
🔥🔥🔥
Brakkkkk!
Dobrak kan pintu itu membuat pelayanan yang hendak membuka pintu terkejut sampai terjungkal. Seorang wanita cantik masuk ke dalam rumah tanpa permisi atau mengucapkan salam. Byan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat dia benci. Hari ini, dengan lancangnya pria tua itu memberikan Byan sebuah mobil? Hadiah? Hadiah apa?
"Anthony! Keluar! Anthony!"
Byan tidak memperdulikan sopan santunnya lagi. Kemarahan nya sudah mencapai ubun-ubun. Byan tidak habis pikir, kenapa orang itu harus memberikan dia hal tidak berguna.
"Byan!"
Suara berat nan sedikit serak membuat Byan menoleh. Gadis cantik itu tersenyum menyeringai dengan mata merah menyala.
Bruk!
Tangan mungilnya melemparkan kunci mobil yang Anthony berikan hingga kunci mobil itu jatuh di lantai.
"Byan kau kenapa? Apa hadiahku kurang bagus? Kau tidak menyukainya?"
Kembali bibir gadis itu menyunggingkan sebuah senyum sinis. "Atas dasar apa kau memberikan aku hadiah seperti itu hah? Sebagai seorang kolega? Teman mertuaku atau AYAHKU?"
Anthony melotot mendengat kata terakhir yang Byan ucapkan. Byan tahu kalau dia ayahnya. Sejak kapan? Dan kenapa? Bukankah selama ini Adrian juga Brian selalu menyembunyikan fakta dari Byan?
"Kau sudah tahu kalau kau anak ku sayang?"
Anthony berjalan mendekati Byan sambil tersenyum. Namun, gadis itu malah semakin mundur menjauhi Anthony.
"Jangan panggil aku begitu. Aku bukan anak mu. Aku anak Ayah Adrian dan Ibu Kirani. Meskipun kalian adalah orang tuaku, namun kalian telah kehilangan aku sejak kalian memutuskan untuk membuang ku. Jangan pernah muncul di depan ku lagi Anthony. Aku tidak ingin mengenal orang seperti mu."
Anthony tertegun. Hatinya sakit saat mendengar kalimat menohok dari Byan. Ini memang kesalahannya. Dia yang telah membuang Byan. Byan pantas marah padanya. Namun tetap saja. Anthony sangat berharap kalau Byan akan kembali padanya.
"Byan tunggu!"
Anthony mencekal pergelangan tangan Byan. Dia ingin lebih dekat dengan anak kandungnya, namun Byan langsung menepis tangannya begitu saja.
"Aku anggap kita impas. Kau tidak menginginkan ku. Dan aku tidak membutuhkan mu."
__ADS_1
Byan kembali memutar tubuhnya. Berjalan menjauhi Anthony. Hingga satu kalimat kembali membuat dia tidak jadi pergi.
"Maafkan Ayah Byan. Ayah tahu ayah salah, maafkan ayah. Ayah janji ayah akan berubah. Ayah sayang padamu Nak. Karena sebuah keadaan, Ayah terpaksa harus melepaskan mu saat itu."
Air matanya jatuh tak tertahan. Dia tidak salah dengar bukan? Pria tua ini meminta maaf padanya, lancang sekali. "Hei Anthony. Kau tahu, kau itu bukan ayah ku. Jangan sebut dirimu sebagai seorang ayah jika kau tidak tahu apa arti ayah yang sesungguhnya. Ayah mana yang tega membuang bayi yang baru lahir, kau menyerahkan aku pada orang lain tanpa tahu aku akan menjalani kehidupan seperti apa. Aku makan atau tidak, aku kedinginan atau tidak, apakah akan ada orang yang menyayangiku? Apa tidak pernah terpikirkan hal-hal itu di benak mu? Setiap hari aku seperti hidup dalam neraka saat aku tahu jika kau adalah ayah kandung ku. Kau tidak pernah membayangkan, bagaimana jadinya jika aku hidup di jalanan. Seorang ayah yang harusnya jadi rumah untuk anaknya, ternyata malah jadi penghancur kekuatannya. Apa kau tidak mau menyebut dirimu Ayah? Kau tidak malu Anthony?"
Anthony kembali tertegun. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan bergerak. Untuk sekedar membuka bibirnya saja dia tidak bisa. Anthony merasa malu kepada Byan.
"Jangan pernah ganggu kehidupan ku lagi. Aku ini hanya anak haram. Aku tidak memiliki nasab. Jadi jangan pernah berharap apapun dariku."
"Apa Adrian yang memberi tahunmu Byan?"
