
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" sahut Brian dari dalam ruangannya.
"Tuan, maafkan saya, guru Tuan dan Nona kecil menelpon saya, dia mengatakan kalau Ameera dan Ammar mengganggu teman-teman nya Tuan."
Brian melepas kaca mata yang bertengger di tulang hidung nya yang mancung, menghembuskan napas kasar, lalu menyambar jas yang ada di sandaran kursi kebesarannya.
"Kenapa para bocah itu tidak bisa membiarkan aku tenang Dit!"
Brian menggerutu namun dia masih tetap berjalan keluar dari ruangannya. Dito tidak bisa berkata-kata. Dia hanya mengikuti Brian dan membukakan pintu penumpang saat mereka sudah ada di depan mobil yang sudah terparkir di depan perusahaan Nugroho grup.
"Jalan!"
"Baik Tuan!"
30 menit kemudian, Brian sampai di depan sebuah sekolah di kota itu, sekolah ini merupakan satu tingkatan sekolah sebelum anak-anaknya bisa masuk ke sekolah TK.
Pria itu keluar dari dalam mobil dengan gagahnya. Semua wali dan guru yang ada di sekolah itu di buat terpana dengan ketampanan juga ke gagagahan Brian, laki-laki itu sudah tidak muda lagi, namun semakin matang usianya, dia malah terlihat semakin mempesona.
"Selamat siang Bu, apakah anak-anak saya ada di dalam?" tanya Brian pada seorang guru wanita yang dia yakini sebagai guru juga pengasuh semua anak yang di sekolahkan di sana.
"Daddy!"
Kedua bocah kecil berumur 4 tahunan berlari ke arah Brian, namun saat melihat tatapan dari Ayahnya, Ameera dan Ammar langsung menciut, mereka menunduk dan tidak lagi berlari seperti tadi.
"Apa yang kalian lakukan bocah kecil? Apa kalian tidak mendengarkan Daddy?"
Brian menatap dua bocah kecil itu tajam, namun detik berikutnya dia berlutut dan mengangkat dagu anak-anaknya agar mereka tidak menunduk seperti tadi.
"Mereka berkelahi dengan anak yang 1 tahun lebih besar dari mereka Tuan!" ucap seorang guru wanita yang berdiri di belakang Brian.
"Jadi, sekarang apa alasan kalian berkelahi? Apa mereka kembali menghina kalian? Kalian tidak bisa melawan dengan kata-kata?"
__ADS_1
Ammar dan Ameera menggelengkan kepalanya. Dua bocah itu menatap Brian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Meleka mengganggu Ameela Daddy, tadi lambut Kak Ameela di talik sama anak nakal itu, meleka juga bilang kalau meleka aman jika mengganggu Ameela kalena gak akan ada yang bela Ameela, meleka bilang Ameela gak punya ibu. Ammal hanya ingin membantu Ameela Daddy, Ammal tidak salah. Ameela juga tidak salah."
Brian tersenyum getir mendapatkan jawaban dari anak laki-lakinya, dia menarik Ammar dan Ameera ke dalam dekapannya. Dua bocah kecil itu malah menangis membuat guru tadi merasa tidak tega dan ikut menitikkan air mata.
"Maafkan saya Bu, kali ini anak saya tidak salah, ijinkan saya untuk membawa anak-anak saya pulang," ucap Brian kepada guru tersebut.
Guru perempuan itu mengangguk dan mempersilahkan Brian untuk pergi. Sesampainya di depan sekolah, Dito mengambil alih Ammar dan mendudukkan bocil itu di kursi belakang. Brian pun ikut masuk dengan Ameera yang masih ada di dalam gendongannya.
****
Beberapa tahun yang lalu, tepatnya 2 bulan setelah Ammar dan Ameera lahir, Brian menjadi sorang ayah yang merangkap menjadi seorang ibu juga, meskipun dia memiliki seorang pengasuh, namun Brian selalu menyempatkan diri untuk mengurus Ameera dan Ammar, persis seperti amanah dari sang istri dua bulan yang lalu.
Pria itu memberikan susu kepada salah satu bayi di atas ranjangnya. Beberapa kali dia hampir tersungkur karena menahan kantuk yang teramat sangat luar biasa.
"Oeeeee!"
