Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Nak Tokek


__ADS_3

Semua orang kini sedang menatap Brian aneh, sambil menumpu dagu mereka dengan kedua tangan, keluarga Nugroho terlihat kebingungan saat melihat Brian memakan buah mangga muda dengan lahapnya. Bahkan, dia yang tidak kuat pedas kini malah menyeruput sambal rujak hingga membuat semua orang hampir meneteskan air liur.


"Byan boleh minta gak Om?" tanya Byan menatap suaminya.


Brian menggeleng, namun beberapa detik kemudian, dia diam, memperhatikan piring yang berisi mangga muda lalu mengambil satu potongan kecil kepa Byan.


"Hanya ini?" tanya Byan mengangkat satu alisnya.


Brian mengangguk. Byan mengambil potongan buah itu lalu menaruhnya kembali ke atas piring.


"Om makan saja buahnya. Byan tidak suka." Byan mengelus kepala suaminya lembut seperti sedang mengelus anak balita. Orang-orang di rumah itu semakin di buat melongo.


"Apa dia anak kita Ayah?" tanya Anjani, tatapannya masih tidak beralih dari Brian.


Nugroho menggeleng-gelengkan kepalanya. Begitupun dengan Aldi.


"Apa kau sedang hamil Kak? Lalu, kau akan melarikan anak mu lewat mana?"


Pertanyaan konyol dari Aldi membuat Byan tak kuasa menahan tawa. Membayangkan Brian hamil dengan perut yang membuncit juga melahirkan layaknya seorang perempuan sangat lah lucu. Apalagi kalau sampai menyusui. Byan semakin terkikik geli membayangkan semua itu.


"Apa kau menertawakan ku?" tanya Brian mengerucutkan bibirnya.


Byan menggelengkan kepalanya sambil mengelus kepala Brian. Pria itu langsung luluh seperti anak anjing penurut.


"Habiskan saja mangga nya. Kita ini hanya sedang bercanda."


Aldi menyerah. Dia beranjak dari duduknya lalu pergi ke lantai atas. Di susul dengan Anjani dan Nugroho yang pergi ke kamar mereka. Sementara Byan, dia masih asyik memperhatikan sang suami yang sedang makan mangga muda dengan lahapnya.


"Apa mungkin karena ini aku sudah mulai tidak mengalami morning sikcnes dan mual di malam hari." Byan bergumam sembari menatap suaminya sedikit khawatir. Pasalnya, dia saja yang mengalami itu merasa kurang nyaman, apalagi Brian yang tidak tahu apa-apa.


...----------------...


Di tempat lain, Bima masih belum selesai berbincang dengan Adelle, bahkan mereka tidak lagi melanjutkan obrolan di kantor melainkan malah mengobrol di sebuah cafe modern di kota itu.


Bima terlihat mencuri-curi pandang dari Adelle. Sesekali dia tersenyum saat melihat Adelle yang sedang menjelaskan beberapa poin penting yang harus Bima perbaiki dari planing proyek yang akan mereka kembangkan.

__ADS_1


"Ekhemmmm!"


Adelle berdehem tat kala melihat Bima hanya diam tanpa mau menimpali ucapannya.


"Apa kau mendengarkan ku Pak Bima?" tanya Adelle menekankan kata mendengarkan agar Bima mengerti maksudnya. Bima mengangguk, tidak mungkin dia tidak mendengarkan. Meskipun matanya fokus pada wajah Adelle, namun telinganya masih peka dan bisa menangkap semua yang Adelle ucapkan.


"Saya rasa saya sudah mengerti apa yang harus saya pertahanan dan apa yang harus saya tunda. Terima kasih karena telah memberikan saya masukan yang sangat berarti."


Adelle menganggukkan kepalanya. Dia terlihat agak kecewa saat melihat Bima bersiap untuk pergi. "Apa hanya itu saja?" tanya Adelle memastikan.


Bima mengerutkan keningnya. Dia menatap Adelle sembari mengangkat kedua alisnya. "Maksud Anda?"


Adelle tersenyum kecut. "Seharusnya kamu ajak saya makan malam Bima. Sudah berapa jam sejak kita mengobrol, aku bahkan belum makan siang." Adelle berucap sambil mengaduk kopi yang ada di dalam gelas.


Bima mengangguk, sekarang dia mengerti, "maafkan saya Bu, saya pikir ibu sudah makan siang!" ucap Bima merasa bersalah.


