Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Barang Rongsokan


__ADS_3

Hari ini Brian dan Byan memutuskan untuk pulang kembali ke Jakarta, mereka juga bersama Navisa dan Dito. Brian dan Byan tidak jadi pulang naik motor sport karena cuaca hari ini sedang tidak bersahabat. Byan masih mengerucutkan bibirnya tidak mau menatap sang suami karena dia masih sangat kesal kepada Brian.


Helaan napas berat Brian tidak membuat Byan luluh, gadis itu masih tetap dengan egonya, dia menatap keluar jendela mobil menatap guyuran air hujan yang semakin lama semakin lebat.


"By, jangan marah dong, aku sudah bilang aku melakukan ini demi masa depan kita berdua, ada hal yang memang tidak bisa aku ceritakan, belum saatnya kamu mengetahui ini semua. Setelah kau kembali dari sana, aku akan menjelaskan semuanya." Brian menautkan jari telunjuk juga jari tengahnya karena saat ini dia merasa kalau dirinya sedang berbohong.


Byan masih enggan menatap Brian. Navisa yang ada di kursi depan merasa kurang nyaman karena kecanggungan yang terjadi antara Brian dan Byan.


"By, bener loh kata suami kamu, kenapa nggak mau kuliah ke sana? Kalau aku jadi kamu, aku pasti akan langsung menyetujuinya. Di sana kan banyak oppa-oppa ganteng. Lagi pula merasakan suasana baru sepertinya bukan hal buruk, kita bisa menambah banyak teman juga pengalaman yang tentunya akan bermanfaat untuk masa depan kita."


Byan tersenyum kepada Navisa, tiba-tiba ide jahil muncul di kepalanya. "Iya juga ya Na, kalau aku ke sana mungkin akan ada kesempatan untuk menemui Jong suk ahjushi, dia tampan kan, sepertinya aku akan betah jika aku tinggal berlama-lama di sana."


Brian langsung menatap Byan dengan tatapan tajam namun detik berikutnya pria itu menurunkan kedua bahunya lesu. "Aku menyuruhmu ke sana agar kau bisa belajar, bukan untuk menemui siapa lah itu, jangan pernah berpikir untuk berselingkuh dariku By, kau hanya milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku," ujar Brian penuh penekanan.


"Kalau aku miliknya Om, kenapa Om buang aku ke negeri ginseng yang sudah jelas-jelas jauh dari sini?"


Brian kembali menghembuskan napasnya kasar, dia menarik pinggang Byan dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya. "Aku mohon, jangan seperti ini, aku tidak berbohong, aku mencintaimu dan kau hanya boleh menjadi milikku sampai kapanpun. Tolong jangan seperti ini," ucap Brian lirih. Dia menatap Byan dengan tatapan sendu. Byan yang melihat itu menjadi tidak tega ia menghembuskan napas panjang lalu berpikir untuk sesaat.


Dito dan Navisa hanya bisa melongo seperti orang-orang bodoh. Brian yang super galak dan jarang tersenyum itu kini sedang merengek kepada gadis ingusan, yang benar saja, kenapa dunia seorang Brian bisa Byan jungkir balikan seperti itu. Sepertinya, Byan pantas mendapatkan penghargaan karena telah berhasil menjadi penakluk iblis berselimut manusia itu.


"Aku akan memikirkannya Om, tapi jangan salahkan aku jika ternyata aku menyukai pria lain."


"Kau masih marah kan?" tanya Brian memanyunkan bibirnya.


"Tidak," jawab Byan menggelengkan kepalanya.


"Kau menyebut dirimu aku, sedangkan jika kau sedang tidak marah kau akan menyebut dirimu dengan namamu sendiri, kenapa harus seperti itu hmm?" Brian berbicara dengan nada manjanya. Dito dan Navisa hampir mengeluarkan biji mata mereka. Inikah Brian yang asli? Ko bisa?


"Astagfirullah Om Brian, Byan pikir kenapa, habisnya Om sih, nyari masalah terus sama Byan, dengerin Byan ya Om, Byan akan mempertimbangkan apa yang Om tawarkan, namun Om harus berjanji kalau Om tidak akan pernah menyesal karena telah membuat keputusan seperti itu."


