita itu menangis di depan orang-orang yang kini sedang mengusap sudut mata mereka.


"Aku pikir mereka hanya sekedar berteman Ayah, tapi ternyata ikatan yang mereka miliki lebih dari itu!" Anjani berucap sembari memeluk lengan suaminya.


"Kenapa mereka sangat manis Sayang, aku iri karena tidak memiliki sahabat seperti mereka."


"Tapi kau punya aku sayang, aku akan menyayangi mu lebih dari itu, namun dengan caraku sendiri," bisik Bima di telinga istrinya. Adelle melirik sang suami dan mencubit kulit perut sang suami gemas.


"Aku bangga punya mereka Kak. Padahal jika di pikir-pikir, kita bertemu itu masih belum lama, tapi ikatan kita sudah sekuat ini."


Haris tersenyum sembari mengusap kepala Anandita lembut, Haris juga sangat bangga dan bahagia melihat orang-orang ini sangat menyayangi adiknya. Meskipun mereka tidak ada ikatan darah, namun Byan merupakan orang yang sangat dia sayangi.


"Navisa itu sangat luar biasa Kak Brian, haruskah aku melamarnya setelah Kak Byan sehat kembali?"


Brian melirik Aldi yang ada di sampingnya. Kedua alisnya tertaut, namun segera dia menormalkan raut wajahnya.


"Bekerja dengan giat, pahami perempuan dengan sepenuh hati, jangan sampai dia menolak mu karena kau egois seperti si bodoh Rendy, dia pasti menyesal karena telah melepaskan gadis baik seperti Navisa."

__ADS_1


Aldi mengangguk mengerti, mulai hari ini dia bertekad kalau dia akan belajar untuk memahami perempuan, melihat Navisa yang begitu menyayangi Byan membuat dia yakin kalau Navisa akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk dia dan anak-anaknya kelak.


Sementara Dito, dia masih sibuk menangkan sang istri di pojok ruangan. Sejak Navisa mengatakan jika dia membatalkan pernikahannya demi Byan, istrinya itu tidak berhenti menangis, dia masih sesenggukan seperti orang yang habis di marahi orang lain habis-habisan.


"Sudah sayang, tidak apa-apa. Kau harus bersyukur karena kau berteman dengan orang-orang baik seperti mereka." Tania mengangguk meskipun masih belum bisa berhenti menangis.


Tok! Tok! Tok!


Beberapa suster dan dokter masuk ke ruangan Byan.


"Maaf semuanya, 30 menit lagi operasi akan segera di lakukan, saya akan memindahkan pasien ke ruang operasi."


Dokter itu menghampiri Byan, memeriksa keadaannya terlebih dahulu sebelum mereka benar-benar memindahkannya ke ruang operasi.


"Tunggu Dok!"


Brian tersenyum, ternyata dia tidak salah memilih rumah sakit dan dokter, mereka mengabulkan permintaannya untuk menemani sang istri di ruang operasi.


Semua orang yang ada di ruangan itu mengerumuni Byan dan memberikan semangat untuknya. Operasi di lakukan sebelum usia kandungan Byan genap 9 bulan, namun mereka yakin kalau inilah jalan terbaik yang harus mereka ambil. Dokter mengatakan mungkin karena saat itu Byan sempat menerima obat-obatan yang seharusnya tidak di berikan pada ibu hamil, oleh karena itu kandungannya sedikit bermasalah.


"Kamu akan baik-baik saja Sayang. Ibu tunggu kamu di sini, kita akan pulang bersama semua orang. Ibu percaya kau bisa!"


Anjani mengecup kening Byan Beberapa kali sebelum dia benar-benar melepaskan Byan pergi dari ruangan itu.


"Jangan beritahu Ibu sama Ayah!"


Anjani dan Nugroho mengangguk, mereka kembali menitikkan air mata, bahkan di saat seperti ini pun Byan masih memikirkan kondisi kesehatan ibunya, dia tidak ingin memberitahu Kirani karena dia takut, riwayat jantung yang pernah Kirani derita akan kembali jika mendengar kabar Byan yang seperti ini.

__ADS_1


"Jaga menantu Ibu!" ucap Anjani tanpa suara. Brian mengangguk, dia membantu suster dan dokter yang mendorong hospital bad Byan.


"Byan akan baik-baik saja, kalian harus yakin kalau wanita itu adalah wanita paling kuat di bumi," ucap Aldi menahan tangis di tenggorokannya. Dia berbicara seolah dia adalah orang yang paling kuat di antara semua orang, padahal, dia sampai mencubit lengannya sendiri agar tidak menangis seperti yang lain.


****


Di dalam ruang operasi, semua dokter beberapa asisten dokter sedang berdoa sebelum mereka melakukan operasi. Brian yang ada di atas kepala istrinya terus mengucapkan kata-kata positif dan menenangkan sang istri.


Byan tersenyum, dia menatap langit-langit kamar operasi dengan tatapan yang sulit di artikan. Meskipun bibir dan matanya tersenyum, namun matanya kosong, entah apa yang sedang dia pikirkan, perasaannya menjadi tidak menentu.


Dokter anastesi sudah memastikan jika Byan menerima anastesi dengan baik, dia tidak melakukan pergerakan apapun ketika sang dokter menusuk-nusuk kakinya dengan jarum.


"Bismillah, kita mulai operasi nya sekarang!" ucap Dokter ahli kandungan pada semua orang, dokter ahli bedah pun mulai meminta pisau bedah dan mulai menyayat bagian terluar kulit perut wanita hamil itu.


"Kau wanita hebat sayang, kau wanita kuat. Aku percaya kau bisa. Aku akan selalu ada untuk mu."


Byan mengedipkan matanya, dia memang mati rasa untuk bagian tubuh bawahnya, namun jantungnya terus berdegup kencang, matanya mulai berkunang-kunang. Byan mulai memejamkan matanya. Pelan, Byan mendengar suaminya yang memanggil namanya semakin pelan dan semakin lama dia tidak bisa mendengar apapun lagi.


"Dokter, istri saya, dia, kenapa dia memejamkan matanya, dia tidak merespon saya Dokter!"


Beberapa dokter yang memang bertugas untuk memantau jalannya operasi menghampiri Brian dan menyingkirkan pria itu.


"Sebaiknya Anda menjauh dulu Tuan!" ucap dokter itu pada Brian. "Dokter lanjutan saja, ucapnya pada dokter ahli kandungan, "tolong panggil dokter lain ke sini suster!"


Brian tiba-tiba ambruk di pojok ruangan. Beberapa menit kemudian dia bisa mendengar tangisan bayinya, namun Byan, wanita itu masih belum menunjukkan respon apapun.


To Be Continued.

__ADS_1



__ADS_2