"Pekerjaan kita sudah selesai. Jangan panggil saya Ibu, saya rasa saya belum setua itu."


Adelle ini sangat frontal dan to the point. Dia tidak banyak basa-basi namun langsung berbicara pada intinya. Namun, Bima yang memang belum terbiasa dengan sikap seperti itu kurang paham dengan maksud Adelle.


"Terserah kau saja Bim!"


Adelle memang satu kampus dengan Brian, namun dia 2 tahun lebih muda dari Brian, itu artinya Adelle masih 30 tahun. Ya, memang Bima 5 tahun lebih muda darinya, namun jika di lihat dari wajah, sepertinya umur mereka tidak jauh berbeda. Adelle ini awet muda dan selalu melakukan perawatan, jadi wajar saja jika dia masih terlihat sangat cantik dan segar.


...----------------...


Jika Bima sedang sibuk meladeni wanita bar-bar berkedok investor, lain lagi dengan Haris. Pria itu sedang pusing lantaran Anandita sedang dalam mood yang kurang baik. Hari ini dia sedang ada di rumah kedua orang tua Anandita. Hubungan mereka sudah berjalan lebih jauh, jadi orang tua Anandita pun sudah tahu jika Haris ini adalah pria pilihan anak gadis mereka.


"Jangan terlalu di pikiran Nak, sepertinya dia memang selalu berubah jadi beruang madu kalau sedang datang bulan. Meskipun Mama tidak tahu pasti, namun setidaknya mama pernah melihat perubahan emosinya yang sangat drastis."


Stephanie berbicara dengan nada sedikit berbisik karena takut Anandita mendengar nya. Entah apa yang sedang Anandita rasakan, namun Stephanie tahu jika Anandita selalu bersikap tak wajar saat sedang datang bulan.


"Mama! Mama Dita pengen makan kecoa!"


Stephanie dan Haris langsung melotot, mereka berdua berlari ke arah kamar Anandita, membuka pintu kamar tergesa karena khawatir wanita itu benar-benar akan memakan kecoak.

__ADS_1


"Anandita!" Stephanie berteriak tat kala melihat Anandita sedang berjongkok memperhatikan seekor kecoa yang tidur terlentang di depannya.


"Jangan gila kamu!" pekik Stephanie menarik bahu Anandita dan mendudukkannya di tepian ranjang.


Haris hanya memperhatikan Anandita di ambang pintu, tak lama setelah itu, ayah Anandita pun ikut memperhatikan Stephanie dan Anandita.


"Mama, kecoak itu sangat mengkilap, lihat, dia kayak kurma tapi ada kakinya. Lucu kan Ma, boleh lha Dita makan dia ya. Satu aja, Dita janji gak makan banyak-banyak."


Haris berusaha menahan tawa saat melihat kecoa yang sedang pura-pura mati di depan pemangsa. Kakinya mengerejat lucu saat Anandita memekik kekeuh ingin memakannya. Apa kecoa itu tahu kalau aktingnya percuma dan sia-sia di depan Anandita.


"Ya Allah sayang, jangan macam-macam kamu, kalau mau makan yang begitu, Mama carikan tokek ya, makan tokek asap aja biar kulit kamu mulus."


Anandita menggunakan kepalanya. Yang dia inginkan itu kecoa panggang dengan cocolan sambal terasi. Kenapa malah di tawari tokek asap.


"Dita maunya kecoa Mama."


Stephanie kekeuh menggelengkan kepalanya. Anandita malah meraung menangis seperti anak bayi sambil berguling-guling di atas ranjang.


"Ya sudah, kamu boleh minta apa aja tapi jangan minta kecoak panggang."


Anandita bergeming. Dia duduk lalu menatap Stephanie dengan mata berbinar.


"Mama janji?"


"Iya!"


Anandita semakin tersenyum lebar. "Kalau begitu, Anandita mau menikah dengan Kak Haris. BESOK!"


"What?"


Semua orang memekik dengan mata yang membulat.


To Be Continued.


Maafkan Author yang belum bisa crazy up guys. Kenapa? Karena Author punya beberapa anak di platform lain. 🤣🤣🤣 Jangan merajuk ya. Semangat terus bacanya biar Author juga semangat ngetiknya. 🤭🙏

__ADS_1


__ADS_2