Brian mengangguk meskipun sebenarnya dia agak ragu, ya siapa yang tidak ragu jika harus membiarkan istrinya berada jauh darinya, bukan beda rumah, bukan beda kecamatan, bukan beda kabupaten, bukan beda kota, tapi ini adalah beda negara.

__ADS_1


"Aku tidak janji, namun aku akan berusaha," ucap Brian memeluk Byan erat, dia menyesap curuk leher istrinya, wangi tubuh ini selalu membuat dia merasa lebih tenang, mulai sekarang dia harus lebih sering melakukannya karena sebentar lagi mereka akan berpisah untuk sementara.


"By!"


"Heummm!"


"Peluk!" Brian berbisik di telinga Byan membuat gadis itu sedikit tersenyum.


"Om banteng besar tapi bertingkah seperti bayi. Tapi Byan suka," bisik Byan di telinga sang suami.


Dito dan Navisa merinding melihat tingkah sepasang suami istri yang sudah mulai hilang akal itu.


"Maaf, seharusnya aku menutup nya sejak tadi," ucap Dito menaikan pembatas di tengah-tengah kursi bagian depan.


"Om tidak salah, siapapun pasti akan gugup jika melihat orang-orang tak tahu malu seperti mereka."


****


"Rendy, apa kau baik-baik saja?" Ibu Rendi meletakkan telapak tangannya di kening Rendy.


"Rendi baik-baik saja Ma, sangat baik."


"Kita ke dokter aja yuk! Mama agak khawatir sama kamu ikh. Papa! Papa!"


Mama Rendy berteriak memanggil suaminya. Rendi tidak perduli. Dia masih diam, bersantai sembari menatap didinding kamarnya.


"Ada apa Ma, kenapa teriak-teriak seperti itu Papa gak budek akh." Papa Rendy menghampiri istrinya di kamar sang anak.


"Papa sini deh!" Mama Rendy menarik lengan baju yang di kenakan suaminya.


"Papa liat itu, apa Papa yakin anak kita baik-baik saja? Ini sudah hampir seminggu Rendy kita bersikap aneh."

__ADS_1


"Aneh bagaimana?" Tanya Papa Rendy.


"Ikh Papa, suka gak peka sama anak sendiri. Rendy itu anak kita Pa, kenapa Papa jarang banget merhatiin dia."


Papa Rendy menghembuskan napasnya kasar. "Mama, kalau ngomong itu yang jelas, gimana Papa mau ngerti kalau Mama malah nyerocos meleber kesana kemari."


Mama Rendy mendengus. "Tuh Papa liat, masa dia mandangin ban dalam motor sampai segitunya. Emang apa bagusnya itu? Sepertinya itu juga ban dalam bekas, apa yang sepesial sampai benda rongsokan itu bisa bikin Rendy kita gila kayak gini?"


Papa Rendy menatap objek yang di tunjuk oleh istrinya. Dia terpaku untuk beberapa saat. Namun setelah berpikir, papa Rendy langsung tertawa. Sambil keluar dari kamar Rendy.


"Papa! Papa ini kok malah ketawa sih, kita harus segera bawa anak kita ke dokter Pa, Randy itu anak kita satu-satunya. Papa!"


Mama Rendy mengejar suaminya keluar dari kamar. Dia di buat jengkel lantaran suaminya terlihat sangat cuek malah terkesan menyepelekan sakit yang anaknya derita.


"Papa!"


"Apa?" tanya Papa Rendy berbalik masih dengan sisa-sisa tawa di perutnya.


"Ini Rendy gimana? Kita harus bawa Dia ke dokter!"


Papa Rendy menghampiri istrinya lalu menatap istrinya lekat. "Oke, Mama carikan dulu dokter cinta untuk Rendy, nanti Papa yang antar."


Mama Rendy mematung. Dia mengerutkan keningnya bingung. "Dokter cinta, apa hubungannya dokter cinta dengan Rendy dan ban rongsokan itu Papa?"


Papa Rendy hanya tertawa sembari mengangkat bahunya acuh. "Mama pikirin aja sendiri."


"Eishhhh Papa!"


To Be Continued.


Done ya Guys. Hari ini udah 3 bab. Author mau otw revisi kerangka dulu. See you di bab berikutnya ya. Dadah. Jangan lupa like dan komentar nya ya! Saranghae. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2