Byan tidak menghiraukan perkataan Anthony. Dia lebih memilih untuk segera keluar dari rumah terkutuk itu. Hatinya sakit dan sangat terluka. Napasnya sesak dan kepalanya semakin berat. Guyuran air hujan seperti perisai untuk menyembunyikan air mata yang mengalir di pipinya.
Sudah lebih dari satu jam Byan berjalan menyusuri jalanan di tengah hujan. Pada akhirnya apa yang dia sembunyikan terungkap juga. Namun Byan tidak tahu apakah dia harus merasa lega atau justru sebaliknya.
"Aku membencimu Anthony. Sangat membenci mu."
"Byan!"
Byan mendongak, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tat kala dia melihat Brian berlari dari kejauhan. Hatinya sakit membayangkan jika dia ternyata bukan anak kandung orang yang selama ini merawatnya. Pria di hadapannya ini menjadi satu-satunya orang yang menyayangi nya sekarang. Apakah Brian akan terus menyayanginya, atau dia akan sama seperti mereka yang membuang Byan di saat mereka terdesak keadaan.
Brian memeluk Byan, membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
"Om. Om sayang kan sama Byan?"
Brian agak sedikit mendorong tubuh Byan agar dia bisa menatapnya.
"Apa yang kau tanyakan, aku menyayangimu By, sangat. Aku mencintaimu."
Byan tersenyum.
Brukkkkk!
Byan ambruk dalam dekapan Brian. Gadis itu kehilangan kesadaran setelah susah payah menahan sakit di perut juga di kepalanya.
Tubuh Brian bergetar tat kala dia memangku Byan dan membawanya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit Dit. Cepat! Jika sampai terjadi sesuatu pada istriku. Maka kau harus menerima akibatnya."
Dito mengangguk meskipun dia merasa sangat gugup. Wajah memarnya seolah tidak terasa sakit sama sekali. Dia hanya ingin dan hanya berharap jika Byan akan baik-baik saja.
Brian menatap wajah pucat istrinya dengan mata memerah sedikit berair. Hatinya hancur. Jantungnya sudah tidak tahu berdetak atau tidak. Napasnya seolah-olah bocor di tengah jalan.
"Kau harus baik-baik saja Baby. Kau harus baik-baik saja." Brian mendekap tubuh mungil itu erat. Beberapa kali dia mengecup kening istrinya lama. Bibir Byan semakin pucat dan agak membiru. Jantung Brian semakin bergemuruh tat kala dia memegang tangan Byan yang sudah semakin dingin.
"Dito cepatlah! Cepat Dit!"
Suara Brian kian melemah. Ada nada marah yang di lapisi keputusasaan di sana. Dito menjadi semakin takut. Baru kali ini dia melihat Brian marah dengan nada putus asa. Dito lebih suka jika Brian marah dengan berteriak dan memukulnya seperti tadi. Namun sekarang, hatinya juga seakan ikut sakit. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Byan, kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini.
"Kita sudah sampai Tuan!"
Brian membuka pintu mobil lalu menendang pintu itu hingga Dito tahu jika pintu mobilnya langsung rusak. Segila itu kah Brian yang takut terjadi hal buruk pada istrinya.
"Dokter! Suster! Dokter!"
Brian berteriak di IGD rumah sakit dengan Byan yang masih dalam gendongannya.
Para dokter juga suster mengarahkan Brian untuk membaringkan pasien di atas ranjang.
"Dokter, tolong istri saya. Istri saya harus baik-baik saja. Tolong selamatkan dia dokter."
Dokter memberikan isyarat pada suster agar dia mengantar Brian keluar. Pria itu sangat ribut hingga membuat dokter tidak bisa fokus.
"Napasnya satu-satu Dok. Detak jantungnya juga melemah. Tubuhnya sangat dingin. Apa dia hipotermia?"
"Suhu tubuhnya 27,6 Dok!"
"Tutup area ini. Satu orang ganti baju pasien, hangatkan larutan salin dan segera berikan cairan infusnya. Pastikan udara di sini hangat. Yang lain bantu saya pasangkan oksigen. Jika cara ini belum berhasil menaikan suhu tubuhnya, ambil darah pasien hangatkan lalu alirkan lagi."
"Dok!"
Sorang suster menatap dokter dengan mata membulat sembari menggelengkan kepala saat meraba bagian perut bawah Byan.
"Ini tidak mungkin."
__ADS_1
To Be Continued.
Selamat pagi Guys. Pagi-pagi nya aku suguhi ketegangan dulu. 🙈🙈🙈