Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Penjagaan


__ADS_3

"Astaghfirullah, kenapa Om Brian sampai ke pikiran seperti ini sih?" Bukannya fokus, Byan malah terus oleh melihat dirinya yang sedang di perhatikan beberapa bodyguard, Mahen, juga beberapa guru. Sebenarnya di kelas itu dia tidak sendiri, ada Navisa, Aldi, dan Anandita. Dengan tidak beradab nya Brian mengawasi Byan dengan orang-orang suruhannya karena dia mendadak ada rapat penting.


"Apakah ada yang tidak nyaman Nona?" Seorang bodyguard wanita mendekati Byan ketika dia melihat gadis itu hanya melamun sambil memijit pelipisnya.


"Akh, saya gak papa. Udah Tante pergi aja, Byan gak bisa fokus kalau kayak gini terus."


"Akh baiklah, saya pergi!"


Jangan berpikir jika bodyguard itu pergi ke luar ruangan atau pergi jauh. Karena pada kenyataannya, dia hanya mundur beberapa langkah saja.


"Udah kerjain semua soalnya By, kau tahu sekarang kakak seprotek apa. Lain kali kita harus lebih hati-hati supaya hal ini tidak terjadi lagi!" ujar Aldi mengingatkan.


Byan mengangguk. Dia kembali pada layar monitor yang ada di depannya dan mulai mengerjakan semua soal-soal ujian hari ini.


****


Ujian telah berakhir. Ya, ujian yang hanya di ikuti 4 peserta dan itupun dilakukan sore hari. Anandita dan Navisa sudah pulang. Kini tinggal Aldi dan Byan yang sudah masuk ke dalam mobil untuk segera pulang.


"Tante, Om Brian masih di kantor?"


Bodyguard itu mengangguk. Wanita yang dia panggil Tante itu duduk di samping kemudi sedangkan di balik kemudi ada sopir laki-laki yang juga merupakan bodyguard Byan.


"Byan mau ke kantor Om Brian saja!"


"Tapi Kak Brian udah nyuruh kita langsung pulang By, gimana kalau dia marah lagi?"


"Pokonya Byan mau di antar ke sana. Paman, Paman denger Byan kan?"

__ADS_1


"Baik Nona!"


Byan tersenyum cerah setelah mendapat persetujuan dari kedua bodyguard nya. Dia tidak menghiraukan Aldi yang terus mendumel merasa tidak suka jika Byan selalu menanyakan Brian, Brian dan Brian. Meskipun Aldi sudah merelakan gadis ini, namun dia masih merasa senang jika bisa bermain berdua bersama Byan.


Sesampainya di loby perusahaan, Byan dan Aldi ingin langsung pergi ke ruangan Brian, namun mereka di cegat oleh resepsionis yang berjaga di lobby perusahaan.


"Maafkan saya, kalian siapa? Mau ke mana kalau boleh tahu?"


Byan tersenyum di balik topi dan masker yang dia kenakan. Gadis itu menyenggol Aldi meminta Aldi untuk berbicara.


"Saya adiknya Kak Brian, kalau kalian tidak percaya, kalian boleh tanya pada resepsionis itu!" Aldi menunjuk Sisil dengan menekankan kata resepsionis.


Resepsionis tadi menoleh. Dan saat dia melakukan itu, Byan dengan sigap menarik tangan Aldi berlari menuju lift. Aldi tersenyum. Sejujurnya dia juga tahu jika kemanan di perusahaan ayahnya ini sangat ketat, mereka tidak bisa sembarangan masuk Apalagi belum banyak yang tahu jika Aldi masih bagian dari keluarga Nugroho, mereka pasti tidak akan mudah mempercayai ucapan Aldi.


"Hei kalian!"


Resepsionis itu berlari, selangkah lagi dia bisa masuk ke dalam lift, namun sialnya pintu lift malah tertutup dan dia hanya melihat gadis kecil tadi melambaikan tangan ke arahnya.


Dia masih tidak menyerah dan menunggu lift selanjutnya terbuka. Sementara Aldi dan Byan malah sedang tertawa mengingat betapa paniknya wajah resepsionis itu melihat Byan dan Aldi yang langsung melesat masuk tanpa persetujuan darinya.


"Wah, sepertinya menyenangkan bermain dengan orang-orang ini!"


Aldi menatap Byan tidak suka. "Senang pala mu peang. Nanti Kakak marah lagi, kamu itu baru sembuh By, jangan berbuat ulah terus kenapa, kan kita yang jadi batu,-" kata-kata Aldi terheti karena Byan membekap mulutnya tiba-tiba.


"Jangan banyak bicara Al, kalian memang salah. Kalian pantas di hukum. Dan aku juga baik-baik saja. Aku sudah sehat."


Byan kembali menurunkan telapak tangannya.

__ADS_1


"Tapi kamu masih pucat banget By!" terlihat Aldi yang menjadi sangat khawatir. Bukan karena takut di marahi Brian. Tapi memang dia takut Byan kenapa-napa.


"Suuuttt!"


Byan menaruh jari telunjuknya di depan bibir.


Ting!


Pintu lift terbuka. Byan kembali menarik tangan Aldi dan langsung keluar dari lift. Baru beberapa langkah, dia sudah kembali melihat beberapa penjaga sedang celingukan mencari seseorang dengan memegang walkie talkie di tangan mereka.


"Sutttt! Kita tunggu mereka pergi dulu Al, btw ruangan Kak Brian di mana?"


Aldi menggeleng. Dan gelengan yang Aldi lakukan sukses membuat Byan hilang akal. "Astaghfirullah, aku pikir kamu tahu, terus sekarang kita mau ke mana?"


"Hei kalian!"


Seorang penjaga alias satpam berteriak sembari menunjuk Aldi dan Byan. Kedua orang itu sontak saja langsung berlari tak tentu arah. Bagi mereka yang penting sekarang adalah kabur agar tidak tertangkap.


"Hoshhh! Hoshhh! Al, kita mau ke mana sekarang?" Byan berbicara sembari membungkuk bertumpu pada kedua lututnya. Belum sempat Aldi berbicara, satpam itu sudah menemukan mereka kembali hingga membuat Aldi dan Byan berlari terbirit-birit.


"Om Brian!"


Mata Byan berbinar melihat suaminya berjalan dengan beberapa orang di koridor perusahaan. Tanpa basa-basi dia langsung melepaskan tangan Aldi dan berlari menghambur ke pelukan suaminya.


"Kenapa masih terasa tidak nyaman?"


Gumam Aldi tersenyum miris memperhatikan tangan yang tadi Byan genggam.

__ADS_1


To Be Continued.


*Akutu bingung sama kamu Al, katanya udah ikhlas. Tapi kalau deket terus malah berharap lebih lagi. 🥴🥴🥴🥴 Jangan plin plan kenapa. 🙈


__ADS_2