Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Gadis Merepotkan


__ADS_3

Bian terus bergerak gelisah di atas ranjang. Dia menggenggam selimut dengan erat. Matanya terus melirik kanan dan kiri. Berada di kamar baru yang sangat besar membuat Bian agak takut. Memang, hujan sudah reda, petir juga sudah tidak terdengar. Namun nuansa kamar yang didominasi warna hitam membuat suasana di dalam sana terasa lebih mencekam. Bian ingin meminta Brian untuk menemaninya, namun di takut suaminya akan menolak dan akan menuduhnya yang tidak-tidak.


Bian berusaha memejamkan mata. Namun ketika matanya terpejam, bayangan segala dedemit malah muncul di depan wajahnya. Hal yang paling Bian takuti adalah ya sejenis hantu-hantuan, apalagi pocong. Membayangkan matanya melotot dengan wajah hitam legam dan tubuh yang terbungkus membuat Bian langsung merinding. Bian sudah mencoba untuk membaca doa dan berdzikir, namun semuanya tidak berhasil.


Bruk!


Bian langsung membuka mata dan berlari ke arah pintu. Dia membuka pintu kamar dengan tergesa. Kepalanya menoleh kesana kemari mencari sosok sang suami. Tidak ada, suaminya tidak ada.


"Om! Om Brian! " Bian mulai bersuara memanggil sosok Brian. Dia berjalan mengendap-endap sembari mengusap tengkuknya karena tiba-tiba saja dia merasa sangat merinding, bulu romanya berdiri. Bian semakin lama semakin takut karena tak kunjung menemukan Brian. Matanya sudah berkaca-kaca karena berpikir kalau suaminya meninggalkan dia sendirian.


"Om! Om di mana? Om gak ninggalin Bian kan? Om!"


Buk!


"Akh!"


Bian menjerit sembari menutup kedua telinganya. Dia berjongkok sembari memejamkan mata. Bian benar-benar ingin pulang sekarang, hantu itu mengganggunya. Bian merasakan tangan besar menepuk pundaknya.


"Ampun Om hantu, ekh Tante hantu, siapapun kamu, jangan ganggu Bian, Bian anak baik. Bian gak nakal, Bian gak suka ganggu orang. Bian janji, Bian gak ganggu, tolong jangan makan Bian, Bian gak enak. Daging Bian pahit. Hikssss. Jauh-jauh dari Bian!"


Buk!


"Akh!"


Bian kembali memekik. "Tolong pergi, nanti kalau kalian ganggu Bian, Bian akan laporkan kalian ke Pak Ustadz. Hikssss. Pergilah! Tolong!"


"Boncel!"


"Boncel ini aku, Brian. Aku bukan hantu."


Brian kembali menyentuh pundak Bian sembari membungkuk. Dia yang tadinya ada di belakang Bian kini sudah beralih ke hadapan gadis itu.


Bian mendongak. Meskipun masih takut, Bian berusaha untuk membuka matanya. "Om!" Bian bersuara dengan lirih.

__ADS_1


"Om Brian!" Bian memekik sembari memeluk leher Brian. Dia malah menangis sesenggukan membuat Brian agak heran padanya. Gadis ini semakin lama semakin suka memeluknya, dalam keadaan apapun, bocah ingusan ini selalu memanfaatkan dirinya seperti ini.


"Om, Bian takut. Bian pikir Om hantu. Kenapa Om gak bicara sama Bian?"


Bian mengerutkan keningnya. Masa iya ada hantu setampan dirinya. Jika memang ada, jenis hantu seperti apa itu, lagipula, kenapa Bian masih mempercayai hal-hal yang tidak penting seperti itu.


"Kamu ini, mana ada hantu di sini, kalaupun ada, hantunya pasti pada takut sama kamu."


"Hikssss. Om jangan gitu, Bian kan masih lucu, masa iya hantu takut sama Bian, apa karena Bian tidak terlalu cantik, tapi kata Ayah, Bian cantik kok. Kenapa mereka harus takut sama Bian?"