"Ada apa sayang, kau lapar? Mau minum susu?" tanya Brian. Bayi itu malah menangis semakin kencang. Brian bingung, dia menyentuh bokong sang anak, ia tersenyum saat tahu jika popoknya basah, mungkin bocor.
"Baby Ammar ngompol ya, maaf sayang , Daddy tidak cekatan, Daddy ganti popoknya dulu ya."
Hari-hari selanjutnya masih terus seperti itu. Brian dengan segala kesibukannya di kantor masih berusaha untuk menjadi ayah yang perhatian untuk Ammar dan Ameera.
Dua tahun setelah itu, Brian semakin lihai menjaga dan merawat anak-anaknya. Bahkan dia tidak akan segan-segan untuk menolak bantuan dari ayah dan ibunya. Bagi Brian, mengasuh dua bocah kecil itu sangat menyenangkan, mungkin karena dia tidak 24 jam menjaga anak-anaknya, Brian menjadi lebih sabar menanggapi kenakalan bocah-bocah kecil itu.
"Ammar! Makan dulu nasinya sayang!"
Brian menangkap Ammar yang berlarian dan mendudukkan Ammar di kursi makan miliknya. Sementara Ameera, gadis kecil yang imut dan sangat menggemaskan itu sedang sibuk memakan alpukat dan juga telur rebus yang di siapkan oleh perawat.
"Cucu Ibu lahap banget makan nya. Biar cepet gede ya sayang ya!"
Ameera menggoyangkan kakinya lucu, dia juga mengunyah makanan sambil tersenyum, membuat pipi nya yang bulat malah semakin bulat.
__ADS_1
"Makan pelan-pelan Ammar!" titah Brian pada bocah laki-laki nya.
"Jangan gitu akh sama cucu ibu!" protes Anjani tidak suka.
"Jangan terlalu memanjakan mereka Ibu, mereka itu memang harus di tegasi sesekali."
Anjani mendengus, dia tidak setuju dengan apa yang Brian katakan, lagipula dua cucunya ini masih sangat kecil, bagaimana bisa dia bersikap tegas pada bocah-bocah lucu ini.
Ammar dan Ameera tertawa melihat Anjani memukul kepala Brian. Aldi yang ada di ruangan itu ikut tertawa.
"Hei bocah, kalian pasti sangat senang ketika melihat ayah kalian berada dalam masalah. Pukul lagi aja Kak Brian Bu, biar mereka senang."
Anjani setuju dengan usulan dari Aldi, dia melakukan hal yang sama berulang kali hingga kedua cucunya itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Dasar bocah gak tahu terima kasih," ujar Brian menatap dua bocah kesayangannya.
***
Tepat ketika Ammar dan Ameera berusia 3 tahun, di sana, untuk pertama kalinya Brian merasa seperti hidupnya berada di ujung tanduk. Brian berlari masuk ke dalam rumah sakit sambil membawa Ameera di gendongannya, di belakang, dia juga di susul oleh Aldi yang menggendong Ammar, ini sudah jam 1 malam, tapi mereka terpaksa harus membawa dua bocah kecil itu ke rumah sakit karena demam yang mereka derita tak kunjung turun.
"Dokter, tolong anak-anak saya Dok, mereka sudah semakin menggigil."
Seorang dokter jaga di UGD menghampiri Brian dan meminta Brian untuk membaringkan Ameera dan Ammar di atas hospital bad. Setelah memeriksa mereka dengan teliti, dokter itu memberikan suntikan antibiotik untuk mereka.
"Maaf saya memberikan mereka suntikan, demamnya terlalu tinggi, sebaiknya untuk beberapa hari, biarkan mereka di rawat di sini, saya akan mengambil sampel darah mereka untuk di uji di laboratorium. Saya harap ini hanya demam biasa. Tuan bersabarlah!"
Brian mengangguk mendengar penuturan dari dokter, Brian menatap dua bocah kecil itu dengan mata yang berkaca-kaca. Keringat besar maupun kecil bercucuran dari pelipisnya.
"Andai kau ada di sini By, aku pasti tidak akan sepanik ini."
To Be Continued.
Pagi Guys. Mian dari kemarin part nya bikin sad mulu. 🙏🙏 Tetep semangat ya. 🌚🌝
__ADS_1