Brian berusaha menahan senyum. Gadis ini benar-benar random. Segala hal yang ada pada dirinya belum pernah ada yang konsisten, terkadang dia sangat menyebalkan, namun di lain waktu dia juga sangat lucu. "Lucu?" Brian langsung menghilangkan senyum di bibirnya ketika dia sadar kalau dia sudah melampaui batas.


"Sudahlah, kenapa kau belum tidur? Besok pagi aku akan mengajarimu menyetir. Mumpung libur, aku gak mau kamu terus menyusahkan. Kalau kamu sudah bisa menyetir, aku tidak harus mengantarkan kamu ke sekolah lagi kan?"


Bian mengangguk namun kedua tangannya masih enggan melepaskan Brian. Tangisannya sudah berhenti meskipun dia masih sesenggukan.


"Om temenin Bian tidur ya! Bian janji Bian gak akan menggangu Om, Bian gak ngorok Om, Bian takut kalau tidur sendirian. Tempat ini baru untuk Bian."


Bian melepaskan tangannya perlahan. Bian mendengar Brian yang mencibir kepadanya. Lelaki itu berjalan mendahului Bian membuat gadis itu langsung berlari lalu menarik ujung kaos yang Brian kenakan. Persis seperti anak TK yang gak mau di tinggal ibunya.


"Sekarang tidurlah!" Brian menunjuk ranjang meminta Bian untuk segera melepaskan tangan dari kaus yang dia pakai.


"Om ikut tidur juga! Bian gak mau Om ninggalin Bian."


Brian memutar bola matanya malas. Gadis ini benar-benar mampu membuatnya merasa sangat jengkel. "Ya sudah kamu berbaring aja dulu!"


Bian naik ke atas ranjang dengan tangan yang masih memegangi kaus Brian. Dengan sangat terpaksa Brian ikut naik ke atas ranjang. Dia ikut berbaring ketika istrinya sudah berbaring.


"Aku gak akan kabur boncel, lepasin tangan kamu!"


Bian dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bian gak mau, nanti Om malah ninggalin Bian, Bian gak akan lepasin tangan Bian."


Brian mendesah pasrah. Dia berusaha berbalik ke arah nakas untuk mematikan lampu. Namun ketika dia hendak menekan tombol lampu, Bian menarik kausnya dengan kencang.

__ADS_1


"Apa?" Bian menoleh dengan wajah kesalnya.


"Jangan matiin lampunya Om, Bian gak bisa napas kalau lampunya mati."


Astaga, bocah ini benar-benar membuat Brian geram. Brian tidak bisa tidur dalam keadaan ruangan yang terang, lalu sekarang dia di paksa untuk tidak mematikan lampu, sungguh hal yang sangat luar biasa.


"Ya sudah kamu tidur aja!"


Bian mengangguk. Baru saja Brian ingin memejamkan mata, suara itu kembali mencemari pendengarannya.


"Om!"


"Apa lagi Bian?" Brian berbicara dengan nada yang kian meninggi.


"Om bisa bacakan dongeng untuk Bian tidak?"


"Tidur atau aku tinggal! Jangan banyak tingkah Bian, aku tidak sebaik itu. Sekarang tidur, atau aku matikan lampu dan pergi dari sini!"


Bian mau tidak mau mulai memejamkan mata. Ya sudah kalau Brian tidak mau menceritakan dongeng untuknya, paling tidak Brian tidak pergi dari kamar itu.


****


Brian membuka mata perlahan. Dia mengucek kedua matanya lalu menoleh ke sisi ranjang yang semalam di tempati oleh Bian. Gadis itu tidak ada, Brian tidak mengambil pusing dan memilih untuk bangun dan pergi ke kamar mandi.


20 menit kemudian, Brian sudah selesai mandi dan sudah berganti pakaian. Dia kembali melirik ke arah ranjang, Bian benar-benar tidak ada. Gadis itu menghilang? Tidak mungkin bukan? Brian berjalan ke arah pintu kamar lalu membuka pintu kamar itu perlahan.


Brian di buat melongo ketika dia membuka pintu, asap putih memenuhi seluruh apartemen miliknya. Matanya berusaha untuk melihat apa yang terjadi.


"Bian!"


Brian berteriak dengan sangat kencang.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2